<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel &#8211; SUPERMAKSS.com</title>
	<atom:link href="https://supermakss.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supermakss.com</link>
	<description>Suara Perjuangan Makassar</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 11:11:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://supermakss.com/wp-content/uploads/2020/10/LOGO-SUPERMAKSS-TEM-1-80x80.png</url>
	<title>Artikel &#8211; SUPERMAKSS.com</title>
	<link>https://supermakss.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">124381217</site>	<item>
		<title>Refleksi Makna Merdeka; Membincang Gurita Tentakel Global di antara Optimisme dan Ancamannya</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/08/18/refleksi-makna-merdeka-membincang-gurita-tentakel-global-di-antara-optimisme-dan-ancamannya/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/08/18/refleksi-makna-merdeka-membincang-gurita-tentakel-global-di-antara-optimisme-dan-ancamannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 11:11:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=10157</guid>

					<description><![CDATA[Refleksi Makna Merdeka; Membincang Gurita Tentakel Global di antara Optimisme dan Ancamannya Oleh: Fajar Ahmad Huseini Ketua DPD Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulawesi Selatan Teringat sebuah memori di masa pemerintahan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), saat wartawan salah satu media nasional bertanya ke beliau. Yang kira-kira kurang lebih seperti ini muatan pertanyaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Refleksi Makna Merdeka; Membincang Gurita Tentakel Global di antara Optimisme dan Ancamannya</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <strong>Fajar Ahmad Huseini</strong></p>
<p style="text-align: center;">Ketua DPD Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulawesi Selatan</p>
<p>Teringat sebuah memori di masa pemerintahan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), saat wartawan salah satu media nasional bertanya ke beliau. Yang kira-kira kurang lebih seperti ini muatan pertanyaan dan jawabanya, kenapa Gus Dur terlalu sering melancong ke luar negeri untuk kunjungan resmi ke beberapa negara, sementara kondisi domestik dalam negeri kita sendiri begitu banyaknya deretan persoalan terjadi yang harus diselesaikan?. Dengan santainya khas Gus Dur menjawab bahwa, &#8220;justru karena persoalan kompleks yang terjadi di dalam negeri, itu adalah impact (dampak) dari muara penyebabnya yang berada di luar negeri, makanya kenapa saya harus intens kunjungan resmi ke beberapa negara untuk upaya penyelesaiannya, ungkap Gus Dur.</p>
<p>Jawaban seorang Gus Dur memang sekilas terdengar simpel dan sederhana saja, tapi sungguhnya justru di situlah letak akar dan alur persoalan dan tantangan yang paling serius dalam proses perjalanan bangsa kita kemarin, hari ini, dan ke depannya. Realita eskalasi globalisasi tidak pernah ramah dan aman, karena motif kolonialisme dan imperialisme masih saja menjadi pusaran problem kronis yang terus saja berdenyut dalam setiap nafas ketegangannya.</p>
<p>Menatap realitas globalisasi tentunya bukan hal sederhana sehubungan dengan berbagai kompleksitas ancamannya, yang kemudian meniscayakan betapa pentingnya kesadaran akan ketahanan struktur fondasi dan strategi adaptasi, untuk menentukan sikap (baca: berdasarkan prinsip asas konstitusional atas kebijakan luar negeri RI) dalam berbagai konteks kepentingannya pada kerangka pertimbangan mitigasi kedaulatan kita sebagai bangsa, sebelum meletakkan setiap harapan.</p>
<p>Sebagaimana beban sejarah kelam ratusan tahun akibat malapetaka penjajahan, mestinya bangsa Indonesia sudah lebih dari cukup agar bisa terbentuknya konsistensi ketegasan sikap &#8220;kesadaran prinsipilnya&#8221; dalam menentukan arah dari setiap kebijakan pemerintah kita.</p>
<p>Bebas aktif sebagai prinsip mendasar kebijakan luar negeri kita, hingga hari ini kenyataannya hanya menjadi slogan tanpa ruh dan makna sama sekali. Ini terungkap dengan jelas pada ruang publik, misalnya salah satunya bagaimana kita saksikan bersama, setiap keputusan kerjasama soal investasi negara asing dalam mengelola kekayaaan sumber daya alam kita yang sangat luar bisa besar nilainya menguap begitu saja. Tanpa pernah bisa dinikmati manfaatnya oleh masyarakat Indonesia secara berkeadilan, terkhusus daerah yang memiliki sumber daya alam tersebut.</p>
<p>Artinya, kebijakan otoritas kuasa selalu saja berjalan pada &#8216;ruang-ruang gelap&#8217; kesepakatan ketika mengelola kerjasama kekayaan sumber daya alam ibu pertiwi antara pemerintah dengan pihak asing. Dan pastinya kewajiban menjalankan asas konstitusional &#8211; transparansi selalu saja dikunci rapat, tanpa ada sama sekali terbukanya ruang komunikasi dialogis dua arah dalam pelibatan partisipasi publik.</p>
<p>Fakta sejarah ini terjadi sejak awal pemerintahan rezim Orde Baru, yang hanya berselang hitungan bulan saja setelah Presiden pertama kita Ir. Soekarno digulingkan, seketika itu juga kekayaan perut bumi Papua langsung dieksploitasi yang &#8220;diserahkan penuh secara irasional&#8221; kepada pihak pemerintah Amerika. Roda ketidakadilan akhirnya terus saja bergulir hingga hari ini dan penulis tanpa ragu harus mengatakan bahwa, rakyat Indonesia selama ini hanya berdelusi tentang arti kemerdekaan.</p>
<p>Wajah ketidakadilan dari berbagai investigasi penelitiannya sehubungan pembacaan perjalanan sejarah sosio-ekonomi kita, walaupun telah direspon dengan berbagai upaya koreksi atau kritik yang diperjuangkan para ekonom dan akademisi, tapi hingga saat ini tetap saja belum bisa memberikan keadilan yang diharapkan. Pertanyaannya, entah sampai kapan rakyat Indonesia harus menyaksikan kegetiran pentas ironi yang menimpa negerinya?. Berulang kali Pasal 33 UUD 1945 telah &#8220;diludahi&#8221; oleh kekuasaan.</p>
<p>Kedaulatan yang rapuh</p>
<p>&#8220;Negara yang gagal menegakkan keadilan, bukanlah sebuah negara melainkan sekedar sekumpulan perampok yang terorganisir&#8221;. (Socrates).</p>
<p>Keserakahan suatu rezim yang buta empati keadilan dan kemanusiaannya niscaya menjadi penyebab utama rapuhnya eksistensi kedaulatan sebuah bangsa, karena faktor tersebut yang begitu cepat akan menggerogoti akar ketahanannya.</p>
<p>Spirit nasionalisme sebagai pijakan fondasi sangat ditentukan pada sejauh mana seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan tingkat kesejahteraan dan keadilannya sebagaimana penyelenggaraan pemerintahan harus itu bekerja. Pada titik ini capaian keadilan sosial politik-ekonomi kita adalah indikator yang menjadi timbangannya, tanpa upaya keberpihakan political will terhadap strategi pembangunan negara akan pertimbangan serius pada faktor tersebut, jangan pernah bermimpi untuk bisa menjaga stabilitas nafas parsatuan dalam kerangka nasionalisme, yang telah diamanahkan sebagai warisan hasil pengorbanan dan perjuangan luar biasa dari para pendiri republik ini.</p>
<p>Fakta-fakta masalah serius terkonfirmasi bagaimana gejolak Provinsi Aceh baru-baru ini di pemberitaan media mainstream dan juga viral pada media sosial, ketika bendera merah putih diturunkan dan digantikan dengan bendera bulan bintang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), serta di Kalimantan muncul sentimennya perlawanan ketidakadilan pembangunan maka berkibarlah bendera Borneo Raya. Sementara pada wilayah Timur Indonesia tepatnya di Maluku Utara juga terjadi peristiwa sentimen yang sama dan terlihat kasat mata, sehingga pihak Sultan Ternate dan Tidore telah beberapa kali mengungkapkan rasa kekecewaannya secara terbuka di ruang publik Indonesia.</p>
