<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel &#8211; SUPERMAKSS.com</title>
	<atom:link href="https://supermakss.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://supermakss.com</link>
	<description>Suara Perjuangan Makassar</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 11:12:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://supermakss.com/wp-content/uploads/2020/10/LOGO-SUPERMAKSS-TEM-1-80x80.png</url>
	<title>Artikel &#8211; SUPERMAKSS.com</title>
	<link>https://supermakss.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">124381217</site>	<item>
		<title>In Memoriam : Selamat Jalan Om Darman : Penjaga Setia Perjalanan Partai</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 11:12:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9945</guid>

					<description><![CDATA[In Memoriam: SELAMAT JALAN OM DARMAN: PENJAGA SETIA PERJALANAN PARTAI  oleh :  Uceng / Husan Djunaid PAGI yang masih diselimuti kabut tipis di Kota Daeng, Makassar, Darman memulai harinya seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengantar cucunya ke sekolah, sebuah rutinitas sederhana yang selalu ia jalani dengan penuh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>In Memoriam:</p>
<p style="text-align: center;">SELAMAT JALAN OM DARMAN: PENJAGA SETIA PERJALANAN PARTAI</p>
<p style="text-align: center;"> oleh :  Uceng / Husan Djunaid</p>
<p>PAGI yang masih diselimuti kabut tipis di Kota Daeng, Makassar, Darman memulai harinya seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengantar cucunya ke sekolah, sebuah rutinitas sederhana yang selalu ia jalani dengan penuh kasih.</p>
<p>Darman lahir di Parepare pada 28 Januari 1966—kota kelahiran BJ Habibie, Presiden RI ke-3 yang pelan-pelan membentuk keteguhan dalam dirinya. Dari tanah itu ia tumbuh, membawa kesederhanaan yang kelak menjadi cara hidupnya hingga akhir.</p>
<p>Di balik kesederhanaan itu, tersimpan ketulusan yang tidak pernah ia pamerkan.</p>
<p>Di perjalanan pulang, ia sempat mengeluh. Tangannya menyentuh dada, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Malam sebelumnya keluhan itu sudah hadir, namun pagi itu terasa semakin kuat. Seperti banyak orang yang terbiasa tegar, ia tetap memilih bertahan.</p>
<p>Namun takdir berkata lain.</p>
<p>Keluarga segera membawanya menuju RS Hikmah. Di dalam perjalanan itu, di antara doa-doa yang lirih dan harapan yang terus dipanjatkan, Darman menghembuskan napas terakhirnya.</p>
<p>Kepergiannya begitu tiba-tiba, meninggalkan ruang sunyi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun bagi mereka yang mengenalnya, hidup beliau adalah kisah panjang tentang kesetiaan yang tidak pernah menuntut balasan.</p>
<p>Ia bukan sekadar staf sekretariat. Ia adalah saksi hidup perjalanan panjang PDI Perjuangan (PDI Pro Mega) di Sulawesi Selatan. Sejak masa awal bersama Andi Potji, ia telah mengabdikan dirinya tanpa pernah mencari sorotan.</p>
<p>Tiga masa kepemimpinan ia lalui, Andi Potji, Puang Palaguna, hingga Ridwan Andi Wittiri. Banyak perubahan ia saksikan, namun satu hal yang tidak pernah berubah: cintanya pada Partai dan keyakinannya pada ideologi yang ia pegang teguh.</p>
<p>Di sela-sela kesibukan, ia sering duduk bersama kader-kader muda. Dengan dialek khas Bugis-Makassar yang hangat, ia bercerita tentang sejarah, tentang perjuangan, dan tentang arti kesetiaan.</p>
<p>Baginya, Partai bukan sekadar organisasi. Partai adalah alat perjuangan.</p>
<p>Perjuangan yang tidak selalu mudah, yang sering kali sunyi, namun harus dijalani dengan keteguhan hati. Perjuangan yang menuntut kesetiaan, kedisiplinan, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.</p>
<p>Ia kerap mengingatkan sumpah Partai, bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam keseharian:</p>
<p>Bahwa saya akan menjunjung tinggi kehormatan, martabat, dan disiplin partai, serta akan mengutamakan keutuhan partai dan keberhasilan perjuangan di atas kepentingan pribadi.</p>
<p>Bahwa saya akan memegang rahasia partai yang menurut sifatnya harus saya rahasiakan.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan santai di Kantor Partai, seorang kader muda, Dewa Agung Daeng Maraja, pernah berkata dengan penuh hormat:</p>
<p>“Om Darman itu kamus berjalan Partai.”</p>
<p>Sederhana, tetapi tepat menggambarkan dirinya—tempat bertanya, tempat belajar, dan penjaga ingatan panjang organisasi.</p>
<p>Bahkan ketika menghadapi pertanyaan kritis kader yang sulit dijawab, almarhum tidak segan merendah. Ia akan mencari rujukan, termasuk kepada senior Partai seperti Dan Pongtasik, Alimuddin, Rudy Goni, Muh. Iqbal Arifin, Risfayanti Muin dan Mesakh Raymond Rantepadang termasuk penulis sendiri Husain Djunaid. Dari sana tampak jelas kerendahan hatinya bahwa belajar tidak pernah selesai, meski pengalaman telah begitu panjang.</p>
<p>Tak hanya tentang Partai, ia juga kerap mengaitkan kisahnya dengan sejarah bangsa. Ia pernah bercerita tentang Maulwi Saelan, sosok setia yang mendampingi Presiden Soekarno di masa-masa paling genting. Ia juga menuturkan bahwa Maulwi Saelan adalah kakak dari Emmy Saelan, seorang Pahlawan Nasional yang gugur dalam perjuangan.</p>
<p>Dari kisah itu ia selalu menegaskan satu hal: kesetiaan tidak diuji saat keadaan nyaman, tetapi justru ketika keadaan paling sulit.</p>
<p>Ia juga pernah berpesan bahwa: Partai itu adalah alat perjuangan. Sebuah jalan panjang yang hanya bisa dijaga dengan disiplin, keberanian, dan kesetiaan yang tidak boleh pudar oleh kenyamanan.</p>
<p>Ia mencontohkan ketegasan seorang pemimpin seperti Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, yang dikenal disiplin dalam membentuk kader dan menjaga agar perjuangan tidak berubah menjadi zona nyaman.</p>
<p>Bahkan almarhum juga kerap menceritakan dinamika politik lokal sebagai bagian dari pembelajaran kader. Ia pernah mengisahkan tentang Danny Pomanto saat fenomena kolom kosong dalam Pilkada Kota Makassar, ketika kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan besar semata, tetapi oleh kerja-kerja sunyi, kedekatan dengan rakyat, dan keyakinan pada jalan yang ditempuh.</p>
<p>Dari kisah itu, Om Darman selalu menarik pelajaran bahwa dalam politik, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kerja panjang, dan tidak ada kekalahan yang sepenuhnya tanpa makna. Semua adalah bagian dari perjalanan yang harus dipahami dengan kepala dingin dan hati yang jernih.</p>
<p>Kabar duka ini juga mengejutkan banyak pihak, termasuk Mas Mugi Adwil dari DPP Partai. Ia merasa sangat kehilangan, sebab kedekatannya dengan almarhum bukan hanya sebatas hubungan kerja, tetapi juga hubungan batin yang terbangun dalam banyak pertemuan dan perjalanan organisasi.</p>
