Artikel

Megawati, Honoris Causa Dan Kejeniusan Dalam Diam

(Ditulis : Anton DH Nugrahanto)

Tak ada yang lebih di hari hari ini melihat tokoh politik sebagai sebuah mozaik yang hidup selain Megawati, dalam tubuhnya sejarah bercerita tentang Indonesia. Ia lahir di tengah situasi kemelut penyerbuan pasukan Belanda ke ibukota RI di Yogyakarta, ia saksi hidup atas naik turunnya tensi politik, ia melihat Bapaknya ditembaki pada peristiwa Cikini 1957, kemudian ia dijadikan Bapaknya sebagai “Gadis Negara” sebagai simbol politik diplomasi, di saat saat kelam ia menjadi saksi penderitaan Bapaknya dikhianati banyak orang, dalam tangisan kehilangan Bapaknya di tahun 1970 Megawati menyaksikan jutaan rakyat menangis kehilangan Bung Karno-nya, kemudian ia melalui masa berat dalam kehidupan pribadinya, dan sontak membuat kaget banyak orang pada medio tahun 1980-an ia berdiri head to head melawan Suharto, seorang Ibu Rumah Tangga penyuka anggrek yang gemar memasak di dapur berhadapan dengan rezim paling kuat di Asia, Megawati adalah oposan terkuat Suharto dalam pertarungan penuh intrik selama 12 tahun (1986-1998), ia menjadi Wapres lalu menjadi Presiden RI. Terbukti Orde Baru yang menghentak hentak itu tersungkur dibawah kelembutan seorang Ibu…

Di masanya kekacauan reformasi dibenahi dengan tekun untuk mengarahkan perbaikan perbaikan struktur pemerintahan. Ia juga meletakkan landasan landasan demokrasi untuk menyongsong pemilihan langsung. Selama 10 tahun menjadi oposan berhadapan dengan rezim SBY, ia teguh memilih menjadi oposisi, ia membangun PDI Perjuangan sebagai sebuah Partai yang memiliki karakter, sebagai Partai yang diarahkan menjadi pusat kelahiran para pemimpin pemimpin di tengah rakyat. Dan terbukti di hari ini, PDI Perjuangan-lah yang memiliki jaringan politik terkuat serta produktif menghasilkan pemimpin pemimpin yang membanggakan di seluruh penjuru Republik.

Ketika dunia Internasional sedang memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018, Megawati mendapatkan anugerah Doktor Honoris Causa, dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri, sebagai buah pengakuan akademik bahwa Megawati memiliki kemampuan Kenegarawanan, utamanya soal Politik dan Pemerintahan. Hal ini sebagai simbol perempuan Indonesia yang mempunyai reputasi paling tinggi dalam bidang politik dan pemerintahan, sebuah reputasi yang bisa menjadi inspirasi kebangkitan kaum perempuan di Indonesia untuk menunjukkan kemampuannya.

Megawati adalah perempuan paling unik dalam sejarah perpolitikkan di Indonesia, ia mampu membangun Partai terkuat sepanjang sejarah Republik ini berdiri, ia juga mampu secara telaten memimpin negeri ini dengan langkah mulus tanpa gejolak. Di satu sisi ia tetap teguh menjadi penjaga “Ideologi Sukarno” tanpa jeda.