<p>Konteks ini sangat berkaitan akibat ketidakadilan yang sangat dirasakan sudah mencapai ambang batasnya, misalnya salah satu penyebabnya adalah problem besar buntunya arah reformasi agraria berkeadilan, yang hanya sekedar menjadi slogan basa basi. Dan persoalan yang telah berlarut-larut soal Gerakan Papua Merdeka (OPM).</p>
<p>Poin substansi penekannya adalah kekuasaan jangan pernah abai, apalagi menganggap sepele menyaksikan deretan fakta-fakta persoalan belakangan ini, karena taruhannya akan dibayar dengan resiko yang sangat fatal yakni ancaman disintegrasi bangsa!.</p>
<p>Inkonsistensi konstitusional akibat cacat logika</p>
<p>Uraian bersifat fenomenologis pada paparan tulisan sederhana ini, dalam membaca benang merahnya dari awal paragraf adalah soal &#8216;arah kebijakan dan keberpihakannya&#8217;, yang akan sangat ditentukan oleh kerjasama pemerintah kita dengan pihak &#8220;negara mana dan aliansinya&#8221; ketika kesepakatan kerjasama politik-ekonomi luar negeri itu dijalankan.</p>
<p>Sebagai landasan salah satu referensi teraktual seputar diskursus pendalaman tema ini, mengutip garis besar ringkasan analisa pembacaan Samir Amin, salah seorang ahli ekonomi dan pengamat globalisasi (ilmuwan politik), yang berlatar belakang pemikir Marxisme terkemuka asal Mesir-Prancis, yang dikenal luas sebagai pelopor konsep teori ketergantungan (dependency theory).</p>
<p>Samir, &#8220;Gurita tentakel sistem kapitalisme tidak bekerja secara parsial; ia sesungguhnya hadir sebagai rezim finansial dan Rantai Pasok Global yang sitematis melintasi batas negara. Mengurung arah perjuangan hanya di tingkat lokal—tanpa terhubung dengan jaring perlawanan lintas negara—menciptakan ketimpangan skala yang sangat tidak berimbang antara resiko ancaman yang dihadapi dan strategi yang digunakan.</p>
<p>Harapan &#8220;Dunia yang Hendak Kita Wujudkan,&#8221; Samir Amin menekankan bahwa karena hegemoni eksploitasi beroperasi di tingkat imperialis global, maka solidaritas tidak boleh berhenti di batas teritorial negara atau kawasan. Bagaimana setiap langkah perjuangan di tapak tetap menjadi fondasi, namun ia wajib ditautkan ke dalam simpul koneksi internasionalisme agar mampu menginterupsi dan menghentikan alur akumulasi hegemoni modal transnasional.</p>
<p>Secara umum analisa Samir Amin bukanlah hal yang baru, sejatinya hampir menjelang satu abad lalu alur dan muatan eskalasi global dari berbagai resiko ancamannya sangat dipahami oleh para tokoh pendiri bangsa, itu terekam dan bisa dilihat pada karya tulis yang dirangkum pada buku-buku mereka seperti, karya Sang Proklamator Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir dan para pemuda-pemudi pejuang revolusioner lainnya pada masa itu.</p>
<p>Terbukti dalam catatan sejarah dunia pada saat Bung Karno mencetuskan gagasannya dan melaksanakan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada Tahun 1955 silam di Bandung. Yang melahirkan konsensus kolosal yang sangat strategis untuk tujuan cita-cita keadilan eskalasi global dengan merekomendasikan rumusan Dasasila Bandung.</p>
<p>Sayang seribu sayang, baru-baru ini sikap resmi pemerintah Indonesia telah menentukan pilihan untuk bergabung dengan Board of Peace (BOP) versi Donald Trump. Sebagaimana telah diketahui bersama dalam keanggotaan resminya ada Benjamin Netanyahu, padahal Perdana Menteri Israel itu telah dijatuhkan vonis resmi, karena telah terbukti melakukan kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) oleh Mahkamah Peradilan Internasional. Sebagaimana pernah ditegaskan salah seorang aktivis HAM dan peneliti senior Bung Al Araf di beberapa media TV nasional, yang menyatakan, &#8220;bagaimana mungkin pemerintah kita bisa duduk bersama satu meja dengan penjahat perang untuk membicarakan solusi perdamaian dan keadilan dunia?.&#8221;</p>
<p>Tanpa perlu panjang lebar menguraikan hal ini lebih jauh lagi bahwa, kita semua pastinya bisa menilai dengan mudah keputusan kebijakan pemerintah Indonesia menjadi anggota BOP tersebut adalah bentuk inkonsistensi dan cacat logika terhadap makna cita-cita dan harapan spirit Pancasila, UUD 1945, dan ruh Dasasila Bandung, sebagaimana harapan dan kewajiban pengejawantahan sikap niliai-nilai luhur Pancasila itu sendiri pada cakupan lebih luas &#8211; hubungan internasional.</p>
<p>Makassar, 17 Agustus 2026</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/08/18/refleksi-makna-merdeka-membincang-gurita-tentakel-global-di-antara-optimisme-dan-ancamannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">10157</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penertiban PKL di Kota Makassar dan Paradoks Keadilan Penegakan Perda</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/06/25/penertiban-pkl-di-kota-makassar-dan-paradoks-keadilan-penegakan-perda/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/06/25/penertiban-pkl-di-kota-makassar-dan-paradoks-keadilan-penegakan-perda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 19:56:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=10021</guid>

					<description><![CDATA[Penertiban PKL di Kota Makassar dan Paradoks Keadilan Penegakan Perda Oleh : dr. Udin Shaputra Malik Penertiban pedagang kaki lima (PKL) berlangsung di berbagai penjuru Kota Makassar. Dasar hukumnya adalah Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 7 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum, Ketenteraman, dan Perlindungan Masyarakat, khususnya Pasal 24 huruf a. Tujuan penertiban tersebut, yakni mewujudkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Penertiban PKL di Kota Makassar dan Paradoks Keadilan Penegakan Perda</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : dr. Udin Shaputra Malik</p>
<p>Penertiban pedagang kaki lima (PKL) berlangsung di berbagai penjuru Kota Makassar. Dasar hukumnya adalah Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 7 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum, Ketenteraman, dan Perlindungan Masyarakat, khususnya Pasal 24 huruf a. Tujuan penertiban tersebut, yakni mewujudkan kota yang rapi, bersih, tidak kumuh, tidak menimbulkan kemacetan, serta mengembalikan hak pengguna jalan, tentu merupakan tujuan yang sulit untuk ditolak.</p>
<p>Namun demikian, penegakan peraturan tersebut dinilai dilakukan dengan pendekatan yang kurang tepat dan pada momentum yang kurang kondusif.</p>
<p>Selain Perda Kota Makassar Nomor 7 Tahun 2021, pemerintah kota juga menjadikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 41 Tahun 2012 tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima sebagai dasar kebijakan penertiban. Regulasi tersebut tidak hanya mengatur penataan, tetapi juga pembinaan dan pemberdayaan PKL. Akan tetapi, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Klaim bahwa penertiban telah dilakukan secara humanis tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan amanat peraturan tersebut, yang menegaskan bahwa sebelum dilakukan penataan, PKL harus didata dan ditingkatkan kapasitas usahanya.</p>
<p>Substansi pendataan bukan sekadar pencatatan administratif, melainkan upaya pemerintah untuk mengumpulkan informasi yang dapat dijadikan dasar penyusunan program pembinaan yang berkelanjutan. Sayangnya, tahapan ini tampaknya belum dilaksanakan secara optimal.</p>