<p>Bagi Mas Mugi, Om Darman adalah sosok yang hangat, rendah hati, dan selalu terbuka dalam berdiskusi. Kedekatan itu membuat kabar kepergian almarhum terasa begitu berat, seolah kehilangan seorang sahabat lama yang selama ini selalu hadir dalam ruang-ruang perjuangan.</p>
<p>Kepergian Om Darman juga meninggalkan duka yang dalam bagi semua yang mengenalnya, termasuk anak-anak sekretariat seperti Memet, Adam, Zul, Aldy, Sellang, dan Kurnia. Mereka yang selama ini kerap berdebat dan bercanda dengannya kini hanya bisa terdiam. Sosok yang dulu menjadi lawan diskusi, tempat belajar, sekaligus bagian dari keseharian mereka, telah pergi untuk selamanya. Kesedihan itu begitu terasa, seperti ruang yang tiba-tiba kehilangan suara yang biasa mengisi.</p>
<p>Kini, sosok itu telah tiada. Namun seperti sebuah kamus yang tak pernah kehilangan makna, nilai-nilai yang ia tinggalkan tetap hidup—di ingatan, di cerita, dan di langkah-langkah mereka yang pernah belajar darinya.</p>
<p>Selamat jalan, Om Darman.</p>
<p>Jejakmu akan terus menggema dalam setiap langkah perjuangan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/05/06/in-memoriam-selamat-jalan-om-darman-penjaga-setia-perjalanan-partai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9945</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri dan Ruang Digital</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2026 05:49:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9886</guid>

					<description><![CDATA[Idul Fitri Dan Ruang Digital Oleh : Raisuljaiz Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah momentum kembali kepada fitrah, kepada kesucian jiwa, kejernihan hati, dan ketulusan dalam bersikap. Namun, di era digital saat ini, makna kembali ke fitrah menghadapi tantangan yang tak kalah besar dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="text-align: center;"><strong>Idul Fitri Dan Ruang Digital</strong></p>
<p dir="ltr" style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p dir="ltr">Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah momentum kembali kepada fitrah, kepada kesucian jiwa, kejernihan hati, dan ketulusan dalam bersikap. Namun, di era digital saat ini, makna kembali ke fitrah menghadapi tantangan yang tak kalah besar dari sekadar menahan diri secara fisik.</p>
<p dir="ltr">Ruang digital telah menjadi “ruang kedua” bagi manusia modern. Di sanalah kita berinteraksi, berbagi cerita, bahkan membangun citra diri. Ironisnya, saat Idul Fitri tiba yang seharusnya menjadi momen penyucian diri ruang digital justru kerap dipenuhi hal-hal yang menjauhkan kita dari fitrah itu sendiri.</p>
<p dir="ltr">Ucapan maaf yang bertebaran di media sosial terkadang hanya menjadi formalitas. Kata “mohon maaf lahir dan batin” ditulis dan dibagikan berulang-ulang, namun tidak selalu diiringi dengan ketulusan untuk benar-benar memaafkan atau meminta maaf secara personal. Fitrah yang seharusnya menghadirkan kejujuran, justru tergantikan oleh budaya simbolik yang dangkal.</p>
<p dir="ltr">Belum lagi fenomena pamer kebahagiaan yang berlebihan. Foto baju baru, foto keluarga dengan berbagai pose, hidangan mewah, hingga suasana rumah yang ditata sedemikian rupa demi konten, sering kali lebih menonjol daripada esensi kebersamaan itu sendiri. Tanpa disadari, ruang digital berubah menjadi panggung pembuktian siapa yang paling bahagia, paling mapan, atau paling sempurna dalam merayakan Idul Fitri.</p>
<p dir="ltr">Padahal, fitrah mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan. Ia tidak membutuhkan pengakuan publik, apalagi validasi dari jumlah “like” dan komentar. Fitrah justru hadir dalam keheningan: dalam pelukan hangat keluarga, dalam air mata haru saat saling memaafkan, dan dalam doa-doa yang tulus tanpa perlu dipublikasikan.</p>
<p dir="ltr">Di sisi lain, Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik dalam cara kita bermedia. Jika selama Ramadan kita berlatih menahan diri, maka pasca-Ramadan adalah saat membuktikan apakah latihan itu benar-benar membentuk karakter. Apakah jari kita lebih bijak dalam mengetik? Apakah hati kita lebih lapang dalam menyikapi perbedaan? Ataukah kita kembali pada kebiasaan lama mudah menghakimi, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, dan larut dalam hiruk-pikuk dunia maya?</p>
<p dir="ltr">Menjaga fitrah di ruang digital berarti menghadirkan nilai-nilai Idul Fitri dalam setiap interaksi daring. Menulis dengan empati, berbagi dengan niat kebaikan, serta menahan diri dari hal-hal yang dapat melukai orang lain. Sebab di dunia digital, kata-kata bisa lebih tajam dari pisau dan lebih luas jangkauannya dari langkah kaki.</p>
<p dir="ltr">Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya berhasil menahan lapar, tetapi juga mampu menjaga hati tetap bersih baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Sebab fitrah tidak hanya diuji di masjid atau di meja makan bersama keluarga, tetapi juga di layar kecil yang setiap hari kita genggam.</p>
<p dir="ltr">Jika Idul Fitri adalah tentang kembali ke fitrah, maka ruang digital adalah tempat kita membuktikan: apakah kita benar-benar telah kembali, atau hanya sekadar merayakan.</p>
<p dir="ltr">Bone, 2 Syawal 1447 H, 22 Maret 2026</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/22/idul-fitri-dan-ruang-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9886</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 22:14:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9884</guid>

					<description><![CDATA[“Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal&#8221; Oleh : Raisuljaiz ( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel ) Suara Perjuangan Makassar &#8211; Di tanah Bugis Makassar, kita diajarkan sejak kecil tentang siri’ na pacce, tentang harga diri dan empati yang dijaga dengan penuh kehormatan. Nilai itu bukan hanya hidup dalam adat, tapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>“Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p style="text-align: center;">( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel )</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Di tanah Bugis Makassar, kita diajarkan sejak kecil tentang siri’ na pacce, tentang harga diri dan empati yang dijaga dengan penuh kehormatan. Nilai itu bukan hanya hidup dalam adat, tapi juga seharusnya tumbuh dalam cara kita beragama. Termasuk saat menyikapi perbedaan penetapan 1 Syawal yang hampir setiap tahun datang menyapa.</p>
<p>Perbedaan ini sebenarnya bukan barang baru. Ia seperti ombak di laut datang silih berganti, tapi tak pernah mengubah luasnya samudera. Ada yang berpegang pada rukyat, ada pula yang meyakini hisab. Keduanya bukan jalan yang saling meniadakan, melainkan dua ikhtiar yang lahir dari kesungguhan memahami ajaran.</p>
