Artikel

Kilau Emas Jamaah Haji Bugis-Makassar, Antara Tradisi, Identitas, dan Makna Kesederhanaan

Kilau Emas Jamaah Haji Bugis-Makassar, Antara Tradisi, Identitas, dan Makna Kesederhanaan

Oleh : Raisuljaiz

Sekretaris DPD Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) Prov. Sulsel

Supermakss.com – Setiap musim haji, ada satu pemandangan yang hampir selalu menarik perhatian publik di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Sejumlah jamaah yang baru tiba dari Tanah Suci tampak mengenakan busana terbaik, lengkap dengan berbagai perhiasan emas yang menghiasi leher, tangan, maupun telinga. Fenomena ini kerap menjadi perbincangan, bahkan tak jarang memicu perdebatan di ruang publik.

Bagi sebagian masyarakat, penampilan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kepulangan dari ibadah haji dipandang sebagai momen istimewa yang patut disyukuri dan dirayakan bersama keluarga serta kerabat. Mengenakan pakaian terbaik dan perhiasan dianggap sebagai simbol kebahagiaan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kesempatan menunaikan rukun Islam kelima.

Dalam kultur Bugis-Makassar, perhiasan emas juga memiliki makna sosial dan budaya yang cukup kuat. Emas bukan semata-mata lambang kemewahan, tetapi sering kali menjadi simbol kehormatan, keberhasilan, dan warisan keluarga. Karena itu, tidak sedikit jamaah yang memilih tampil dengan perhiasan saat pulang haji sebagai bagian dari identitas budaya yang mereka bawa.

Namun di sisi lain, muncul pula pandangan yang mempertanyakan relevansi tradisi tersebut dengan nilai-nilai spiritual haji. Ibadah haji mengajarkan kesederhanaan, kesetaraan, dan kerendahan hati. Ketika seluruh jamaah mengenakan ihram yang sama di Tanah Suci, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa.Pesan inilah yang menurut sebagian kalangan seharusnya menjadi bekal utama setelah kembali ke tanah air.

Karena itu, fenomena jamaah haji Bugis-Makassar yang bersolek dan mengenakan perhiasan emas sesungguhnya tidak perlu dipandang secara hitam putih. Di satu sisi terdapat nilai budaya yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di sisi lain, terdapat pesan spiritual yang mengingatkan pentingnya menjaga kesederhanaan dalam kehidupan.

Pada akhirnya, yang menjadi ukuran bukanlah banyaknya emas yang dikenakan atau mewahnya pakaian saat turun dari pesawat. Esensi haji terletak pada perubahan sikap, peningkatan ketakwaan, kepedulian sosial, serta kemampuan menjadi teladan di tengah masyarakat. Sebab kemabruran haji tidak diukur dari penampilan yang tampak di mata manusia,melainkan dari kualitas ibadah dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Warkop Dg. Anas Makassar, 09/06/26

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

To Top