<p>Contohnya dapat dilihat pada penertiban PKL di depan GOR Sudiang. Para pedagang tidak memperoleh pendataan mengenai potensi usaha mereka, kemudian diarahkan ke lokasi relokasi yang relatif sepi dan memiliki berbagai kendala. Akibatnya, sebagian pedagang kehilangan mata pencaharian sebelum sempat merasakan manfaat dari lokasi baru yang dijanjikan.</p>
<p>Akademisi sekaligus praktisi ruang kuliner, Andi Caesar, menyebutkan bahwa terdapat empat pilar keberhasilan relokasi usaha, yakni: pertama, strategi anchor tenant sebagai magnet pengunjung; kedua, kurasi dan diferensiasi tenant; ketiga, konsep tempat yang layak, estetik, dan mampu menjadi ruang ketiga bagi interaksi sosial; serta keempat, digitalisasi ekosistem usaha dan insentif akses logistik.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah program penataan PKL di Makassar telah dirancang berdasarkan prinsip-prinsip tersebut? Apakah telah dilakukan studi kelayakan berbasis data dan kajian ilmiah yang komprehensif dengan melibatkan seluruh unsur pembina UMKM? Ataukah kebijakan ini lebih merupakan upaya membersihkan wajah kota dari keberadaan PKL yang kerap dipandang sebagai persoalan semata?</p>
<p>Belum optimalnya pemenuhan pilar-pilar tersebut terlihat dari minimnya koordinasi lintas sektor dan terbatasnya peran Dinas Koperasi dan UMKM, Makassar Creative Hub, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan solusi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal ini juga tercermin dari belum terlihatnya dukungan program yang direncanakan secara matang melalui mekanisme penganggaran dan pembahasan bersama antara legislatif dan eksekutif.</p>
<p>Padahal, dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Makassar disebutkan bahwa untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat, pemerintah kota menargetkan pengembangan sentra pedagang dan jaringan distribusi, pembentukan gerai UMKM di 153 kelurahan, optimalisasi gudang logistik, penataan 10 titik akses PKL, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah Tempat Pembuangan Akhir (TPA).</p>
<p>Pertanyaan berikutnya adalah, di manakah sepuluh titik akses PKL tersebut? Apakah penataan yang dilakukan benar-benar memberikan ruang tumbuh yang lebih baik bagi para pedagang, atau justru berpotensi mematikan usaha mereka secara perlahan?</p>
<p>Keberadaan PKL di atas fasilitas umum seperti trotoar dan drainase memang menimbulkan dampak negatif. Di beberapa lokasi, seperti Tamalate, depan SMKN 4, dan Jalan Serigala, ditemukan pendangkalan bahkan penyumbatan drainase akibat bangunan semi permanen yang berdiri di atasnya. Akan tetapi, logika sebab-akibat ini seharusnya juga diterapkan pada bangunan rumah tinggal, kantor, maupun tempat usaha lain yang membangun lantai beton di atas drainase tanpa menyediakan lubang inspeksi (manhole) yang memadai. Dengan demikian, persoalan drainase tidak semata-mata dibebankan kepada PKL.</p>
<p>Penertiban yang tidak disertai solusi juga berpotensi memicu gesekan horizontal di masyarakat. Bukan hanya PKL yang menggunakan ruang publik, tetapi juga toko-toko yang memasang papan reklame melebihi batas lahannya, menaruh barang dagangan di trotoar, memarkir kendaraan di badan jalan, hingga bengkel yang menggunakan fasilitas umum untuk aktivitas usahanya.</p>
<p>Apabila penertiban tidak dilakukan secara menyeluruh dan tanpa tebang pilih, kecemburuan sosial dapat muncul. Pada akhirnya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan membentuk persepsi bahwa penegakan aturan belum dilakukan secara adil.</p>
<p>Maraknya penertiban PKL juga memunculkan pertanyaan, apakah pemerintah kota hanya tegas terhadap kelompok ekonomi kecil? Pelanggaran terhadap Perda Nomor 7 Tahun 2021 tidak hanya dilakukan oleh PKL. Misalnya, terdapat pusat perbelanjaan besar di Jalan Ratulangi yang memanfaatkan area di atas drainase sebagai lahan parkir kendaraan roda dua berbayar, disertai keberadaan pedagang dan parkir liar yang menggunakan badan jalan. Hingga kini, belum terlihat adanya tindakan tegas yang dilakukan pemerintah kota terhadap kondisi tersebut.</p>
<p>Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Jalan Sulawesi dan Jalan Topaz, di mana fasilitas umum digunakan untuk kepentingan rumah ibadah. Perda Nomor 7 Tahun 2021 tidak mengatur pengecualian terhadap individu, badan usaha, maupun kepentingan tertentu. Oleh karena itu, konsistensi pemerintah dalam menerapkan aturan akan menjadi ukuran apakah penegakan hukum benar-benar dilakukan secara adil dan tegas.</p>
<p>Jika berbicara mengenai pengembalian hak pengguna jalan, pemerintah kota sebenarnya masih memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar, yakni penanganan parkir liar. Trotoar, bahu jalan, bahkan badan jalan di sejumlah titik masih digunakan sebagai lokasi parkir ilegal. Kawasan sekitar Mall Panakkukang merupakan salah satu contoh. Setelah sempat menjadi sorotan publik, persoalan tersebut tampaknya kembali pada kondisi semula.</p>
<p>Program penertiban PKL untuk tujuan penataan kota sesungguhnya baru menyentuh persoalan di permukaan. Masih ada pekerjaan yang lebih mendasar, seperti penyelesaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan pengaturan reklame serta papan iklan. Ketiadaan regulasi yang jelas dapat menyebabkan pembangunan berlangsung tanpa arah, menimbulkan ketidakpastian hukum, dan pada akhirnya menghambat iklim investasi.</p>
<p>Contohnya adalah terbitnya izin pembangunan lapangan olahraga padel di tengah kawasan permukiman yang kemudian menimbulkan gangguan bagi warga sekitar. Dalam konteks ini, pelaku usaha tidak sepenuhnya dapat disalahkan karena sistem perizinan memberikan persetujuan ketika RDTR Kota Makassar belum terintegrasi dalam sistem OSS.</p>
<p>Selain itu, penertiban PKL dilakukan pada saat masyarakat berpenghasilan rendah sedang menghadapi keterbatasan lapangan pekerjaan dan meningkatnya harga kebutuhan pokok. Ketika aktivitas usaha sektor informal terhenti, maka rantai pasok yang menopangnya juga akan terdampak. Jika penertiban terus dilakukan tanpa menghadirkan solusi yang lebih baik secara ekonomi, maka potensi guncangan sosial dan ekonomi di masyarakat tidak dapat diabaikan.</p>
<p>Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: apakah pemerintah kota siap menegakkan aturan secara adil dan menyeluruh, atau justru tanpa disadari sedang mendisrupsi ruang hidup ekonomi masyarakat kecil?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/06/25/penertiban-pkl-di-kota-makassar-dan-paradoks-keadilan-penegakan-perda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">10021</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kilau Emas Jamaah Haji Bugis-Makassar, Antara Tradisi, Identitas, dan Makna Kesederhanaan</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/06/09/kilau-emas-jamaah-haji-bugis-makassar-antara-tradisi-identitas-dan-makna-kesederhanaan/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/06/09/kilau-emas-jamaah-haji-bugis-makassar-antara-tradisi-identitas-dan-makna-kesederhanaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 06:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9995</guid>

					<description><![CDATA[Kilau Emas Jamaah Haji Bugis-Makassar, Antara Tradisi, Identitas, dan Makna Kesederhanaan Oleh : Raisuljaiz Sekretaris DPD Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) Prov. Sulsel Supermakss.com &#8211; Setiap musim haji, ada satu pemandangan yang hampir selalu menarik perhatian publik di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Sejumlah jamaah yang baru tiba dari Tanah Suci tampak mengenakan busana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kilau Emas Jamaah Haji Bugis-Makassar, Antara Tradisi, Identitas, dan Makna Kesederhanaan</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p style="text-align: center;">Sekretaris DPD Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI) Prov. Sulsel</p>