<p>Dalam kearifan Bugis Makassar, kita mengenal prinsip sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling menghargai). Nilai-nilai ini seharusnya menjadi penuntun ketika perbedaan itu hadir. Bukan malah memperuncing jarak, apalagi menjatuhkan satu sama lain.</p>
<p>Apa artinya kita berpuasa sebulan penuh, menahan lapar dan amarah, jika pada hari kemenangan justru kita mudah tersulut oleh perbedaan? Bukankah Idul Fitri adalah tentang kembali ke hati yang bersih, mappaccing ati dan menjahit kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang?</p>
<p>Perbedaan 1 Syawal seharusnya menjadi cermin kedewasaan. Bahwa kita tidak selalu harus sama untuk tetap bersama. Bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan merawat kebersamaan di tengah keberagaman.</p>
<p>Orang Bugis Makassar percaya, kehormatan bukan hanya soal mempertahankan pendapat, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Di situlah pacce bekerja, rasa peduli yang membuat kita enggan melukai, bahkan dalam perbedaan.</p>
<p>Maka, ketika sebagian saudara kita berlebaran lebih dulu, atau justru setelahnya, biarkan itu menjadi ruang untuk saling menghormati. Tidak perlu gaduh, tidak perlu saling menyalahkan. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: meraih ridha Allah dan kembali ke fitrah.</p>
<p>Beda hari bukan berarti beda hati. Dalam perbedaan, justru kita diuji untuk menjadi manusia yang lebih bijak. Dan dalam kebijaksanaan itulah, kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.</p>
<p><em><strong>Masjid Al-Ikhlas Banta-bantaeng Makassar, 30 Ramadhan 1447 H.</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/20/beda-hari-tetap-satu-hati-siri-na-pacce-dalam-memaknai-1-syawal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9884</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadiah Terbesar Ramadhan Bukan Baju Lebaran</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 09:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9877</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) HADIAH TERBESAR RAMADHAN BUKAN BAJU LEBARAN By ATM Menjelang akhir Ramadhan, suasana mulai berubah. Masjid yang tadi malam penuh dengan doa, perlahan mulai kalah ramai dengan pusat perbelanjaan. Jalanan macet bukan karena orang ke tarawih, tapi karena orang berburu sesuatu yang dianggap sangat penting: baju lebaran. Tidak ada yang salah dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HADIAH TERBESAR RAMADHAN BUKAN BAJU LEBARAN</strong></p>
<p style="text-align: center;">By ATM</p>
<p>Menjelang akhir Ramadhan, suasana mulai berubah.</p>
<p>Masjid yang tadi malam penuh dengan doa, perlahan mulai kalah ramai dengan pusat perbelanjaan. Jalanan macet bukan karena orang ke tarawih, tapi karena orang berburu sesuatu yang dianggap sangat penting: baju lebaran.</p>
<p>Tidak ada yang salah dengan baju baru. Itu sunnah, itu indah. Bahkan dianjurkan tampil rapi dan bersih di hari raya. Tapi yang sering jadi masalah adalah ketika baju lebaran naik pangkat jadi tujuan utama, sementara Ramadhan turun pangkat jadi sekadar rutinitas tahunan.</p>
<p>Kita ini kadang sangat serius dengan yang terlihat di mata manusia, tapi santai dengan yang dinilai oleh Allah.</p>
<p>Kita bisa keliling tiga mall hanya untuk memastikan warna baju cocok.</p>
<p>Kita bisa debat panjang soal model, merk, bahkan tone warna.</p>
<p>Kita bisa khawatir: “Nanti pas foto keluarga, aku kurang matching.”</p>
<p>Tapi coba tanya:</p>
<p>Apakah kita pernah sekhawatir itu dengan dosa-dosa kita?</p>
<p>Apakah kita pernah gelisah:</p>
<p>“Bagaimana kalau Ramadhan ini aku tidak diampuni?”</p>
<p>Nah, di sinilah letak masalahnya.</p>
<p>Kita sibuk memperindah tampilan luar, tapi lupa memperbaiki isi hati.</p>
<p>Padahal, hadiah terbesar Ramadhan bukanlah baju baru.</p>
<p>Hadiah terbesar Ramadhan adalah dosa yang dihapuskan.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.</p>
<p>Artinya, Ramadhan itu seperti tempat laundry raksasa untuk jiwa kita.</p>
<p>Setahun kita kumpulkan noda:</p>
<p>noda omongan,</p>
<p>noda pikiran,</p>
<p>noda perbuatan,</p>
<p>bahkan noda yang kita sendiri sudah lupa.</p>
<p>Lalu Allah buka layanan spesial:</p>
<p>“Silakan masuk Ramadhan, Aku bersihkan semuanya.”</p>
<p>Masalahnya, kita ini kadang datang ke “laundry” itu… tapi tidak benar-benar menyerahkan pakaian kita.</p>
<p>Kita puasa, iya.</p>
<p>Tapi hati masih penuh iri.</p>
<p>Kita tarawih, iya.</p>
<p>Tapi lisan masih suka menyakiti.</p>
<p>Kita sedekah, iya.</p>
<p>Tapi riya masih ikut selfie.</p>
<p>Akhirnya Ramadhan lewat, tapi noda masih nempel.</p>
<p>Yang berubah cuma baju… bukan hati.</p>
<p>Bayangkan ada dua orang di hari Idul Fitri.</p>
<p>Yang satu bajunya sederhana, bahkan mungkin bukan yang paling baru. Tapi hatinya bersih, dosanya diampuni, hubungannya dengan Allah membaik.</p>
<p>Yang satu lagi bajunya mewah, serasi dari kepala sampai kaki. Tapi hatinya masih penuh beban dosa, masih jauh dari Allah.</p>
<p>Menurut kita, siapa yang benar-benar “menang” di hari itu?</p>
<p>Sering kali kita tertukar.</p>
<p>Kita mengira kemenangan itu soal penampilan.</p>
<p>Padahal kemenangan itu soal ampunan.</p>
<p>Idul Fitri itu artinya kembali ke fitrah. Kembali bersih. Kembali seperti bayi yang belum ternoda dosa.</p>
<p>Bukan kembali dengan outfit terbaru.</p>
<p>Lucunya lagi, kita ini bisa sangat takut baju kita jelek di mata manusia.</p>
<p>Tapi tidak takut kalau hati kita kotor di hadapan Allah.</p>
<p>Kita bisa bilang:</p>
<p>“Wah, malu kalau bajuku itu-itu saja.”</p>
<p>Tapi tidak pernah bilang:</p>
<p>“Wah, malu kalau dosaku masih itu-itu saja.”</p>
<p>Ini yang harus kita renungkan.</p>
<p>Karena sebenarnya, Allah tidak melihat apa yang kita pakai.</p>
<p>Allah melihat apa yang ada di dalam hati kita.</p>
<p>Malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan hadiah terbesar itu: ampunan.</p>
<p>Kalau diibaratkan, ini seperti pembagian hadiah.</p>
<p>Masalahnya, banyak yang sibuk di luar ruangan, sementara hadiah dibagikan di dalam.</p>
<p>Orang-orang yang i’tikaf, yang menangis di malam hari, yang berdoa dengan sungguh-sungguh—mereka sedang “mengantri hadiah”.</p>
<p>Sementara yang sibuk di mall… antri juga.</p>
<p>Tapi yang diambil beda.</p>
<p>Tidak salah membeli baju. Tapi jangan sampai kita lebih semangat memilih warna baju daripada memohon ampun kepada Allah.</p>
<p>Karena baju itu hanya dipakai beberapa kali.</p>
<p>Tapi ampunan Allah… kita butuhkan sampai akhir hayat, bahkan sampai hari kiamat.</p>