Sejarah politik Megawati dibagi dalam tiga bagian besar : Masa Belajar, Kebangkitan dan Kejayaan. Megawati tumbuh dan berkembang sebagai anak perempuan sulung Bung Karno, ia langsung belajar dari Bapaknya. Sudah menjadi kebiasaan Bung Karno selalu sarapan dengan anak-anaknya, hal yang pertama kali diajarkan oleh Bung Karno adalah “Mencintai tanah air”. Filsafat cinta tanah air dalam konteks ke-Indonesiaan merupakan salah satu prasyarat penting seseorang tumbuh menjadi Nasionalis, seseorang bergerak dan berpikir dalam kerangka Nasionalis yang kuat. Bung Karno bercerita di depan anak anaknya, bagaimana Republik ini harus dicintai, melihat Indonesia tidak sekedar “ruang hidup”, tapi Indonesia dalam sudut yang lain, dalam romantikanya, hidup dalam nalar rakyatnya yang rindu kebesaran sebuah bangsa, kerukunannya, mencintai sesuatu yang beragam, sebuah Indonesia yang dimaknai dengan perasaan amat dalam. Kelak di tahun 2013 ajaran Bung Karno soal mencintai tanah air ini, diucapkan Megawati dalam satu kalimat di acara Kick Andy : “Melihat Indonesia Raya dengan Mata Hati”. Sebuah tanah air yang bukan saja ruang materiil hidup, tapi immateriil, sentuhan batin”.

Di masa pembelajaran politik ini Megawati selalu ikut Bung Karno di acara acara penting, ia harus mengenakan pakaian nasional. Ia diajarkan disiplin menjadi “Gadis Negara” dari situlah ia memahami bahwa protokoler bukanlah sebuah intimidasi atas kebebasan menikmati waktu, justru protokoler mengajarinya untuk menjadi “manusia yang tertib”. Karakter tertib ini kemudian menjadikan Megawati sebagai pemimpin yang mampu merestrukturisasi pemerintahan dengan tertib dan disiplin di masa kepemimpinannya menjadi Presiden RI (2001-2004).

Masa masa terkelam Megawati adalah saat kejatuhan Bung Karno 1967. Ia yang terobsesi untuk menyelesaikan pendidikannya, tapi keadaan politik tidak memungkinkan. Pernah disatu saat ia memandang kampusnya Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Pertanian, dia menangis diam-diam hanya karena perbedaan pandangan politik ia tidak diperkenankan untuk terus kuliah. Namun larangan itu justru menumbuhkan kesadaran bahwa hal terbaik menjaga keyakinan agar bangsa ini besar adalah “ideologi” itulah puncak idealisme arah sebuah bangsa. Dari Unpad Megawati belajar banyak bagaimana pertanian yang membumi, petani petani Nusantara telah melahirkan ilmu pertanian luar biasa tinggi, mereka sudah mampu menyimpan benih benih terbaik padi, mereka dekat dengan alam dan hapal sekali manfaat tanaman. Dari Petani Petani Nusantara Megawati belajar banyak hal utamanya sekali ‘soal cinta lingkungan’. Megawati melihat kesatuan ‘udara, angin, tanah dan air’ adalah kesatuan yang memberikan nafas kehidupan untuk itulah kesatuan itu dijaga dengan penuh perasaan. Banyak cara mencintai Indonesia, dan Megawati memilih Lingkungan Hidup sebagai cara mencintai tanah airnya, kelak setelah ia menjadi Presiden RI salah satu cita cita terbesarnya adalah membangun Kebun Raya di seluruh Provinsi Provinsi di Indonesia.

Lingkungan istana yang awalnya dirasakan sejak lahir saat kejatuhan Bung Karno, mendadak ia masuk dalam ruang ruang kehidupan rakyat. Pernah disatu masa ia dari Madiun hendak ke Jakarta dengan berganti ganti bus, ia memperhatikan kehidupan rakyat banyak, ia perhatikan dengan baik baik rakyat ini, cara mereka bicara, cara mereka mengungkapkan keinginan dan cara mereka melihat bagaimana bangsa ini seharusnya ada, dari situasi kerakyatan inilah kemudian Megawati menemukan jalan politiknya.

Hal terberat bagi Megawati adalah kehilangan bapaknya 21 Juni 1970. Daya hidup sepertinya tersedot dalam ruang dan waktu, namun dalam kesunyian yang hampa ketika Bapaknya meninggal, ia berjanji dalam hati akan tetap menjaga mimpi-mimpi Bapaknya tentang Indonesia. Ia kerap ingat bagaimana Bapaknya melucu seraya membawa duren dan mencari tau duren yang matang dan tidak, ia ingat ketika Bapaknya belagak bisa berenang, tapi ketika akan cebur ke kolam Bapaknya hanya berlari larian di pinggir kolam dan bergaya seperti Tarzan karena baru ketahuan Bung Karno tidak bisa berenang, ia ingat guyonan guyonan Bapaknya yang selalu tertawa seperti tak ada kesedihan, ia ingat cara bapaknya tertawa dan ada gingsul yang manis, dari ingatan itulah ia mendapat ilham yang runtun tentang Indonesia Raya.