<p><em><strong>Supermakss.com</strong></em> &#8211; Setiap musim haji, ada satu pemandangan yang hampir selalu menarik perhatian publik di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Sejumlah jamaah yang baru tiba dari Tanah Suci tampak mengenakan busana terbaik, lengkap dengan berbagai perhiasan emas yang menghiasi leher, tangan, maupun telinga. Fenomena ini kerap menjadi perbincangan, bahkan tak jarang memicu perdebatan di ruang publik.</p>
<p>Bagi sebagian masyarakat, penampilan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kepulangan dari ibadah haji dipandang sebagai momen istimewa yang patut disyukuri dan dirayakan bersama keluarga serta kerabat. Mengenakan pakaian terbaik dan perhiasan dianggap sebagai simbol kebahagiaan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kesempatan menunaikan rukun Islam kelima.</p>
<p>Dalam kultur Bugis-Makassar, perhiasan emas juga memiliki makna sosial dan budaya yang cukup kuat. Emas bukan semata-mata lambang kemewahan, tetapi sering kali menjadi simbol kehormatan, keberhasilan, dan warisan keluarga. Karena itu, tidak sedikit jamaah yang memilih tampil dengan perhiasan saat pulang haji sebagai bagian dari identitas budaya yang mereka bawa.</p>
<p>Namun di sisi lain, muncul pula pandangan yang mempertanyakan relevansi tradisi tersebut dengan nilai-nilai spiritual haji. Ibadah haji mengajarkan kesederhanaan, kesetaraan, dan kerendahan hati. Ketika seluruh jamaah mengenakan ihram yang sama di Tanah Suci, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat maupun rakyat biasa.Pesan inilah yang menurut sebagian kalangan seharusnya menjadi bekal utama setelah kembali ke tanah air.</p>
<p>Karena itu, fenomena jamaah haji Bugis-Makassar yang bersolek dan mengenakan perhiasan emas sesungguhnya tidak perlu dipandang secara hitam putih. Di satu sisi terdapat nilai budaya yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Di sisi lain, terdapat pesan spiritual yang mengingatkan pentingnya menjaga kesederhanaan dalam kehidupan.</p>
<p>Pada akhirnya, yang menjadi ukuran bukanlah banyaknya emas yang dikenakan atau mewahnya pakaian saat turun dari pesawat. Esensi haji terletak pada perubahan sikap, peningkatan ketakwaan, kepedulian sosial, serta kemampuan menjadi teladan di tengah masyarakat. Sebab kemabruran haji tidak diukur dari penampilan yang tampak di mata manusia,melainkan dari kualitas ibadah dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Warkop Dg. Anas Makassar, 09/06/26</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/06/09/kilau-emas-jamaah-haji-bugis-makassar-antara-tradisi-identitas-dan-makna-kesederhanaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9995</post-id>	</item>
		<item>
		<title>In Memoriam : Selamat Jalan Om Darman : Penjaga Setia Perjalanan Partai</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 11:12:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9945</guid>

					<description><![CDATA[In Memoriam: SELAMAT JALAN OM DARMAN: PENJAGA SETIA PERJALANAN PARTAI  oleh :  Uceng / Husan Djunaid PAGI yang masih diselimuti kabut tipis di Kota Daeng, Makassar, Darman memulai harinya seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengantar cucunya ke sekolah, sebuah rutinitas sederhana yang selalu ia jalani dengan penuh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>In Memoriam:</p>
<p style="text-align: center;">SELAMAT JALAN OM DARMAN: PENJAGA SETIA PERJALANAN PARTAI</p>
<p style="text-align: center;"> oleh :  Uceng / Husan Djunaid</p>
<p>PAGI yang masih diselimuti kabut tipis di Kota Daeng, Makassar, Darman memulai harinya seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengantar cucunya ke sekolah, sebuah rutinitas sederhana yang selalu ia jalani dengan penuh kasih.</p>
<p>Darman lahir di Parepare pada 28 Januari 1966—kota kelahiran BJ Habibie, Presiden RI ke-3 yang pelan-pelan membentuk keteguhan dalam dirinya. Dari tanah itu ia tumbuh, membawa kesederhanaan yang kelak menjadi cara hidupnya hingga akhir.</p>
<p>Di balik kesederhanaan itu, tersimpan ketulusan yang tidak pernah ia pamerkan.</p>
<p>Di perjalanan pulang, ia sempat mengeluh. Tangannya menyentuh dada, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Malam sebelumnya keluhan itu sudah hadir, namun pagi itu terasa semakin kuat. Seperti banyak orang yang terbiasa tegar, ia tetap memilih bertahan.</p>
<p>Namun takdir berkata lain.</p>
<p>Keluarga segera membawanya menuju RS Hikmah. Di dalam perjalanan itu, di antara doa-doa yang lirih dan harapan yang terus dipanjatkan, Darman menghembuskan napas terakhirnya.</p>
<p>Kepergiannya begitu tiba-tiba, meninggalkan ruang sunyi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun bagi mereka yang mengenalnya, hidup beliau adalah kisah panjang tentang kesetiaan yang tidak pernah menuntut balasan.</p>
<p>Ia bukan sekadar staf sekretariat. Ia adalah saksi hidup perjalanan panjang PDI Perjuangan (PDI Pro Mega) di Sulawesi Selatan. Sejak masa awal bersama Andi Potji, ia telah mengabdikan dirinya tanpa pernah mencari sorotan.</p>
<p>Tiga masa kepemimpinan ia lalui, Andi Potji, Puang Palaguna, hingga Ridwan Andi Wittiri. Banyak perubahan ia saksikan, namun satu hal yang tidak pernah berubah: cintanya pada Partai dan keyakinannya pada ideologi yang ia pegang teguh.</p>
<p>Di sela-sela kesibukan, ia sering duduk bersama kader-kader muda. Dengan dialek khas Bugis-Makassar yang hangat, ia bercerita tentang sejarah, tentang perjuangan, dan tentang arti kesetiaan.</p>
<p>Baginya, Partai bukan sekadar organisasi. Partai adalah alat perjuangan.</p>
<p>Perjuangan yang tidak selalu mudah, yang sering kali sunyi, namun harus dijalani dengan keteguhan hati. Perjuangan yang menuntut kesetiaan, kedisiplinan, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.</p>
<p>Ia kerap mengingatkan sumpah Partai, bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam keseharian:</p>
<p>Bahwa saya akan menjunjung tinggi kehormatan, martabat, dan disiplin partai, serta akan mengutamakan keutuhan partai dan keberhasilan perjuangan di atas kepentingan pribadi.</p>
<p>Bahwa saya akan memegang rahasia partai yang menurut sifatnya harus saya rahasiakan.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan santai di Kantor Partai, seorang kader muda, Dewa Agung Daeng Maraja, pernah berkata dengan penuh hormat:</p>
<p>“Om Darman itu kamus berjalan Partai.”</p>
<p>Sederhana, tetapi tepat menggambarkan dirinya—tempat bertanya, tempat belajar, dan penjaga ingatan panjang organisasi.</p>
<p>Bahkan ketika menghadapi pertanyaan kritis kader yang sulit dijawab, almarhum tidak segan merendah. Ia akan mencari rujukan, termasuk kepada senior Partai seperti Dan Pongtasik, Alimuddin, Rudy Goni, Muh. Iqbal Arifin, Risfayanti Muin dan Mesakh Raymond Rantepadang termasuk penulis sendiri Husain Djunaid. Dari sana tampak jelas kerendahan hatinya bahwa belajar tidak pernah selesai, meski pengalaman telah begitu panjang.</p>
<p>Tak hanya tentang Partai, ia juga kerap mengaitkan kisahnya dengan sejarah bangsa. Ia pernah bercerita tentang Maulwi Saelan, sosok setia yang mendampingi Presiden Soekarno di masa-masa paling genting. Ia juga menuturkan bahwa Maulwi Saelan adalah kakak dari Emmy Saelan, seorang Pahlawan Nasional yang gugur dalam perjuangan.</p>