<p>Coba bayangkan satu hal sederhana.</p>
<p>Kalau malam ini adalah kesempatan terakhir kita hidup di dunia,</p>
<p>apa yang akan kita pilih?</p>
<p>Menambah satu stel baju…</p>
<p>atau menambah satu malam sujud memohon ampun?</p>
<p>Jawabannya sebenarnya kita tahu.</p>
<p>Tapi sering kali kita tunda.</p>
<p>“Kapan-kapan saja serius ibadahnya.”</p>
<p>Padahal Ramadhan tidak pernah menunggu.</p>
<p>Dia datang sebentar… lalu pergi.</p>
<p>Dan belum tentu kita bertemu lagi dengannya.</p>
<p>Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, mari kita luruskan kembali niat.</p>
<p>Silakan beli baju lebaran.</p>
<p>Silakan tampil rapi dan indah.</p>
<p>Tapi jangan lupa:</p>
<p>yang paling penting bukan apa yang kita pakai di hari raya, tapi bagaimana kondisi hati kita ketika bertemu Allah.</p>
<p>Semoga ketika takbir berkumandang, kita bukan hanya merasa senang karena baju baru.</p>
<p>Tapi juga merasa lega…</p>
<p>karena dosa-dosa kita sudah dihapuskan.</p>
<p>Karena itulah hadiah terbesar Ramadhan.</p>
<p>Bukan yang terlihat di cermin…</p>
<p>tapi yang tercatat di langit.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/19/hadiah-terbesar-ramadhan-bukan-baju-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9877</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Selebrasi Sebelum Peluit Panjang</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 20:42:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9866</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) By. Ustadz H. Azhar Tamanggong Suara Perjuangan Makassar &#8211; Hari ini Ramadhan sudah di hari ke-29. Kalau ini pertandingan, kita sudah masuk menit 88. Dan anehnya… justru di menit-menit segini, banyak yang mulai jalan kaki. Padahal seharusnya? Sprint! Ini yang kadang jadi ironi kita. Di awal Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;">By. Ustadz H. Azhar Tamanggong</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Hari ini Ramadhan sudah di hari ke-29. Kalau ini pertandingan, kita sudah masuk menit 88. Dan anehnya…</p>
<p>justru di menit-menit segini, banyak yang mulai jalan kaki.</p>
<p>Padahal seharusnya? Sprint! Ini yang kadang jadi ironi kita. Di awal Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. Suara imam kalah sama suara “Aamiin” jamaah.</p>
<p>Masuk pertengahan… mulai berkurang. Masuk 10 terakhir&#8230;harusnya makin padat. Eh, malah makin renggang.</p>
<p>Yang tersisa? Yang benar-benar paham… ini bukan lomba biasa.</p>
<p>Kita ini sering salah paham tentang Ramadhan. Dikira targetnya “bertahan 30 hari”. Padahal bukan.</p>
<p>Ramadhan itu bukan soal kuat-kuatan, tapi soal bagaimana kita mengakhiri. Karena dalam banyak hal di hidup ini, yang dinilai bukan pembukaannya, tapi penutupnya.</p>
<p>Coba lihat pertandingan bola. Tim yang unggul di babak pertama belum tentu menang. Banyak yang sudah leading 2-0&#8230;eh, dibalik di menit akhir.</p>
<p>Kenapa? Karena lengah. Dan jangan salah…Iblis itu pemain senior. Dia tahu betul timing. Di awal Ramadhan, dia mungkin “diam”. Biarkan kita semangat. Biarkan kita rajin. Biarkan kita merasa hebat.</p>
<p>Lalu dia masuk di saat kita mulai capek. Dia bisik pelan: “Sudah cukup lah…” “Kamu kan sudah 28 hari ibadah…”.“Masak Allah tidak lihat itu?” Nah… ini bahaya. Karena kalimat “sudah cukup” itulah yang sering menggagalkan finish kita.</p>
<p>Padahal kalau kita jujur, siapa yang bisa menjamin 28 hari kita itu sempurna? Shalat kita khusyuk semua? Puasa kita bersih dari ghibah? Sedekah kita ikhlas tanpa riya?</p>
<p>Kalau belum, harusnya kita justru panik. Bukan santai. Ini seperti siswa yang tahu jawabannya belum yakin… tapi waktu ujian tinggal 2 menit lagi. Dia akan tambah fokus…</p>
<p>bukan malah menutup kertas dan bilang, “Ya sudah lah.”</p>
<p>Ramadhan ini juga begitu. Hari ke-28 itu bukan garis finish. Itu tikungan terakhir. Dan justru di tikungan itulah banyak yang jatuh.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Karena mulai sibuk dengan hal lain. Mulai mikir baju lebaran. Mulai sibuk kue. Mulai fokus THR. Mulai keliling mall… tapi lupa keliling masjid.</p>
<p>Tidak salah…</p>
<p>tapi kalau itu membuat kita kehilangan momentum, itu yang jadi masalah.</p>
<p>Bayangkan ini, Kalau Ramadhan itu tamu agung,.maka hari-hari terakhir ini adalah saat dia mau pulang. Harusnya kita bagaimana? Menahan dia, melayani lebih baik, memberi kesan terbaik. Bukan malah sibuk di dapur,</p>
<p>sementara tamu kita tinggal.</p>
<p>Aneh kan? Tapi itulah yang sering terjadi. Kita ini kadang lebih serius menyambut lebaran daripada mengakhiri Ramadhan. Padahal belum tentu kita bertemu lagi tahun depan.</p>
<p>Coba kita jujur, berapa banyak Ramadhan yang sudah kita lewati? Dan berapa yang benar-benar terasa mengubah hidup kita? Banyak… tapi sedikit yang membekas.</p>
<p>Kenapa? Karena kita tidak pernah benar-benar “finish strong”. Kita bagus di awal, lumayan di tengah, tapi hilang di akhir.</p>
<p>Padahal justru malam-malam terakhir inilah yang paling mahal. Ada satu malam…</p>
<p>yang nilainya lebih dari 1000 bulan. Bukan 1000 hari…1000 bulan. Sekitar 83 tahun. Artinya satu malam bisa mengalahkan seumur hidup kita.</p>
<p>Dan masalahnya, kita tidak tahu itu malam ke berapa. Bisa jadi tadi malam. Bisa jadi malam ini. Bisa jadi besok.</p>
<p>Dan bayangkan kalau kita justru memilih untuk “istirahat” di malam itu. Rugi bukan? Makanya orang-orang yang paham, justru di akhir ini mereka “all out”.</p>
<p>Ibadahnya ditambah. Tidurnya dikurangi. Doanya dipanjangkan. Air matanya diperbanyak. Karena mereka tahu…ini penentuan.</p>
<p>Ini bukan lagi pemanasan. Ini bukan lagi uji coba. Ini final. Dan di final, tidak ada pemain hebat yang santai. Semua mati-matian.</p>
<p>Maka hari ini kita perlu tanya diri kita: Kita ini lagi bertanding… atau sudah merasa menang? Kalau masih bertanding, kenapa sudah santai? Kalau merasa sudah menang, siapa yang kasih jaminan?</p>
<p>Jangan-jangan kita ini seperti pelari yang berhenti sebelum garis finish, lalu orang lain menyalip di detik terakhir. Dan kita cuma bisa bilang: “Tadi saya sudah hampir sampai…” Hampir…tapi tidak selesai.</p>
<p>Maka pesan sederhananya : Jangan selebrasi sebelum peluit panjang. Jangan kendor sebelum benar-benar selesai. Dan jangan merasa aman sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita.</p>