Politik bagi Megawati adalah gabungan antara keteguhan hati, suasana batin dan kesabaran. Banyak yang membully Megawati bahwa ia mendompleng nama besar Bapaknya, tapi banyak yang tak sadar bahwa Megawati adalah orang yang paling bertanggung jawab tetap melestarikan ingatan rakyat pada gambar Sukarno yang menawan itu, Megawati secara riil membawa wajah Sukarno dalam pertarungan pertarungan sesungguhnya dan sejarah. Dan Megawati pula yang tetap menghujamkan alam pikiran Bung Karno sebagai sebuah Politik Pragmatis yang tetap eksis dari jaman ke jaman.

Di tahun 1986, nama Megawati bangkit dalam keberanian rakyat untuk menggugat Orde Baru. Kebisuan-kebisuan politik sontak mendapatkan jawabannya ketika Megawati bersedia masuk ke dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia), disinilah kemudian “Politik Foto Bung Karno” dibalik tubuh Megawati menjadi kekuatan yang menakutkan bagi Orde Baru. Pada tahun 1986 kebangkitan Megawati dimulai, ia masuk ke dalam sebuah Partai yang memang direkayasa Orde Baru sejak fusi politik 1973 sebagai Partai Gurem, mendadak menjadi Partai yang memiliki nafas kuat perlawanan.

Tak ada yang lebih menarik antara tahun 1987-1993 selain berita berita politik Megawati. Seluruh media nasional menjadikan Megawati sebagai tokoh sentral pusaran politik. Seluruh gerak gerik Megawati seakan akan menjadi kode perlawanan bagi Suharto saat itu. Kondisi yang tidak nyaman bagi Suharto itu kemudian melahirkan bebarapa operasi khusus penggagalan Megawati untuk memegang tampuk kepemimpinan di PDI, dan opsus opsus Orde Baru terhadap Partai Berlambang Banteng yang kemudian menimbulkan ontran ontran paling heboh di awal dekade 90-an.

Pada Pemilu 1992, PDI yang saat itu mulai berwarna Megawati menjadi pemain penting dalam pertarungan politik jalanan. Di seluruh kota kota besar, PDI menguasai jalannya kampanye, rakyat banyak seakan sudah memiliki pegangan, bila Golkar yang didukung Pemerintah menggunakan mobilisasi massa dengan didukung logistik dan fasilitas yang berlebihan, maka PDI menjadi simbol kekuatan swadaya rakyat banyak dalam melakukan unjuk kekuatan politik. PDI bangkit menjadi simbol resmi kekuatan di luar pemerintah dan menjadi saluran saluran keluhan rakyat. Persoalan persoalan rakyat yang muncul menubuh dalam PDI, lalu saluran itu kemudian menjadi suara suara raksasa dalam corong pertarungan Pemilu.