<p>Dari kisah itu ia selalu menegaskan satu hal: kesetiaan tidak diuji saat keadaan nyaman, tetapi justru ketika keadaan paling sulit.</p>
<p>Ia juga pernah berpesan bahwa: Partai itu adalah alat perjuangan. Sebuah jalan panjang yang hanya bisa dijaga dengan disiplin, keberanian, dan kesetiaan yang tidak boleh pudar oleh kenyamanan.</p>
<p>Ia mencontohkan ketegasan seorang pemimpin seperti Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, yang dikenal disiplin dalam membentuk kader dan menjaga agar perjuangan tidak berubah menjadi zona nyaman.</p>
<p>Bahkan almarhum juga kerap menceritakan dinamika politik lokal sebagai bagian dari pembelajaran kader. Ia pernah mengisahkan tentang Danny Pomanto saat fenomena kolom kosong dalam Pilkada Kota Makassar, ketika kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan besar semata, tetapi oleh kerja-kerja sunyi, kedekatan dengan rakyat, dan keyakinan pada jalan yang ditempuh.</p>
<p>Dari kisah itu, Om Darman selalu menarik pelajaran bahwa dalam politik, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kerja panjang, dan tidak ada kekalahan yang sepenuhnya tanpa makna. Semua adalah bagian dari perjalanan yang harus dipahami dengan kepala dingin dan hati yang jernih.</p>
<p>Kabar duka ini juga mengejutkan banyak pihak, termasuk Mas Mugi Adwil dari DPP Partai. Ia merasa sangat kehilangan, sebab kedekatannya dengan almarhum bukan hanya sebatas hubungan kerja, tetapi juga hubungan batin yang terbangun dalam banyak pertemuan dan perjalanan organisasi.</p>
<p>Bagi Mas Mugi, Om Darman adalah sosok yang hangat, rendah hati, dan selalu terbuka dalam berdiskusi. Kedekatan itu membuat kabar kepergian almarhum terasa begitu berat, seolah kehilangan seorang sahabat lama yang selama ini selalu hadir dalam ruang-ruang perjuangan.</p>
<p>Kepergian Om Darman juga meninggalkan duka yang dalam bagi semua yang mengenalnya, termasuk anak-anak sekretariat seperti Memet, Adam, Zul, Aldy, Sellang, dan Kurnia. Mereka yang selama ini kerap berdebat dan bercanda dengannya kini hanya bisa terdiam. Sosok yang dulu menjadi lawan diskusi, tempat belajar, sekaligus bagian dari keseharian mereka, telah pergi untuk selamanya. Kesedihan itu begitu terasa, seperti ruang yang tiba-tiba kehilangan suara yang biasa mengisi.</p>
<p>Kini, sosok itu telah tiada. Namun seperti sebuah kamus yang tak pernah kehilangan makna, nilai-nilai yang ia tinggalkan tetap hidup—di ingatan, di cerita, dan di langkah-langkah mereka yang pernah belajar darinya.</p>
<p>Selamat jalan, Om Darman.</p>
<p>Jejakmu akan terus menggema dalam setiap langkah perjuangan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9945</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri dan Ruang Digital</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2026 05:49:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9886</guid>

					<description><![CDATA[Idul Fitri Dan Ruang Digital Oleh : Raisuljaiz Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah momentum kembali kepada fitrah, kepada kesucian jiwa, kejernihan hati, dan ketulusan dalam bersikap. Namun, di era digital saat ini, makna kembali ke fitrah menghadapi tantangan yang tak kalah besar dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="text-align: center;"><strong>Idul Fitri Dan Ruang Digital</strong></p>
<p dir="ltr" style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p dir="ltr">Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah momentum kembali kepada fitrah, kepada kesucian jiwa, kejernihan hati, dan ketulusan dalam bersikap. Namun, di era digital saat ini, makna kembali ke fitrah menghadapi tantangan yang tak kalah besar dari sekadar menahan diri secara fisik.</p>
<p dir="ltr">Ruang digital telah menjadi “ruang kedua” bagi manusia modern. Di sanalah kita berinteraksi, berbagi cerita, bahkan membangun citra diri. Ironisnya, saat Idul Fitri tiba yang seharusnya menjadi momen penyucian diri ruang digital justru kerap dipenuhi hal-hal yang menjauhkan kita dari fitrah itu sendiri.</p>
<p dir="ltr">Ucapan maaf yang bertebaran di media sosial terkadang hanya menjadi formalitas. Kata “mohon maaf lahir dan batin” ditulis dan dibagikan berulang-ulang, namun tidak selalu diiringi dengan ketulusan untuk benar-benar memaafkan atau meminta maaf secara personal. Fitrah yang seharusnya menghadirkan kejujuran, justru tergantikan oleh budaya simbolik yang dangkal.</p>
<p dir="ltr">Belum lagi fenomena pamer kebahagiaan yang berlebihan. Foto baju baru, foto keluarga dengan berbagai pose, hidangan mewah, hingga suasana rumah yang ditata sedemikian rupa demi konten, sering kali lebih menonjol daripada esensi kebersamaan itu sendiri. Tanpa disadari, ruang digital berubah menjadi panggung pembuktian siapa yang paling bahagia, paling mapan, atau paling sempurna dalam merayakan Idul Fitri.</p>
<p dir="ltr">Padahal, fitrah mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan. Ia tidak membutuhkan pengakuan publik, apalagi validasi dari jumlah “like” dan komentar. Fitrah justru hadir dalam keheningan: dalam pelukan hangat keluarga, dalam air mata haru saat saling memaafkan, dan dalam doa-doa yang tulus tanpa perlu dipublikasikan.</p>
<p dir="ltr">Di sisi lain, Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik dalam cara kita bermedia. Jika selama Ramadan kita berlatih menahan diri, maka pasca-Ramadan adalah saat membuktikan apakah latihan itu benar-benar membentuk karakter. Apakah jari kita lebih bijak dalam mengetik? Apakah hati kita lebih lapang dalam menyikapi perbedaan? Ataukah kita kembali pada kebiasaan lama mudah menghakimi, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, dan larut dalam hiruk-pikuk dunia maya?</p>
<p dir="ltr">Menjaga fitrah di ruang digital berarti menghadirkan nilai-nilai Idul Fitri dalam setiap interaksi daring. Menulis dengan empati, berbagi dengan niat kebaikan, serta menahan diri dari hal-hal yang dapat melukai orang lain. Sebab di dunia digital, kata-kata bisa lebih tajam dari pisau dan lebih luas jangkauannya dari langkah kaki.</p>
<p dir="ltr">Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya berhasil menahan lapar, tetapi juga mampu menjaga hati tetap bersih baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Sebab fitrah tidak hanya diuji di masjid atau di meja makan bersama keluarga, tetapi juga di layar kecil yang setiap hari kita genggam.</p>
<p dir="ltr">Jika Idul Fitri adalah tentang kembali ke fitrah, maka ruang digital adalah tempat kita membuktikan: apakah kita benar-benar telah kembali, atau hanya sekadar merayakan.</p>
<p dir="ltr">Bone, 2 Syawal 1447 H, 22 Maret 2026</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9886</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 22:14:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9884</guid>

					<description><![CDATA[“Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal&#8221; Oleh : Raisuljaiz ( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel ) Suara Perjuangan Makassar &#8211; Di tanah Bugis Makassar, kita diajarkan sejak kecil tentang siri’ na pacce, tentang harga diri dan empati yang dijaga dengan penuh kehormatan. Nilai itu bukan hanya hidup dalam adat, tapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>“Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p style="text-align: center;">( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel )</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Di tanah Bugis Makassar, kita diajarkan sejak kecil tentang siri’ na pacce, tentang harga diri dan empati yang dijaga dengan penuh kehormatan. Nilai itu bukan hanya hidup dalam adat, tapi juga seharusnya tumbuh dalam cara kita beragama. Termasuk saat menyikapi perbedaan penetapan 1 Syawal yang hampir setiap tahun datang menyapa.</p>