<p>Karena bisa jadi yang menentukan bukan 28 hari yang sudah lewat, tapi 1 malam yang tersisa. Dan semoga kita bukan orang yang bagus di awal, lemah di akhir… Tapi menjadi hamba yang.menutup Ramadhan dengan kekuatan, dan pulang membawa kemenangan yang utuh.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/19/selebrasi-sebelum-peluit-panjang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9866</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tamu Agung Itu Sudah Siap Untuk Pergi</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 11:30:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9854</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) TAMU AGUNG ITU SUDAH BERSIAP PERGI Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd ( Ketua BAZNAS Kota Makassar ) Suara Perjuangan Makassar &#8211; Ramadhan itu seperti tamu agung. Datangnya dinanti, kehadirannya dimuliakan, tapi anehnya… perginya sering kita biarkan tanpa rasa kehilangan. Padahal baru kemarin rasanya kita berkata, “Marhaban ya Ramadhan.” Masjid [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>TAMU AGUNG ITU SUDAH BERSIAP PERGI</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd</p>
<p style="text-align: center;">( Ketua BAZNAS Kota Makassar )</p>
<p><em><strong>Suara Perjuangan Makassar &#8211; </strong></em>Ramadhan itu seperti tamu agung. Datangnya dinanti, kehadirannya dimuliakan, tapi anehnya… perginya sering kita biarkan tanpa rasa kehilangan.</p>
<p>Padahal baru kemarin rasanya kita berkata, “Marhaban ya Ramadhan.” Masjid ramai. Mushaf Al-Qur’an kembali dibuka. Doa-doa panjang kembali dipanjatkan.</p>
<p>Namun hari ini… tamu agung itu sudah mulai merapikan koper. Ramadhan seolah berdiri di depan pintu, menoleh kepada kita dan bertanya pelan: &#8220;Wahai hamba Allah… apa yang kau bawa dariku?&#8221;</p>
<p>Apakah kita membawa taqwa, atau hanya membawa kenangan buka puasa bersama? Apakah kita membawa air mata taubat, atau hanya membawa foto-foto Ramadhan?</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>“<em><strong>Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)</strong></em></p>
<p>Tujuan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Bukan sekadar sahur dan buka. Tujuan Ramadhan adalah lahirnya manusia yang lebih bertakwa.</p>
<p>Bayangkan… kalau Ramadhan bisa berbicara. Ia mungkin berkata:</p>
<p>&#8220;Aku sudah datang kepadamu sebulan penuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bangunkan kamu di waktu sahur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ajak kamu berdiri di malam tarawih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bisikkan kepadamu untuk bersedekah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pertemukan kamu dengan malam Lailatul Qadr.&#8221;</p>
<p>Tapi… apakah kamu berubah setelah aku datang?</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ada orang yang menangis karena Ramadhan pergi..Bukan karena makan siangnya kembali, tapi karena takut amalnya tidak diterima. Para sahabat Nabi bahkan berdoa enam bulan setelah Ramadhan agar amal Ramadhan mereka diterima oleh Allah.</p>
<p>Karena mereka tahu…</p>
<p>Yang paling penting bukan Ramadhan kita jalani, tapi Ramadhan kita diterima.</p>
<p>Ada kisah yang sering diceritakan oleh para ulama.</p>
<p>Suatu hari seorang ulama melihat muridnya tertawa menjelang akhir Ramadhan. Ia bertanya, “Kenapa engkau tertawa?” Murid itu menjawab, “Sebentar lagi lebaran, guru.”</p>
<p>Ulama itu berkata pelan, &#8220;Kalau engkau tahu siapa yang amalnya diterima dan siapa yang ditolak, mungkin engkau tidak akan tertawa… tapi menangis.&#8221;</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ramadhan itu seperti sekolah ruhani. Sebulan kita dididik. Kita belajar: Menahan diri dari yang haram. Menundukkan hawa nafsu. Melembutkan hati dengan Al-Qur’an. Membuka tangan dengan sedekah</p>
<p>Pertanyaannya sekarang:</p>
<p>Apakah kita lulus… atau hanya ikut sekolahnya saja?</p>
<p>Ramadhan hampir pergi.</p>
<p>Tapi semoga ruh Ramadhan tidak ikut pergi. Kalau selama Ramadhan kita rajin shalat berjamaah… jangan berhenti. Kalau selama Ramadhan kita rajin membaca Al-Qur’an&#8230; jangan tutup mushafnya. Kalau selama Ramadhan kita ringan bersedekah… jangan tiba-tiba dompet kita sakit setelah lebaran.</p>
<p>Karena tanda Ramadhan diterima adalah kebaikan yang terus berlanjut setelahnya.</p>
<p>Para ulama berkata:</p>
<p>&#8220;Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan berikutnya.&#8221;</p>
<p>Saudaraku…</p>
<p>Ramadhan memang akan pergi. Tapi semoga ia pergi sambil membawa kabar baik ke langit. Seolah ia berkata kepada Allah: &#8220;Ya Allah… hamba-Mu ini memang tidak sempurna.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi ia berusaha.&#8221; &#8220;Ia datang ke masjid.&#8221; &#8220;Ia membuka Al-Qur’an.&#8221; &#8220;Ia menahan dirinya dari dosa.&#8221;</p>
<p>Maka semoga Allah menjawab:</p>
<p>&#8220;Ampuni dia… dan masukkan dia ke dalam golongan orang yang bertakwa.&#8221; Dan semoga ketika Ramadhan benar-benar pergi… kita bukan termasuk orang yang berkata: “Andai saja aku memanfaatkan Ramadhan lebih baik.” Tapi kita termasuk orang yang berkata dengan tenang: “Ya Allah… aku sudah berusaha semampuku.”</p>
<p>Karena bisa jadi…</p>
<p>ini adalah Ramadhan terakhir kita.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/17/tamu-agung-itu-sudah-siap-untuk-pergi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9854</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 05:02:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9844</guid>

					<description><![CDATA[Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya Oleh : Raisuljaiz ( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel ) Idul Fitri selalu hadir sebagai ruang perenungan yang hangat sekaligus penuh makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan hidangan khas Lebaran, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah, kepada diri yang lebih jernih, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Idul Fitri dan Makna “Baju Baru” yang Sesungguhnya</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Raisuljaiz</p>
<p style="text-align: center;">( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel )</p>
<p>Idul Fitri selalu hadir sebagai ruang perenungan yang hangat sekaligus penuh makna. Ia bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan hidangan khas Lebaran, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah, kepada diri yang lebih jernih, lebih bersih, dan lebih manusiawi. Setelah sebulan penuh menjalani proses pengendalian diri di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi titik awal untuk menata ulang kehidupan, baik secara pribadi maupun sosial.</p>
<p>Di tengah perayaan itu, tradisi mengenakan baju baru menjadi salah satu simbol yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat. Hampir di setiap rumah, persiapan menyambut hari raya selalu diiringi dengan keinginan untuk tampil rapi dan segar. Bagi sebagian orang, baju baru menjadi bagian tak terpisahkan dari kebahagiaan Idul Fitri—sebuah ekspresi sederhana dari rasa syukur dan sukacita.</p>