Di Bali pertarungan itu memanas, keberanian anak anak muda Bali untuk membela PDI diingat kelak oleh sejarah sebagai pertarungan yang membanggakan karena pada akhirnya PDI di Bali menjadi entitas dominan politik. Di banyak kota dan desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur pertarungan PDI menjadi sebuah luapan kemarahan terhadap sistem yang memaksa untuk seragam. Truk truk dipenuhi teriakan anak anak muda dan motor motor dengan foto Bung Karno di stang-nya saling “bleyer” gas lalu lalang di depan gedung gedung Pemerintah. Di Kota Bandung, gadis gadis cantik mengenakan kaos bergambar Bung Karno dan menunjukkan salam Metal tiga jari “PDI di Hatiku”, di Jakarta seluruh wilayah jalan jalan mulai dari jalan protokol sampai gang gang sempit, bendera bendera PDI Banteng dan foto Bung Karno bertebaran di mana mana, dari Sabang Sampai Merauke saat itu berjajar posko posko PDI menggerakkan kekuatan rakyat di tingkat paling bawah. Dalam aroma pertarungan yang massif dan melibatkan semangat jutaan rakyat, Megawati hadir dalam ketenangan seorang Ibu dan mampu dengan wibawa politiknya mengarahkan kekuatan rakyat sebagai kekuatan yang representatif menjadi suara tuntutan kebebasan dalam berpolitik berhadapan dengan rezim Orde Baru, seakan akan saat itu Orde Baru diminta pertanggungjawaban oleh suara langit Bung Karno yang mewujud dalam kumpulan kumpulan pergerakan rakyat berkaos lambang PDI.

Kekuatan Megawati menjadi realitas politik paling dominan dalam berbagai laporan laporan intelijen Orde Baru, sehingga pada tahun 1993 jelang pergantian kepemimpinan di tubuh PDI, maka operasi penghalangan Megawati menjadi Ketua Umum PDI dihalangi lewat berbagai operasi senyap pemerintah.

Bila kebangkitan Bung Karno dimulai di Kota Bandung pada tahun 1920-an, maka kebangkitan Megawati ada di Kota Surabaya, tepatnya di Wisma Haji Sukolilo pada 2 Desember sampai 6 Desember 1993, menjadi bukti sejarah betapa jeniusnya Megawati berpolitik di tengah kuat-kuatnya rezim militer Suharto. Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya itu pada awalnya adalah suatu gerakan intelijen politik Orde Baru untuk merekayasa penggantian kepemimpinan PDI dimana Drs Soerjadi yang dikenal dekat dengan Benny Moerdani mulai disingkirkan, karena Soeharto di tahun 1993 berseberangan dengan Benny Moerdani dalam pertarungan diam-diam setelah Sudharmono diangkat menjadi Wapres di tahun 1988. Pemerintah saat itu menyodorkan nama Budi Hardjono, namun sebelum kongres luar biasa sudah ada gerakan bawah tanah di tingkat akar rumput PDI bahwa mereka menginginkan Megawati untuk menjadi Ketua Umum PDI.

Karena semua cabang PDI memilih Megawati dalam pandangan umum mereka, maka oleh “kekuatan yang tak kelihatan” Kongres diarahkan rusuh, suasana dibuat tegang maka bila Kongres jadi rusuh maka segala keputusannya dianggap ‘cacat hukum’. Megawati sadar bahwa ini permainan politik tingkat tinggi yang harus dihadapkan dengan kesabaran. Saat itu jam demi jam sangat berharga, ketika kongres dianggap ricuh maka datanglah Panser tentara untuk menjemput Megawati dengan alasan keamanan. Megawati keluar ruangan dan menghampiri perwira yang turun dari Panser, lalu membuat kaget banyak orang “Saya tetap disini, laporkan kepada atasan saudara”. Politik ulur-ulur waktu yang dimainkan oleh operasi intelijen pemerintah di dalam kongres PDI Surabaya digagalkan oleh Megawati dengan sangat mengejutkan, pada tepat jam 00.00 WIB saat pergantian waktu, Megawati berdiri di depan podium dan mengumumkan dirinyalah sebagai Ketua Umum De Facto, karena seluruh cabang memilih dirinya, masalah de jure diselesaikan dengan baik lewat prosedur Munas (Musyawarah Nasional). Keputusan politik Megawati inilah yang kemudian menyentak seluruh politisi di Indonesia, dan mereka baru sadar ada kekuatan besar diluar Suharto telah bangkit.

Sejurus perjalanan waktu, Megawati mengalami banyak gejolak politik. Namun ia selesaikan dengan diam. Kenapa politik diam ini dimainkan oleh Megawati. Karena Megawati tahu bahwa “Politik Suharto” harus dilawan dengan kekuatan diam, bukan kekuatah kegaduhan, bila kegaduhan yang dilakukan maka Suharto adalah ahlinya membantai kegaduhan itu dengan senjata.