<p>Perbedaan ini sebenarnya bukan barang baru. Ia seperti ombak di laut datang silih berganti, tapi tak pernah mengubah luasnya samudera. Ada yang berpegang pada rukyat, ada pula yang meyakini hisab. Keduanya bukan jalan yang saling meniadakan, melainkan dua ikhtiar yang lahir dari kesungguhan memahami ajaran.</p>
<p>Dalam kearifan Bugis Makassar, kita mengenal prinsip sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling menghargai). Nilai-nilai ini seharusnya menjadi penuntun ketika perbedaan itu hadir. Bukan malah memperuncing jarak, apalagi menjatuhkan satu sama lain.</p>
<p>Apa artinya kita berpuasa sebulan penuh, menahan lapar dan amarah, jika pada hari kemenangan justru kita mudah tersulut oleh perbedaan? Bukankah Idul Fitri adalah tentang kembali ke hati yang bersih, mappaccing ati dan menjahit kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang?</p>
<p>Perbedaan 1 Syawal seharusnya menjadi cermin kedewasaan. Bahwa kita tidak selalu harus sama untuk tetap bersama. Bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan merawat kebersamaan di tengah keberagaman.</p>
<p>Orang Bugis Makassar percaya, kehormatan bukan hanya soal mempertahankan pendapat, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Di situlah pacce bekerja, rasa peduli yang membuat kita enggan melukai, bahkan dalam perbedaan.</p>
<p>Maka, ketika sebagian saudara kita berlebaran lebih dulu, atau justru setelahnya, biarkan itu menjadi ruang untuk saling menghormati. Tidak perlu gaduh, tidak perlu saling menyalahkan. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: meraih ridha Allah dan kembali ke fitrah.</p>
<p>Beda hari bukan berarti beda hati. Dalam perbedaan, justru kita diuji untuk menjadi manusia yang lebih bijak. Dan dalam kebijaksanaan itulah, kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.</p>
<p><em><strong>Masjid Al-Ikhlas Banta-bantaeng Makassar, 30 Ramadhan 1447 H.</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9884</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadiah Terbesar Ramadhan Bukan Baju Lebaran</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 09:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9877</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) HADIAH TERBESAR RAMADHAN BUKAN BAJU LEBARAN By ATM Menjelang akhir Ramadhan, suasana mulai berubah. Masjid yang tadi malam penuh dengan doa, perlahan mulai kalah ramai dengan pusat perbelanjaan. Jalanan macet bukan karena orang ke tarawih, tapi karena orang berburu sesuatu yang dianggap sangat penting: baju lebaran. Tidak ada yang salah dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HADIAH TERBESAR RAMADHAN BUKAN BAJU LEBARAN</strong></p>
<p style="text-align: center;">By ATM</p>
<p>Menjelang akhir Ramadhan, suasana mulai berubah.</p>
<p>Masjid yang tadi malam penuh dengan doa, perlahan mulai kalah ramai dengan pusat perbelanjaan. Jalanan macet bukan karena orang ke tarawih, tapi karena orang berburu sesuatu yang dianggap sangat penting: baju lebaran.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan baju baru. Itu sunnah, itu indah. Bahkan dianjurkan tampil rapi dan bersih di hari raya. Tapi yang sering jadi masalah adalah ketika baju lebaran naik pangkat jadi tujuan utama, sementara Ramadhan turun pangkat jadi sekadar rutinitas tahunan.</p>
<p>Kita ini kadang sangat serius dengan yang terlihat di mata manusia, tapi santai dengan yang dinilai oleh Allah.</p>
<p>Kita bisa keliling tiga mall hanya untuk memastikan warna baju cocok.</p>
<p>Kita bisa debat panjang soal model, merk, bahkan tone warna.</p>
<p>Kita bisa khawatir: “Nanti pas foto keluarga, aku kurang matching.”</p>
<p>Tapi coba tanya:</p>
<p>Apakah kita pernah sekhawatir itu dengan dosa-dosa kita?</p>
<p>Apakah kita pernah gelisah:</p>
<p>“Bagaimana kalau Ramadhan ini aku tidak diampuni?”</p>
<p>Nah, di sinilah letak masalahnya.</p>
<p>Kita sibuk memperindah tampilan luar, tapi lupa memperbaiki isi hati.</p>
<p>Padahal, hadiah terbesar Ramadhan bukanlah baju baru.</p>
<p>Hadiah terbesar Ramadhan adalah dosa yang dihapuskan.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.</p>
<p>Artinya, Ramadhan itu seperti tempat laundry raksasa untuk jiwa kita.</p>
<p>Setahun kita kumpulkan noda:</p>
<p>noda omongan,</p>
<p>noda pikiran,</p>
<p>noda perbuatan,</p>
<p>bahkan noda yang kita sendiri sudah lupa.</p>
<p>Lalu Allah buka layanan spesial:</p>
<p>“Silakan masuk Ramadhan, Aku bersihkan semuanya.”</p>
<p>Masalahnya, kita ini kadang datang ke “laundry” itu… tapi tidak benar-benar menyerahkan pakaian kita.</p>
<p>Kita puasa, iya.</p>
<p>Tapi hati masih penuh iri.</p>
<p>Kita tarawih, iya.</p>
<p>Tapi lisan masih suka menyakiti.</p>
<p>Kita sedekah, iya.</p>
<p>Tapi riya masih ikut selfie.</p>
<p>Akhirnya Ramadhan lewat, tapi noda masih nempel.</p>
<p>Yang berubah cuma baju… bukan hati.</p>
<p>Bayangkan ada dua orang di hari Idul Fitri.</p>
<p>Yang satu bajunya sederhana, bahkan mungkin bukan yang paling baru. Tapi hatinya bersih, dosanya diampuni, hubungannya dengan Allah membaik.</p>
<p>Yang satu lagi bajunya mewah, serasi dari kepala sampai kaki. Tapi hatinya masih penuh beban dosa, masih jauh dari Allah.</p>
<p>Menurut kita, siapa yang benar-benar “menang” di hari itu?</p>
<p>Sering kali kita tertukar.</p>
<p>Kita mengira kemenangan itu soal penampilan.</p>
<p>Padahal kemenangan itu soal ampunan.</p>
<p>Idul Fitri itu artinya kembali ke fitrah. Kembali bersih. Kembali seperti bayi yang belum ternoda dosa.</p>
<p>Bukan kembali dengan outfit terbaru.</p>
<p>Lucunya lagi, kita ini bisa sangat takut baju kita jelek di mata manusia.</p>
<p>Tapi tidak takut kalau hati kita kotor di hadapan Allah.</p>
<p>Kita bisa bilang:</p>
<p>“Wah, malu kalau bajuku itu-itu saja.”</p>
<p>Tapi tidak pernah bilang:</p>
<p>“Wah, malu kalau dosaku masih itu-itu saja.”</p>
<p>Ini yang harus kita renungkan.</p>
<p>Karena sebenarnya, Allah tidak melihat apa yang kita pakai.</p>
<p>Allah melihat apa yang ada di dalam hati kita.</p>
<p>Malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan hadiah terbesar itu: ampunan.</p>
<p>Kalau diibaratkan, ini seperti pembagian hadiah.</p>
<p>Masalahnya, banyak yang sibuk di luar ruangan, sementara hadiah dibagikan di dalam.</p>
<p>Orang-orang yang i’tikaf, yang menangis di malam hari, yang berdoa dengan sungguh-sungguh—mereka sedang “mengantri hadiah”.</p>
<p>Sementara yang sibuk di mall… antri juga.</p>
<p>Tapi yang diambil beda.</p>
<p>Tidak salah membeli baju. Tapi jangan sampai kita lebih semangat memilih warna baju daripada memohon ampun kepada Allah.</p>
<p>Karena baju itu hanya dipakai beberapa kali.</p>
<p>Tapi ampunan Allah… kita butuhkan sampai akhir hayat, bahkan sampai hari kiamat.</p>
<p>Coba bayangkan satu hal sederhana.</p>
<p>Kalau malam ini adalah kesempatan terakhir kita hidup di dunia,</p>
<p>apa yang akan kita pilih?</p>
<p>Menambah satu stel baju…</p>
<p>atau menambah satu malam sujud memohon ampun?</p>
<p>Jawabannya sebenarnya kita tahu.</p>
<p>Tapi sering kali kita tunda.</p>
<p>“Kapan-kapan saja serius ibadahnya.”</p>
<p>Padahal Ramadhan tidak pernah menunggu.</p>
<p>Dia datang sebentar… lalu pergi.</p>
<p>Dan belum tentu kita bertemu lagi dengannya.</p>