<p>Namun, jika direnungkan lebih dalam, “baju baru” sejatinya bukan hanya persoalan fisik. Ia menyimpan makna simbolik yang kuat. Pakaian yang baru dan bersih seolah menjadi representasi dari jiwa yang telah ditempa selama Ramadan—jiwa yang berusaha meninggalkan keburukan dan bertransformasi menuju kebaikan. Dalam konteks ini, baju baru bukan sekadar penampilan luar, melainkan refleksi dari pembaruan batin.</p>
<p>Sayangnya, dalam praktiknya, makna tersebut kerap bergeser. Tradisi yang semula sarat nilai spiritual perlahan berubah menjadi tekanan sosial. Tidak sedikit orang yang merasa harus memiliki pakaian baru demi memenuhi ekspektasi lingkungan, bahkan ketika kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Padahal, esensi Idul Fitri tidak pernah bergantung pada apa yang dikenakan, melainkan pada bagaimana hati disiapkan untuk menyambutnya.</p>
<p>Di sinilah pentingnya mengembalikan pemahaman bahwa “baru” tidak selalu berarti “membeli”. Kebersihan, kerapian, dan kesederhanaan justru lebih mencerminkan nilai-nilai Idul Fitri yang autentik. Seseorang yang mengenakan pakaian lama namun bersih dan rapi, dengan hati yang tulus dan lapang, sesungguhnya telah menangkap esensi hari raya lebih dalam dibanding sekadar penampilan luar.</p>
<p>Di sisi lain, kita tidak bisa menafikan bahwa bagi anak-anak, baju baru memiliki makna kebahagiaan yang sangat nyata. Senyum mereka yang tulus saat mengenakan pakaian terbaik, berkeliling bersilaturahmi, dan merasakan hangatnya kebersamaan, menjadi potret sederhana dari kegembiraan yang murni. Dari mereka, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur, bukan pada nilai materi semata.</p>
<p>Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan kita satu hal yang sering terlupakan: pembaruan yang paling penting adalah pembaruan hati. Baju baru mungkin hanya bertahan sesaat, tetapi hati yang diperbarui—yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peduli—akan membawa dampak jauh lebih panjang dalam kehidupan.</p>
<p>Karena pada akhirnya, kemenangan sejati di hari raya bukanlah tentang apa yang kita pakai, melainkan tentang siapa diri kita setelah melewati Ramadan.</p>
<p><em><strong>Masjid Raya Kota Makassar, 27 Ramadhan 1447 H</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/17/idul-fitri-dan-makna-baju-baru-yang-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9844</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Zakat: Dibenci Tapi Dirindu</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/14/zakat-dibenci-tapi-dirindu/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/14/zakat-dibenci-tapi-dirindu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2026 11:37:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9835</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) Zakat: Dibenci Tapi Dirindu Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd ( Ketua BAZNAS Kota Makassar ) &#160; Ada satu ibadah yang nasibnya agak unik. Kalau datang waktunya, sebagian orang agak gelisah. Tapi kalau tidak ada, banyak yang merasa hidupnya kurang berkah. Ibadah itu bernama zakat. Ketika harta kita sudah mencapai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Zakat: Dibenci Tapi Dirindu</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd</p>
<p style="text-align: center;">( Ketua BAZNAS Kota Makassar )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada satu ibadah yang nasibnya agak unik.</p>
<p>Kalau datang waktunya, sebagian orang agak gelisah. Tapi kalau tidak ada, banyak yang merasa hidupnya kurang berkah. Ibadah itu bernama zakat.</p>
<p>Ketika harta kita sudah mencapai nisab, hati kadang mulai berbisik: “Waduh… ini sudah kena zakat nih.” Padahal kalau gaji naik, kita tidak pernah bilang: “Waduh… gaji saya naik lagi.” Kalau bonus cair, kita juga tidak pernah protes:</p>
<p>“Ya Allah, kenapa Engkau beri bonus sebesar ini?” Tidak pernah. Yang sering muncul justru kalimat seperti ini:</p>
<p>“Zakatnya nanti dulu lah… dihitung lagi… mungkin belum nisab.”</p>
<p>Padahal kalkulator sudah berkali-kali bilang: “Ini sudah wajib.”</p>
<p>Jadi kadang memang terasa begitu: zakat itu seperti dibenci saat dikeluarkan.</p>
<p>Tetapi anehnya…</p>
<p>Kalau hidup mulai terasa sempit, usaha seret, hati tidak tenang, justru yang kita cari lagi adalah… zakat dan sedekah.</p>
<p><strong>Zakat Itu “Dibenci” Karena Mengurangi</strong></p>
<p>Secara matematika sederhana, zakat memang terlihat seperti mengurangi. Misalnya kita punya 100 juta. Keluar zakat 2,5 juta. Kelihatannya berkurang. Makanya sebagian orang menganggap zakat seperti “potongan”.</p>
<p>Padahal dalam logika langit, zakat itu bukan potongan. Zakat itu pembersihan. Seperti orang mandi. Air yang dipakai mandi itu tidak membuat tubuh berkurang. Justru membuat tubuh bersih.</p>
<p>Begitu juga harta. Tanpa zakat, harta bisa jadi kotor secara spiritual. Kotor oleh hak orang lain yang belum kita keluarkan.</p>
<p><strong>Tapi Zakat Juga “Dirindu</strong></p>
<p>Yang menarik, banyak orang yang sudah rutin berzakat justru merasa aneh kalau belum mengeluarkannya. Hatinya tidak tenang. Ada pengusaha pernah berkata: “Kalau belum zakat, saya seperti makan tapi belum cuci tangan.” Tidak nyaman.</p>
<p>Ada juga yang bilang: “Kalau belum sedekah, rasanya rezeki seperti tersendat.”</p>
<p>Ini bukan mitos. Karena zakat memang punya efek spiritual yang luar biasa. Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka.”</p>
<p>Jadi zakat itu bukan hanya membersihkan harta.</p>
<p>Tapi juga membersihkan hati.</p>
<p>Harta Itu Sebenarnya “Minta Dizakati” Coba bayangkan kalau harta bisa bicara. Mungkin dia akan berkata begini: “Wahai tuanku… tolong keluarkan zakatku.” “Kalau tidak, aku bisa berubah jadi bebanmu di akhirat.”</p>
<p>Harta yang dizakati akan menjadi penolong. Tapi harta yang tidak dizakati bisa menjadi penuntut. Makanya dalam banyak kisah, orang yang rajin zakat sering justru merasa rezekinya semakin lapang.</p>
<p>Secara logika manusia mungkin sulit dipahami. Tapi secara logika iman, sangat masuk akal. Karena janji Allah jelas:</p>
<p>Sedekah dan zakat tidak akan membuat miskin. Justru sering membuka pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.</p>
<p><strong>Zakat: Ibadah Sosial yang Menguatkan Umat</strong></p>
<p>Zakat juga punya kekuatan sosial yang luar biasa. Bayangkan jika setiap Muslim yang mampu menunaikan zakat dengan benar. Berapa banyak orang miskin yang terbantu. Berapa banyak anak yatim yang bisa sekolah. Berapa banyak usaha kecil yang bisa bangkit.</p>