Ketika PDI Pro Mega dihancurkan lewat berbagai operasi operasi politik dan puncaknya adalah penyerangan ke markas PDI di Diponegoro pada tahun 1996 yang lebih dikenal sebagai “Kudatuli” Megawati sekali lagi menunjukkan keberaniannya sebagai petarung. Dengan satu kalimat paling terkenal di masanya “Bendera sudah saya kibarkan” menjadi sebuah sinyal perlawanan untuk bertahan dari hinaan hinaan kekuasaan pemerintah Orde Baru yang bermain tidak fair dalam berpolitik dan berdemokrasi.

Arti penting Megawati di tahun 1993 kemudian berlanjut pada serbuan brutal ke markas PDI di Jalan Diponegoro adalah “mulai munculnya berbagai kekuatan intelektual dan organisasi massa mulai mengeritik Pemerintah yang membungkam kekuatan di luar dirinya”, inilah puncak prestasi politik Megawati dalam sejarah Indonesia, ia adalah tokoh perempuan paling inspiratif saat kebangkitan politik melawan Orde Baru salah satu rezim militer terkuat di Asia.

Di tahun 1997, PDI Pro Mega dibungkam dan PDI Pro Soerjadi yang diarahkan ikut Pemilu. Ketika Megawati memutuskan Golput, sejarah menjadi saksi inilah Pemilu paling sepi sepanjang sejarah. Jutaan massa Sukarnois setia dibelakang Mega.

Setelah kejatuhan Suharto di tahun 1998, dan berlangsunglah Pemilu 1999 Partai besutan Megawati yang saat itu ditambah dengan kata kata “Perjuangan”, memperoleh angka amat besar yaitu 33%. Sekali lagi kekuatan Megawati sudah menjadi bukti nyata di lapangan lapangan politik.
Megawati naik menjadi Presiden RI setelah MPR mencabut mandat Gus Dur dari jabatan Presiden RI pada tahun 2001. Perenungan dalam dalam yang dilakukan Presiden Megawati adalah “melakukan stabilitas negara” sesegera mungkin. Kegaduhan kegaduhan diarahkan pada kehidupan bernegara yang tertib.

Selain kesabaran, Megawati memiliki insting tajam yaitu : ketekunan dan kemampuan yang tinggi dalam membaca keadaan secara jernih. Bila ia sudah memutuskan sesuatu maka itu merupakan hasil dari perenungan yang dalam. Ia mengangkat kabinetnya dari kalangan-kalangan profesional, dicari orang orang terbaik di masanya saat itu, dan menyebutnya sebagai “The Dream Team”, selama masa pemerintahan Megawati tidak terjadi Reshuffle sama sekali karena memang stabilitas pemerintahan dan tujuan tujuan besar harus dimulai dari pemilihan orang orang yang tepat.

Ada kontemplasi yang mendalam dari dalam diri Megawati mengenai bangsa Indonesia pasca Reformasi. Pertama, soal penyelesaian persoalan dengan IMF ini harus dicari akar-akar problematikanya dan dicari orang yang tepat dan paham membangun agenda kerja besar untuk menyelesaikan urusan dengan IMF, untuk itu ia menunjuk Dorodjatun Kuntjorodjakti sebagai Menko Perekonomian. Kedua, menyelesaikan persoalan besar desentralisasi wilayah dan otonomi wilayah sesuai dengan amanat reformasi 1998. Desentralisasi ada saat itu karena melawan kondisi sentralisasi dimasa Suharto dimana semua kendali dilakukan pusat sehingga tidak ada daya sensitivitas pengambil keputusan terhadap daerah, dan ketiga adalah persoalan pemulihan ekonomi yang berantakan akibat krisis ekonomi dan politik sepanjang 1997-2001. Dalam persoalan ini Megawati mengarahkan pada perbaikan ekonomi Indonesia sehingga bisa kembali diterima oleh Pasar, dan memulihkan akses akses ekonomi Indonesia ke Pasar Uang dan Pasar Modal sehingga posisi Indonesia bisa dipercaya kembali dalam konstelasi ekonomi global. Dari ketiga ini Megawati akan membuat dasar dasar fundamental tatanan pemerintahan yang stabil dimana dengan adanya pemerintahan yang stabil, Indonesia bisa diantarkan ke dalam Demokrasi yang mantap dan tujuan besar dari semua itu adalah menciptakan Pemilu 2004 sebagai landasan dasar sirkulasi kekuasaan secara konstitusional, demokratis dan bersikap terbuka.