<p>Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, mari kita luruskan kembali niat.</p>
<p>Silakan beli baju lebaran.</p>
<p>Silakan tampil rapi dan indah.</p>
<p>Tapi jangan lupa:</p>
<p>yang paling penting bukan apa yang kita pakai di hari raya, tapi bagaimana kondisi hati kita ketika bertemu Allah.</p>
<p>Semoga ketika takbir berkumandang, kita bukan hanya merasa senang karena baju baru.</p>
<p>Tapi juga merasa lega…</p>
<p>karena dosa-dosa kita sudah dihapuskan.</p>
<p>Karena itulah hadiah terbesar Ramadhan.</p>
<p>Bukan yang terlihat di cermin…</p>
<p>tapi yang tercatat di langit.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9877</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Selebrasi Sebelum Peluit Panjang</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 20:42:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9866</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) By. Ustadz H. Azhar Tamanggong Suara Perjuangan Makassar &#8211; Hari ini Ramadhan sudah di hari ke-29. Kalau ini pertandingan, kita sudah masuk menit 88. Dan anehnya… justru di menit-menit segini, banyak yang mulai jalan kaki. Padahal seharusnya? Sprint! Ini yang kadang jadi ironi kita. Di awal Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;">By. Ustadz H. Azhar Tamanggong</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Hari ini Ramadhan sudah di hari ke-29. Kalau ini pertandingan, kita sudah masuk menit 88. Dan anehnya…</p>
<p>justru di menit-menit segini, banyak yang mulai jalan kaki.</p>
<p>Padahal seharusnya? Sprint! Ini yang kadang jadi ironi kita. Di awal Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. Suara imam kalah sama suara “Aamiin” jamaah.</p>
<p>Masuk pertengahan… mulai berkurang. Masuk 10 terakhir&#8230;harusnya makin padat. Eh, malah makin renggang.</p>
<p>Yang tersisa? Yang benar-benar paham… ini bukan lomba biasa.</p>
<p>Kita ini sering salah paham tentang Ramadhan. Dikira targetnya “bertahan 30 hari”. Padahal bukan.</p>
<p>Ramadhan itu bukan soal kuat-kuatan, tapi soal bagaimana kita mengakhiri. Karena dalam banyak hal di hidup ini, yang dinilai bukan pembukaannya, tapi penutupnya.</p>
<p>Coba lihat pertandingan bola. Tim yang unggul di babak pertama belum tentu menang. Banyak yang sudah leading 2-0&#8230;eh, dibalik di menit akhir.</p>
<p>Kenapa? Karena lengah. Dan jangan salah…Iblis itu pemain senior. Dia tahu betul timing. Di awal Ramadhan, dia mungkin “diam”. Biarkan kita semangat. Biarkan kita rajin. Biarkan kita merasa hebat.</p>
<p>Lalu dia masuk di saat kita mulai capek. Dia bisik pelan: “Sudah cukup lah…” “Kamu kan sudah 28 hari ibadah…”.“Masak Allah tidak lihat itu?” Nah… ini bahaya. Karena kalimat “sudah cukup” itulah yang sering menggagalkan finish kita.</p>
<p>Padahal kalau kita jujur, siapa yang bisa menjamin 28 hari kita itu sempurna? Shalat kita khusyuk semua? Puasa kita bersih dari ghibah? Sedekah kita ikhlas tanpa riya?</p>
<p>Kalau belum, harusnya kita justru panik. Bukan santai. Ini seperti siswa yang tahu jawabannya belum yakin… tapi waktu ujian tinggal 2 menit lagi. Dia akan tambah fokus…</p>
<p>bukan malah menutup kertas dan bilang, “Ya sudah lah.”</p>
<p>Ramadhan ini juga begitu. Hari ke-28 itu bukan garis finish. Itu tikungan terakhir. Dan justru di tikungan itulah banyak yang jatuh.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Karena mulai sibuk dengan hal lain. Mulai mikir baju lebaran. Mulai sibuk kue. Mulai fokus THR. Mulai keliling mall… tapi lupa keliling masjid.</p>
<p>Tidak salah…</p>
<p>tapi kalau itu membuat kita kehilangan momentum, itu yang jadi masalah.</p>
<p>Bayangkan ini, Kalau Ramadhan itu tamu agung,.maka hari-hari terakhir ini adalah saat dia mau pulang. Harusnya kita bagaimana? Menahan dia, melayani lebih baik, memberi kesan terbaik. Bukan malah sibuk di dapur,</p>
<p>sementara tamu kita tinggal.</p>
<p>Aneh kan? Tapi itulah yang sering terjadi. Kita ini kadang lebih serius menyambut lebaran daripada mengakhiri Ramadhan. Padahal belum tentu kita bertemu lagi tahun depan.</p>
<p>Coba kita jujur, berapa banyak Ramadhan yang sudah kita lewati? Dan berapa yang benar-benar terasa mengubah hidup kita? Banyak… tapi sedikit yang membekas.</p>
<p>Kenapa? Karena kita tidak pernah benar-benar “finish strong”. Kita bagus di awal, lumayan di tengah, tapi hilang di akhir.</p>
<p>Padahal justru malam-malam terakhir inilah yang paling mahal. Ada satu malam…</p>
<p>yang nilainya lebih dari 1000 bulan. Bukan 1000 hari…1000 bulan. Sekitar 83 tahun. Artinya satu malam bisa mengalahkan seumur hidup kita.</p>
<p>Dan masalahnya, kita tidak tahu itu malam ke berapa. Bisa jadi tadi malam. Bisa jadi malam ini. Bisa jadi besok.</p>
<p>Dan bayangkan kalau kita justru memilih untuk “istirahat” di malam itu. Rugi bukan? Makanya orang-orang yang paham, justru di akhir ini mereka “all out”.</p>
<p>Ibadahnya ditambah. Tidurnya dikurangi. Doanya dipanjangkan. Air matanya diperbanyak. Karena mereka tahu…ini penentuan.</p>
<p>Ini bukan lagi pemanasan. Ini bukan lagi uji coba. Ini final. Dan di final, tidak ada pemain hebat yang santai. Semua mati-matian.</p>
<p>Maka hari ini kita perlu tanya diri kita: Kita ini lagi bertanding… atau sudah merasa menang? Kalau masih bertanding, kenapa sudah santai? Kalau merasa sudah menang, siapa yang kasih jaminan?</p>
<p>Jangan-jangan kita ini seperti pelari yang berhenti sebelum garis finish, lalu orang lain menyalip di detik terakhir. Dan kita cuma bisa bilang: “Tadi saya sudah hampir sampai…” Hampir…tapi tidak selesai.</p>
<p>Maka pesan sederhananya : Jangan selebrasi sebelum peluit panjang. Jangan kendor sebelum benar-benar selesai. Dan jangan merasa aman sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita.</p>
<p>Karena bisa jadi yang menentukan bukan 28 hari yang sudah lewat, tapi 1 malam yang tersisa. Dan semoga kita bukan orang yang bagus di awal, lemah di akhir… Tapi menjadi hamba yang.menutup Ramadhan dengan kekuatan, dan pulang membawa kemenangan yang utuh.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9866</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tamu Agung Itu Sudah Siap Untuk Pergi</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 11:30:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9854</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) TAMU AGUNG ITU SUDAH BERSIAP PERGI Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd ( Ketua BAZNAS Kota Makassar ) Suara Perjuangan Makassar &#8211; Ramadhan itu seperti tamu agung. Datangnya dinanti, kehadirannya dimuliakan, tapi anehnya… perginya sering kita biarkan tanpa rasa kehilangan. Padahal baru kemarin rasanya kita berkata, “Marhaban ya Ramadhan.” Masjid [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>TAMU AGUNG ITU SUDAH BERSIAP PERGI</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd</p>
<p style="text-align: center;">( Ketua BAZNAS Kota Makassar )</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Ramadhan itu seperti tamu agung. Datangnya dinanti, kehadirannya dimuliakan, tapi anehnya… perginya sering kita biarkan tanpa rasa kehilangan.</p>
<p>Padahal baru kemarin rasanya kita berkata, “Marhaban ya Ramadhan.” Masjid ramai. Mushaf Al-Qur’an kembali dibuka. Doa-doa panjang kembali dipanjatkan.</p>
<p>Namun hari ini… tamu agung itu sudah mulai merapikan koper. Ramadhan seolah berdiri di depan pintu, menoleh kepada kita dan bertanya pelan: &#8220;Wahai hamba Allah… apa yang kau bawa dariku?&#8221;</p>