<p>Zakat itu bukan sekadar ibadah pribadi. Zakat adalah sistem ekonomi umat. Itulah sebabnya dalam sejarah Islam, pernah ada masa ketika orang kesulitan mencari penerima zakat. Karena masyarakatnya sudah makmur.</p>
<p>Semua itu dimulai dari satu hal sederhana:</p>
<p>orang kaya yang taat menunaikan zakat.</p>
<p><strong>Dibenci Saat Keluar, Dirindu Saat Berkah Datang</strong></p>
<p>Jadi sebenarnya zakat itu seperti obat. Saat diminum, mungkin terasa pahit. Tapi setelah itu badan menjadi sehat.</p>
<p>Begitu juga zakat. Saat uang keluar dari rekening, hati mungkin sedikit bergetar. Tetapi setelah itu sering muncul rasa lega. Rasa ringan. Rasa berkah. Karena kita sadar:</p>
<p>di dalam harta kita ada hak orang lain yang sudah kita tunaikan.</p>
<p>Maka jangan heran kalau zakat sering terasa seperti dibenci tapi dirindu. Dibenci oleh nafsu, tapi dirindu oleh iman. Dibenci saat dikeluarkan, tapi dirindu saat keberkahan datang.</p>
<p>Karena sejatinya zakat bukan sekadar memberi. Zakat adalah cara Allah menjaga harta kita tetap berkah.</p>
<p>Dan di zaman sekarang, agar zakat lebih aman, tepat sasaran, dan bermanfaat luas, menunaikannya melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah langkah yang sangat baik. Supaya zakat kita tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga menjadi kekuatan besar untuk membantu umat.</p>
<p>Jadi kalau tahun ini harta sudah mencapai nisab… Jangan tunggu sampai hati terlalu berat. Karena bisa jadi, yang sedang menunggu zakat itu bukan hanya para mustahik. Tapi juga keberkahan yang sedang mengetuk pintu rezeki kita.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/14/zakat-dibenci-tapi-dirindu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9835</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Energi 20 Ribu</title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/13/9819/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/13/9819/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2026 19:09:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9819</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) Dahsyatnya Energi 20 Ribu Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd ( Ketua BAZNAS Kota Makassar ) Hari raya Idul Fitri itu unik. Ada orang yang dari subuh sudah sibuk menyetrika baju. Ada yang sibuk mencari peci yang kemarin entah ditaruh di mana. Ada juga yang sibuk memastikan posisi sandal nanti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Dahsyatnya Energi 20 Ribu</strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd</p>
<p style="text-align: center;">( Ketua BAZNAS Kota Makassar )</p>
<p>Hari raya Idul Fitri itu unik. Ada orang yang dari subuh sudah sibuk menyetrika baju. Ada yang sibuk mencari peci yang kemarin entah ditaruh di mana. Ada juga yang sibuk memastikan posisi sandal nanti tidak terlalu jauh dari pintu masjid. Pengalaman mengajarkan, kalau salah parkir sandal, pulangnya bisa pakai sandal yang “lebih modern”.</p>
<p>Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu momen yang sering lewat begitu saja: kotak infak Idul Fitri.<br />
Kotaknya biasanya lewat dengan tenang. Tidak teriak. Tidak memaksa. Tidak pakai pengeras suara. Dia hanya lewat… pelan… sambil berharap ada tangan-tangan yang tergerak.<br />
Kadang yang masuk recehan. Kadang uang yang sudah agak kusut karena lama di dompet. Kadang juga ada yang pura-pura sibuk merapikan sajadah ketika kotaknya lewat.</p>
<p>Padahal kalau dipikir-pikir, Idul Fitri itu hari paling “kaya” bagi banyak orang. Baju baru ada. Sepatu baru ada. Amplop lebaran untuk anak-anak juga sudah disiapkan. Tapi sering kali kotak infak hanya dapat “sisa perhatian”.</p>
<p>Padahal, bayangkan sejenak kalau kita membuat satu gerakan sederhana. Setiap jamaah yang shalat Idul Fitri memasukkan infak 20 ribu rupiah. Tidak besar. Bahkan mungkin lebih kecil dari harga parkir di beberapa tempat wisata.</p>
<p>Tapi coba kita hitung dengan logika sederhana. Kalau satu masjid dihadiri 1.000 jamaah, dan masing-masing memasukkan 20 ribu, maka terkumpul 20 juta rupiah. Masjid yang lebih besar, dengan 3.000 jamaah, bisa mengumpulkan 60 juta rupiah.</p>
<p>Kalau dalam satu kota seperti Makassar ada lebih1000 masjid melakukan hal yang sama? Bayangkan energinya.<br />
Dana umat yang terkumpul bisa mencapai miliaran rupiah hanya dari satu pagi: pagi Idul Fitri.<br />
Dan semuanya dari angka yang kelihatannya kecil: 20 ribu.<br />
Inilah yang sering kita lupakan.</p>
<p>Umat ini sebenarnya bukan miskin energi kebaikan.<br />
Kadang kita hanya belum menyatukan gerak.<br />
Kalau umat ini bergerak bersama, angka kecil bisa berubah menjadi kekuatan besar.</p>
<p>Seperti air hujan. Satu tetes tidak terasa. Tapi jutaan tetes bisa memenuhi waduk. Begitu juga infak. Dua puluh ribu dari satu orang mungkin kecil. Tapi dua puluh ribu dari ribuan orang adalah energi umat.</p>
<p>Energi untuk: membantu fakir miskin, membiayai pendidikan anak yatim, memperbaiki masjid, mendukung dakwah, dan menolong yang sedang kesulitan</p>
<p>Dan yang menarik, semua itu bisa terjadi tanpa membebani siapa pun. Karena 20 ribu itu ringan. Ringan di dompet. Tapi berat di timbangan pahala.</p>
<p>Kadang kita lupa satu hal sederhana, Allah tidak menilai besar kecilnya angka, tapi keikhlasan dan kebersamaan umat.</p>
<p>Bayangkan kalau setiap Idul Fitri ada satu tradisi baru. Bukan hanya tradisi memakai baju baru. Tapi juga tradisi.“Infak 20 ribu saat shalat Id.”</p>
<p>Sederhana, tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu spanduk yang rumit. Cukup satu kalimat pengingat sebelum shalat:<br />
“Bapak ibu, mari kita hidupkan energi umat. Hari ini kita infak minimal 20 ribu.” Selesai. Tidak memaksa. Tidak menekan.<br />
Tapi kalau umat bergerak bersama, dampaknya luar biasa.</p>
<p>Kadang umat ini tidak kekurangan orang baik.<br />
Yang kurang hanya gerakan kecil yang menyatukan kebaikan itu. Karena sering kali yang besar itu bukan berasal dari sesuatu yang besar. Tapi dari kebaikan kecil yang dilakukan bersama-sama.</p>
<p>Jadi kalau nanti kotak infak lewat saat shalat Idul Fitri, jangan buru-buru merapikan sajadah. Masukkan saja 20 ribu.<br />
Anggap saja itu tanda syukur setelah sebulan puasa.</p>
<p>Karena boleh jadi, dua puluh ribu yang kita masukkan hari itu bukan sekadar uang..Tapi bagian dari energi besar umat yang sedang dibangun bersama.</p>
<p>Dan siapa tahu, dari kotak infak sederhana di pagi Idul Fitri itu, lahir banyak kebaikan yang terus mengalir… bahkan setelah gema takbir selesai berkumandang.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/13/9819/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9819</post-id>	</item>