Inilah target target Megawati dalam pemerintahannya. Megawati memilih orang orang yang tepat dan berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan target yang ia susun. Untuk mencapai target tersebut, Megawati memulainya justru dari peran Sekretaris Negara. Dirasakan sebelum masa Megawati menjadi Presiden, ketertiban administrasi dan alur distribusi delegasi kekuasaan untuk menjalankan kebijakan agak rancu, disinilah kemudian Megawati menertibkan semua lewat tatanan administrasi. Di masa Megawati seluruh arus informasi masuk dalam satu pintu ke Bambang Kesowo, Mensesneg sehingga semua arus informasi tidak berkembang menjadi isu liar, kasak kusuk diseputaran ring satu Istana, dan tidak ada lagi kekacauan serta saling curiga mencurigai, semua teratur dan tertib.

Tatanan administrasi dan alur koordinasi kerja penguatan staf Presiden yang bisa menjadi tolok ukur keberhasilan Megawati paling tinggi dalam pemerintahan. Ada tiga hal keunggulan penataan pemerintahan di masa Megawati yang jadi patokan pemerintahan sesudahnya : Pertama, Ketertiban dalam administrasi pemerintahan, Stabilitas posisi penempatan anggota kabinet dan peran Sekneg yang kuat juga menjadi satu pintu ke arah Presiden. Saluran satu pintu ini merupakan koreksi bagi Megawati untuk menertibkan masukan masukan informasi, data dan pengaruh kebijakan sehingga bisa dijalankan dengan tepat.

Demokratisasi, Desentralisasi dan Penataan Pemerintahan berhasil dijalankan dengan baik sesuai target dimana target itu adalah pada jelang Pemilu 2004, sehingga Megawati bisa menciptakan kondisi yang kondusif menjelang pelaksanaan Pemilu 2004, karena Pemilu dijadikan landasan keberhasilan reformasi menciptakan masyarakat yang demokratis dan terbuka.

Keberhasilan ini digambarkan oleh Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjorodjakti : “Presiden Megawati memerintahkan agar Dunia Usaha dari AS, Jepang, negara-negara Eropah, terus-menerus diyakinkan bahwa Indonesia tetap teguh kepada jadwal Reformasi, yang disertai Demokratisasi dan Desentralisasi. Hampir setiap hari “press release” disebar di Indonesia dan ke luar negeri – dalam bahasa Inggris dan bahasa Prancis.

Pertemuan-pertemuan dilakukan dengan KADIN, kamar dagang AS, Australia, dan Jepang, dan lain sebagainya untuk menghimbau mereka bergiat kembali. Dengan susah payah, di tengah-tengah keterbatasan APBN dan akses yang tertutup ke pasar uang dan pasar modal global, proyek-proyek
PLN, PU, Departemen Perhubungan, Departemen Pertanian, dan lain sebagainya dimulai kembali. Presiden mengingatkan Menko Perekonomian: listrik tidak boleh kekurangan menuju ke Pemilu 2004, keadaan ekonomi makro musti bebas dari inflasi, kurs mulai stabil, pangan harus surplus, sambil terus mengupayakan agar peringkat tambah baik. “Tanpa air tidak ada peradaban manusia, tanpa listrik tidak ada peradaban modern” ucap Megawati kepada Dorodjatun begitulah Dorodjatun mengenang capaian Megawati sebagai Presiden RI.