<p>Apakah kita membawa taqwa, atau hanya membawa kenangan buka puasa bersama? Apakah kita membawa air mata taubat, atau hanya membawa foto-foto Ramadhan?</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>“<em><strong>Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)</strong></em></p>
<p>Tujuan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Bukan sekadar sahur dan buka. Tujuan Ramadhan adalah lahirnya manusia yang lebih bertakwa.</p>
<p>Bayangkan… kalau Ramadhan bisa berbicara. Ia mungkin berkata:</p>
<p>&#8220;Aku sudah datang kepadamu sebulan penuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bangunkan kamu di waktu sahur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ajak kamu berdiri di malam tarawih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bisikkan kepadamu untuk bersedekah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pertemukan kamu dengan malam Lailatul Qadr.&#8221;</p>
<p>Tapi… apakah kamu berubah setelah aku datang?</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ada orang yang menangis karena Ramadhan pergi..Bukan karena makan siangnya kembali, tapi karena takut amalnya tidak diterima. Para sahabat Nabi bahkan berdoa enam bulan setelah Ramadhan agar amal Ramadhan mereka diterima oleh Allah.</p>
<p>Karena mereka tahu…</p>
<p>Yang paling penting bukan Ramadhan kita jalani, tapi Ramadhan kita diterima.</p>
<p>Ada kisah yang sering diceritakan oleh para ulama.</p>
<p>Suatu hari seorang ulama melihat muridnya tertawa menjelang akhir Ramadhan. Ia bertanya, “Kenapa engkau tertawa?” Murid itu menjawab, “Sebentar lagi lebaran, guru.”</p>
<p>Ulama itu berkata pelan, &#8220;Kalau engkau tahu siapa yang amalnya diterima dan siapa yang ditolak, mungkin engkau tidak akan tertawa… tapi menangis.&#8221;</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ramadhan itu seperti sekolah ruhani. Sebulan kita dididik. Kita belajar: Menahan diri dari yang haram. Menundukkan hawa nafsu. Melembutkan hati dengan Al-Qur’an. Membuka tangan dengan sedekah</p>
<p>Pertanyaannya sekarang:</p>
<p>Apakah kita lulus… atau hanya ikut sekolahnya saja?</p>
<p>Ramadhan hampir pergi.</p>
<p>Tapi semoga ruh Ramadhan tidak ikut pergi. Kalau selama Ramadhan kita rajin shalat berjamaah… jangan berhenti. Kalau selama Ramadhan kita rajin membaca Al-Qur’an&#8230; jangan tutup mushafnya. Kalau selama Ramadhan kita ringan bersedekah… jangan tiba-tiba dompet kita sakit setelah lebaran.</p>
<p>Karena tanda Ramadhan diterima adalah kebaikan yang terus berlanjut setelahnya.</p>
<p>Para ulama berkata:</p>
<p>&#8220;Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan berikutnya.&#8221;</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ramadhan memang akan pergi. Tapi semoga ia pergi sambil membawa kabar baik ke langit. Seolah ia berkata kepada Allah: &#8220;Ya Allah… hamba-Mu ini memang tidak sempurna.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi ia berusaha.&#8221; &#8220;Ia datang ke masjid.&#8221; &#8220;Ia membuka Al-Qur’an.&#8221; &#8220;Ia menahan dirinya dari dosa.&#8221;</p>
<p>Maka semoga Allah menjawab:</p>
<p>&#8220;Ampuni dia… dan masukkan dia ke dalam golongan orang yang bertakwa.&#8221; Dan semoga ketika Ramadhan benar-benar pergi… kita bukan termasuk orang yang berkata: “Andai saja aku memanfaatkan Ramadhan lebih baik.” Tapi kita termasuk orang yang berkata dengan tenang: “Ya Allah… aku sudah berusaha semampuku.”</p>
<p>Karena bisa jadi…</p>
<p>ini adalah Ramadhan terakhir kita.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9854</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 05:02:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9844</guid>

					<description><![CDATA[Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya Oleh : Raisuljaiz ( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel ) Idul Fitri selalu hadir sebagai ruang perenungan yang hangat sekaligus penuh makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan hidangan khas Lebaran, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah, kepada diri yang lebih jernih, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p style="text-align: center;">( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel )</p>
<p>Idul Fitri selalu hadir sebagai ruang perenungan yang hangat sekaligus penuh makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan hidangan khas Lebaran, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah, kepada diri yang lebih jernih, lebih bersih, dan lebih manusiawi. Setelah sebulan penuh menjalani proses pengendalian diri di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi titik awal untuk menata ulang kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.</p>
<p>Di tengah perayaan itu, tradisi mengenakan baju baru menjadi salah satu simbol yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat. Hampir di setiap rumah, persiapan menyambut hari raya selalu diiringi dengan keinginan untuk tampil rapi dan segar. Bagi sebagian orang, baju baru menjadi bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan Idul Fitri—sebuah ekspresi sederhana dari rasa syukur dan sukacita.</p>
<p>Namun, jika direnungkan lebih dalam, “baju baru” sejatinya bukan hanya persoalan fisik. Ia menyimpan makna simbolik yang kuat. Pakaian yang baru dan bersih seolah menjadi representasi dari jiwa yang telah ditempa selama Ramadan—jiwa yang berusaha meninggalkan keburukan dan bertransformasi menuju kebaikan. Dalam konteks ini, baju baru bukan sekadar penampilan luar, melainkan refleksi dari pembaruan batin.</p>
<p>Sayangnya, dalam praktiknya, makna tersebut kerap bergeser. Tradisi yang semula sarat nilai spiritual perlahan berubah menjadi tekanan sosial. Tidak sedikit orang yang merasa harus memiliki pakaian baru demi memenuhi ekspektasi lingkungan, bahkan ketika kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Padahal, esensi Idul Fitri tidak pernah bergantung pada apa yang dikenakan, melainkan pada bagaimana hati disiapkan untuk menyambutnya.</p>
<p>Di sinilah pentingnya mengembalikan pemahaman bahwa “baru” tidak selalu berarti “membeli”. Kebersihan, kerapian, dan kesederhanaan justru lebih mencerminkan nilai-nilai Idul Fitri yang autentik. Seseorang yang mengenakan pakaian lama namun bersih dan rapi, dengan hati yang tulus dan lapang, sesungguhnya telah menangkap esensi hari raya lebih dalam dibanding sekadar penampilan luar.</p>
<p>Di sisi lain, kita tidak bisa menafikan bahwa bagi anak-anak, baju baru memiliki makna kebahagiaan yang sangat nyata. Senyum mereka yang tulus saat mengenakan pakaian terbaik, berkeliling bersilaturahmi, dan merasakan hangatnya kebersamaan, menjadi potret sederhana dari kegembiraan yang murni. Dari mereka, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur, bukan pada nilai materi semata.</p>
<p>Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan kita satu hal yang sering terlupakan: pembaruan yang paling penting adalah pembaruan hati. Baju baru mungkin hanya bertahan sesaat, tetapi hati yang diperbarui—yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli—akan membawa dampak jauh lebih panjang dalam kehidupan.</p>
<p>Karena pada akhirnya, kemenangan sejati di hari raya bukanlah tentang apa yang kita pakai, melainkan tentang siapa diri kita setelah melewati Ramadan.</p>
<p><em><strong>Masjid Raya Kota Makassar, 27 Ramadhan 1447 H</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9844</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/158 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: supermakss.com @ 2026-08-21 22:38:01 by W3 Total Cache
-->