		<item>
		<title>10 Hari Terakhir Ramadhan: Waktu Upgrade Diri </title>
		<link>https://supermakss.com/2026/03/11/10-hari-terakhir-ramadhan-waktu-upgrade-diri/</link>
					<comments>https://supermakss.com/2026/03/11/10-hari-terakhir-ramadhan-waktu-upgrade-diri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Raisul Jaiz]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 03:28:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pdip]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://supermakss.com/?p=9811</guid>

					<description><![CDATA[Kultum (Kuliah Terserah Antum) 10 Hari Terakhir Ramadhan: Waktu Upgrade Diri  Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd ( Ketua BAZNAS Kota Makassar ) Ramadhan itu seperti bulan promo besar-besaran. Semua orang tahu ada diskon pahala. Sedekah dilipatgandakan. Ibadah diperbanyak. Bahkan tidur orang yang puasa saja bisa bernilai ibadah. Pokoknya Ramadhan itu seperti “festival pahala”. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Kultum (Kuliah Terserah Antum)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>10 Hari Terakhir Ramadhan: Waktu Upgrade Diri </strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd</p>
<p style="text-align: center;">( Ketua BAZNAS Kota Makassar )</p>
<p>Ramadhan itu seperti bulan promo besar-besaran. Semua orang tahu ada diskon pahala. Sedekah dilipatgandakan. Ibadah diperbanyak. Bahkan tidur orang yang puasa saja bisa bernilai ibadah. Pokoknya Ramadhan itu seperti “festival pahala”.</p>
<p>Masalahnya, seperti kebiasaan kita juga, seringkali kita baru sadar promo itu ketika waktunya hampir habis.</p>
<p>Coba lihat kebiasaan kita saat belanja online. Kalau ada promo “Flash Sale 90%”, kita rela begadang. Alarm dipasang. Jam 11 malam sudah siap di depan HP. Begitu jam 12 tepat, langsung klik. Takut kehabisan.</p>
<p>Lucunya, Ramadhan punya “flash sale pahala” yang jauh lebih besar. Bahkan ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Tapi sering kali kita justru mulai “lelah” ketika memasuki 10 hari terakhir.</p>
<p>Masjid mulai longgar. Saf yang dulu rapat, sekarang mulai renggang. Jamaah yang dulu di depan, sekarang mulai pindah ke rumah.</p>
<p>Istilah jamaah tarawih juga berubah. Di awal Ramadhan disebut jamaah full team. Pertengahan jadi jamaah cadangan. Di 10 hari terakhir kadang berubah jadi jamaah hilang tanpa berita.</p>
<p>Padahal justru di sinilah puncak Ramadhan.</p>
<p>Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, Nabi Muhammad ﷺ justru semakin meningkatkan ibadahnya. Beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan lebih bersungguh-sungguh dari hari-hari sebelumnya.</p>
<p>Artinya apa?</p>
<p>Kalau Ramadhan itu seperti lomba lari, maka 10 hari terakhir adalah sprint terakhir menuju garis finish.</p>
<p>Masalahnya kita sering terbalik.</p>
<p>Di awal Ramadhan kita semangat luar biasa. Tarawih full. Tadarus rajin. Sedekah lancar.</p>
<p>Masuk pertengahan mulai biasa saja.</p>
<p>Masuk 10 hari terakhir… malah sibuk memikirkan kue lebaran, baju baru, dan tiket mudik.</p>
<p>Seolah-olah Ramadhan sudah selesai.</p>
<p>Padahal sebenarnya justru bagian paling berharga dari Ramadhan baru saja dimulai.</p>
<p>Karena di dalam 10 malam terakhir itu ada satu malam yang sangat istimewa: Lailatul Qadar.</p>
<p>Malam yang lebih baik dari seribu bulan.</p>
<p>Seribu bulan itu kira-kira 83 tahun lebih. Bayangkan… satu malam ibadah bisa bernilai seperti ibadah selama puluhan tahun.</p>
<p>Kalau ada bank menawarkan investasi seperti ini, orang pasti antre dari subuh.</p>
<p>Tapi karena ini “investasi akhirat”, kadang kita santai.</p>
<p>Padahal Ramadhan sebenarnya seperti waktu upgrade diri.</p>
<p>Kalau HP kita sering update aplikasi, manusia juga perlu update iman.</p>
<p>Masalahnya, HP kalau tidak di-update biasanya akan muncul notifikasi.</p>
<p>“Update tersedia.”</p>
<p>Iman kita juga sebenarnya sering memberi notifikasi.</p>
<p>Kadang lewat rasa gelisah. Kadang lewat rasa kosong di hati. Kadang lewat rasa bersalah setelah melakukan kesalahan.</p>
<p>Itu tanda bahwa hati kita butuh upgrade.</p>
<p>Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukannya.</p>
<p>Apalagi di 10 hari terakhir.</p>
<p>Inilah saatnya memperbaiki hubungan dengan Allah.</p>
<p>Memperbanyak istighfar.</p>
<p>Memperbanyak doa.</p>
<p>Memperbanyak sedekah.</p>
<p>Memperbanyak shalat malam.</p>
<p>Karena bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita.</p>
<p>Kalimat ini sering kita dengar. Tapi jarang kita renungkan.</p>
<p>Setiap tahun ada orang yang Ramadhan tahun lalu masih bersama kita. Tarawih bersama kita. Tadarus bersama kita.</p>
<p>Tahun ini mereka sudah tidak ada.</p>
<p>Artinya suatu saat nanti akan tiba giliran kita.</p>
<p>Karena itu 10 hari terakhir Ramadhan sebenarnya bukan sekadar penutup.</p>
<p>Ini adalah kesempatan emas terakhir untuk memperbaiki diri sebelum Ramadhan pergi.</p>
<p>Kalau di dunia kita selalu ingin upgrade rumah, upgrade mobil, upgrade HP…</p>
<p>Maka 10 hari terakhir Ramadhan adalah waktunya upgrade iman.</p>
<p>Upgrade sabar.</p>
<p>Upgrade syukur.</p>
<p>Upgrade kepedulian.</p>
<p>Dan tentu saja upgrade amal.</p>
<p>Karena pada akhirnya yang akan menemani kita di kubur bukan saldo rekening, bukan jabatan, bukan gelar.</p>
<p>Yang menemani kita hanyalah amal.</p>
<p>Maka sebelum Ramadhan benar-benar pergi, jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal.</p>
<p>Karena Ramadhan sebenarnya bukan datang setiap tahun.</p>
<p>Ramadhan datang hanya untuk orang-orang yang masih diberi umur oleh Allah.</p>
<p>Jadi kalau kita masih sampai di 10 hari terakhir Ramadhan, itu artinya Allah masih memberi kesempatan.</p>
<p>Kesempatan untuk memperbaiki diri.</p>
<p>Kesempatan untuk menambah pahala.</p>
<p>Kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar.</p>
<p>Karena itu jangan sampai kita sibuk menyiapkan hari raya, tapi lupa menyiapkan hari kembali kepada Allah.</p>
<p>Mari jadikan 10 hari terakhir Ramadhan ini benar-benar sebagai waktu upgrade diri.</p>
<p>Perbanyak ibadah.</p>
<p>Perbanyak doa.</p>
<p>Perbanyak sedekah.</p>
<p>Semoga kita semua termasuk orang yang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar.</p>
<p>Aamiin.</p>
<p>Makassar, 21 Ramadhan 1447 H/ 11 Maret 2026 M</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://supermakss.com/2026/03/11/10-hari-terakhir-ramadhan-waktu-upgrade-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9811</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/140 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: supermakss.com @ 2026-05-15 15:09:14 by W3 Total Cache
-->