Artikel

“Tahun Vivero Pericoloso”

_MG_2364

Raisuljaiz

“TAHUN VIVERO PERICOLOSO”

(Sebuah Catatan Kecil)

Oleh : Raisuljaiz

(Kepala BP-Pemilu DPC PDI Kota Makassar)

Seperti Kita Ketahui dalam pidatonya menyambut Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1964, Bung Karno mengambil judul TAVIP “Tahun Vivere Pericoloso” yang antara lain mengungkapkan tiga paradigma besar yang bisa membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik maupun ekonomi. Konsep tersebut di sebut Tri Sakti.

Dalam isi pidatonya, Bung Karno mengambil judul “Tahun Vivere Pericoloso” yang antara lain mengungkapkan tiga paradigma besar yang bisa membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik maupun ekonomi. Konsep tersebut di sebut Tri Sakti.

Tri sakti yang di maksudkan Bung Karno adalah:

SATU, Berdaulat dibidang politik. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bangsa Indonesia pernah dijajah oleh bangsa asing berabad – abad lamanya. Tiga ratus lima puluh tahun dalam kolonialisme Belanda bukanlah waktu yang singkat. Pada kondisi bangsa berada dalam cengkeraman kolonialisme, maka kemerdekaan tidak dimiliki oleh bangsa kita dan pada saat yang sama tidak ada lagi kedaulatan politik karena semua sektor telah diintervensi oleh bangsa lain. Padahal sebuah bangsa memiliki hak untuk mengatur dirinya sendiri. Sehingga Bung Karno menegaskan bahwa kedaulatan politik bangsa Indonesia sudah mutlak untuk diwujudkan dengan menolak segala bentuk intervensi bangsa lain. Bung Karno menyatakan, “Nation building dan character building harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik kita.” Ketegasan sebagaimana yang ditunjukkan oleh bapak Proklamator di atas sejalan dengan konsep kemerdekaan yang dilontarkan oleh filosof terkemuka dari Jerman, Martin Heidegger, yang menyimpulkan bahwa “manusia sesungguhnya ditakdirkan untuk merdeka.”

KEDUA, Berdikari dibidang ekonomi. Bung Karno mengingatkan kita betapa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) baik di daratan maupun di laut. Akan tetapi kekayaan SDA ini belum membangkitkan ekonomi nasional dikarenakan tingkat ketergantungan terhadap pranata ekonomi asing sangat tinggi. Dengan melihat fakta ini maka Bung Karno mengemukakan bahwa penting sekali bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam mengatur perekonomian demi kesejahteraan rakyat. Ketergantungan yang tinggi terhadap ekonomi bangsa lain menurut Bung Karno tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat justru sebaliknya berpotensi menimbulkan resesi ekonomi nasional yang berkepanjangan.

KETIGA, Berkepribadian dibidang kebudayaan. Aspek budaya bagi Bung Karno sama pentingnya dengan aspek lainnya. Bangsa Indonesia harus menghormati budaya warisan nenek moyang dan menghargai nilai – nilai luhur kebudayaan di masyaraskat. Karakter dan kepribadiaan budaya Nusantara haruslah di jaga dan dilestarikan. Misalnya budaya gotong royong yang melambangkan kolektifitas sebuah komunitas yang guyub dan berbagai karya budaya yang mewarnai dunia seni. Pemerhati budaya Indonesia terkemuka dari Amerika, Profesor Benedic Anderson banyak sekali mengungkapkan kekayaan budaya Nusantara, seperti budaya Jawa yang kaya akan nilai luhur. Misalnya di katakan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai aturan yang formal. Etika dan aturan yang lahir dari keputusan formal pasti akan dilegitimasi secara kolektif oleh masyarakat. Kandungan budaya seperti ini sangat bagus dalam memperkuat demokrasi karena proses demokratisasi pada beberapa sisi mengandung etika dan nilai – nilai yang formal. Ini membuktikan keyakinan Bung Karno bahwa budaya kita adalah budaya yang luhur dan mendukung kepribadian bangsa Indonesia.

Semangat Tri Sakti di atas penting sekali untuk dicermati, karena konsep tersebut masih sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia.

Kita memiliki kemampuan untuk bisa menyejahterakan seluruh rakyat. Yang dibutuhkan adalah kepedulian bahwa kita harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada di antara kita yang serakah dan mau hidup berkelimpahan sendiri saja.

Kepedulian nasional itulah yang dirasakan kurang sekarang ini. Lunturnya semangat nasionalisme membuat kita tidak lagi merasa sebagai sebuah bangsa. Egoisme yang begitu kuat membuat kita selalu ingin menang sendiri.

Seluruh bangsa di dunia selalu menggunakan momentum hari nasional untuk membangkitkan rasa kebersamaan. Pada kesempatan itu, kita meneguhkan kembali sebagai sebuah bangsa yang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.

Selama ini kita selalu menganggap enteng peringatan hari nasional. Kita tidak pernah menggunakan momentum itu untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan membangun kepedulian nasional. Seakan-akan  kegiatan itu dianggap membuang-buang waktu dan sudah ketinggalan zaman.

Padahal karena kesibukan sehari-hari, kita sering menjadi lengah. Kita lupa bahwa kita hidup sebagai sebuah bangsa. Kita lupa bahwa ada di antara saudara kita yang tertinggal. Ketika kita melupakan mereka, maka mereka akan semakin jauh tertinggal dan akhirnya menjadi beban bagi bangsa.

Apalagi kita sedang hidup di dunia yang semakin terbuka. Persaingan di antara bangsa-bangsa di dunia tidak bisa lagi dihindarkan. Hanya mereka yang paling siap, yang akan mampu bertahan dan meraih kemajuan.

Dengan memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa terus mengikuti pendidikan, maka kita membuka peluang bagi banyak orang untuk keluar dari kemiskinan. Pendidikan telah terbukti mampu mengangkat banyak orang dari kemiskinan. Kita memiliki banyak warga yang bisa memberikan pendidikan kepada sesama. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian untuk melakukan itu sebagai bagian dari sumbangsih kita kepada bangsa dan negara.

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Most Popular

To Top