Dorodjatun Kuntjorodjakti adalah kunci dari strategi besar Megawati meletakkan dasar dasar pengembangan ekonomi Indonesia di tengah kancah global, dasar dasar strategi ini kemudian bisa dengan cepat memulihkan Indonesia yang pada awalnya pingsan dan jadi pasien IMF kemudian bisa lepas dari IMF. Dorodjatun saat itu dibantu Budiono yang sangat lihai menata kembali kondisi moneter Indonesia sehingga bisa diterima oleh Pasar Uang Dunia dan Pasar Modal Dunia. Jelang Pemilu 2004 Megawati sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan baik, termasuk penyelesaian infrastruktur berupa beberapa jalan tol dan jembatan yang oleh Megawati akan dilakukan terusannya pada masa setelah Pemilu 2004, seperti Jalan Tol Cipularang saat itu dijadikan tonggak untuk mempercepat pembangunan infrastruktur besar sesudahnya.

Setelah tidak lagi menjabat Presiden RI, Megawati konsentrasi kembali kepada penataan Partai sebagai kekuatan politik yang bisa menghasilkan kepemimpinan di seluruh wilayah. Memang ada gejolak setelah tahun 2004 di internal Partai, tapi Megawati kuat memegang kendali kekuasaan untuk mempersatukan seluruh kader Partai dan tetap menjaga suara pemilih PDIP di seluruh penjuru Republik. Kemampuannya memegang kendali kekuasaan inilah yang kemudian menjadikan PDIP menjadi Partai terkuat saat ini.

Disamping itu Megawati berdiri sebagai oposisi secara konsisten, tidak masuk ke dalam sistem Pemerintahan lawan politiknya SBY yang saat itu memegang kendali kekuasaan. Hal ini dilakukan agar sirkulasi kekuasaan berlangsung sehat, ada oposisi yang siap take over pemerintahan dengan mengeritik secara fair, terhormat dan memiliki konten kritikan yang bermutu berbasis data yang valid.

Pada sikap oposisi inilah Megawati melakukan pendidikan politik pada rakyat bagaimana melakukan kritikan tapi disertai landasan etika yang tinggi. Sebagai oposisi tidak boleh menyebarkan hoax, kebohongan kebohongan berita, tidak boleh melakukan diskusi diskusi publik berkonten rendahan. Megawati justru mengarahkan seluruh kritik berbasis data valid dan diskusi publik harus diarahkan dengan konten yang memiliki kontemplasi terhadap pencerdasan publik.

Sumbangan yang besar terhadap Republik Indonesia ini, bagi Megawati kerap diberikan dalam jalur senyap, sehingga tak ada lagi pencitraan yang harus ditayangkan di depan televisi atau koran koran saat itu. Sementara rakyat Indonesia di masa lalu masih senang dengan sinetron, masih senang dengan tontonan yang mengurai air mata. Masyarakat tontonan ini tidak mementingkan fakta dan substansi tapi lebih pada kesan dan pencitraan. Jelas disini Megawati tidak begitu mendapatkan popularitasnya ketika hidup dalam suasana masyarakat penuh adegan sinetron, tapi fakta kerja sudah masuk dalam rekaman sejarah negara, dan secara ilmiah ini dihargai oleh gelar Honoris Causa, terlalu banyak yang diberikan Megawati dalam perjalanan hidupnya untuk Indonesia Raya.

Seluruh perjalanan hidup Megawati sama seperti perjalanan negeri ini, tapi hidupnya tidak dimengerti oleh banyak orang, ia terus berjalan dengan nilai-nilainya kadang ketidakmengertian terhadap Megawati menjadi cemooh cemooh yang brutal, namun semua menjadi terdiam ketika Megawati memberikan kesabarannya, membiarkan agar waktu membuktikan, “Time Will Tell” karena inilah filosofi “Satyam Eva Jayate” pada akhirnya kebenaranlah yang menang……….

Jakarta, 12 Maret 2017

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Most Popular

To Top