In Memoriam:
SELAMAT JALAN OM DARMAN: PENJAGA SETIA PERJALANAN PARTAI
oleh : Uceng / Husan Djunaid
PAGI yang masih diselimuti kabut tipis di Kota Daeng, Makassar, Darman memulai harinya seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengantar cucunya ke sekolah, sebuah rutinitas sederhana yang selalu ia jalani dengan penuh kasih.
Darman lahir di Parepare pada 28 Januari 1966—kota kelahiran BJ Habibie, Presiden RI ke-3 yang pelan-pelan membentuk keteguhan dalam dirinya. Dari tanah itu ia tumbuh, membawa kesederhanaan yang kelak menjadi cara hidupnya hingga akhir.
Di balik kesederhanaan itu, tersimpan ketulusan yang tidak pernah ia pamerkan.
Di perjalanan pulang, ia sempat mengeluh. Tangannya menyentuh dada, napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Malam sebelumnya keluhan itu sudah hadir, namun pagi itu terasa semakin kuat. Seperti banyak orang yang terbiasa tegar, ia tetap memilih bertahan.
Namun takdir berkata lain.
Keluarga segera membawanya menuju RS Hikmah. Di dalam perjalanan itu, di antara doa-doa yang lirih dan harapan yang terus dipanjatkan, Darman menghembuskan napas terakhirnya.
Kepergiannya begitu tiba-tiba, meninggalkan ruang sunyi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun bagi mereka yang mengenalnya, hidup beliau adalah kisah panjang tentang kesetiaan yang tidak pernah menuntut balasan.
Ia bukan sekadar staf sekretariat. Ia adalah saksi hidup perjalanan panjang PDI Perjuangan (PDI Pro Mega) di Sulawesi Selatan. Sejak masa awal bersama Andi Potji, ia telah mengabdikan dirinya tanpa pernah mencari sorotan.
Tiga masa kepemimpinan ia lalui, Andi Potji, Puang Palaguna, hingga Ridwan Andi Wittiri. Banyak perubahan ia saksikan, namun satu hal yang tidak pernah berubah: cintanya pada Partai dan keyakinannya pada ideologi yang ia pegang teguh.
Di sela-sela kesibukan, ia sering duduk bersama kader-kader muda. Dengan dialek khas Bugis-Makassar yang hangat, ia bercerita tentang sejarah, tentang perjuangan, dan tentang arti kesetiaan.
Baginya, Partai bukan sekadar organisasi. Partai adalah alat perjuangan.
Perjuangan yang tidak selalu mudah, yang sering kali sunyi, namun harus dijalani dengan keteguhan hati. Perjuangan yang menuntut kesetiaan, kedisiplinan, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Ia kerap mengingatkan sumpah Partai, bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam keseharian:
Bahwa saya akan menjunjung tinggi kehormatan, martabat, dan disiplin partai, serta akan mengutamakan keutuhan partai dan keberhasilan perjuangan di atas kepentingan pribadi.
Bahwa saya akan memegang rahasia partai yang menurut sifatnya harus saya rahasiakan.
Dalam sebuah kesempatan santai di Kantor Partai, seorang kader muda, Dewa Agung Daeng Maraja, pernah berkata dengan penuh hormat:
“Om Darman itu kamus berjalan Partai.”
Sederhana, tetapi tepat menggambarkan dirinya—tempat bertanya, tempat belajar, dan penjaga ingatan panjang organisasi.
Bahkan ketika menghadapi pertanyaan kritis kader yang sulit dijawab, almarhum tidak segan merendah. Ia akan mencari rujukan, termasuk kepada senior Partai seperti Dan Pongtasik, Alimuddin, Rudy Goni, Muh. Iqbal Arifin, Risfayanti Muin dan Mesakh Raymond Rantepadang termasuk penulis sendiri Husain Djunaid. Dari sana tampak jelas kerendahan hatinya bahwa belajar tidak pernah selesai, meski pengalaman telah begitu panjang.
Tak hanya tentang Partai, ia juga kerap mengaitkan kisahnya dengan sejarah bangsa. Ia pernah bercerita tentang Maulwi Saelan, sosok setia yang mendampingi Presiden Soekarno di masa-masa paling genting. Ia juga menuturkan bahwa Maulwi Saelan adalah kakak dari Emmy Saelan, seorang Pahlawan Nasional yang gugur dalam perjuangan.
Dari kisah itu ia selalu menegaskan satu hal: kesetiaan tidak diuji saat keadaan nyaman, tetapi justru ketika keadaan paling sulit.
Ia juga pernah berpesan bahwa: Partai itu adalah alat perjuangan. Sebuah jalan panjang yang hanya bisa dijaga dengan disiplin, keberanian, dan kesetiaan yang tidak boleh pudar oleh kenyamanan.
Ia mencontohkan ketegasan seorang pemimpin seperti Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, yang dikenal disiplin dalam membentuk kader dan menjaga agar perjuangan tidak berubah menjadi zona nyaman.
Bahkan almarhum juga kerap menceritakan dinamika politik lokal sebagai bagian dari pembelajaran kader. Ia pernah mengisahkan tentang Danny Pomanto saat fenomena kolom kosong dalam Pilkada Kota Makassar, ketika kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan besar semata, tetapi oleh kerja-kerja sunyi, kedekatan dengan rakyat, dan keyakinan pada jalan yang ditempuh.
Dari kisah itu, Om Darman selalu menarik pelajaran bahwa dalam politik, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kerja panjang, dan tidak ada kekalahan yang sepenuhnya tanpa makna. Semua adalah bagian dari perjalanan yang harus dipahami dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
Kabar duka ini juga mengejutkan banyak pihak, termasuk Mas Mugi Adwil dari DPP Partai. Ia merasa sangat kehilangan, sebab kedekatannya dengan almarhum bukan hanya sebatas hubungan kerja, tetapi juga hubungan batin yang terbangun dalam banyak pertemuan dan perjalanan organisasi.
Bagi Mas Mugi, Om Darman adalah sosok yang hangat, rendah hati, dan selalu terbuka dalam berdiskusi. Kedekatan itu membuat kabar kepergian almarhum terasa begitu berat, seolah kehilangan seorang sahabat lama yang selama ini selalu hadir dalam ruang-ruang perjuangan.
Kepergian Om Darman juga meninggalkan duka yang dalam bagi semua yang mengenalnya, termasuk anak-anak sekretariat seperti Memet, Adam, Zul, Aldy, Sellang, dan Kurnia. Mereka yang selama ini kerap berdebat dan bercanda dengannya kini hanya bisa terdiam. Sosok yang dulu menjadi lawan diskusi, tempat belajar, sekaligus bagian dari keseharian mereka, telah pergi untuk selamanya. Kesedihan itu begitu terasa, seperti ruang yang tiba-tiba kehilangan suara yang biasa mengisi.
Kini, sosok itu telah tiada. Namun seperti sebuah kamus yang tak pernah kehilangan makna, nilai-nilai yang ia tinggalkan tetap hidup—di ingatan, di cerita, dan di langkah-langkah mereka yang pernah belajar darinya.
Selamat jalan, Om Darman.
Jejakmu akan terus menggema dalam setiap langkah perjuangan.