Oleh :Idwar Anwar
Hari ini, negeri diselimuti gelap
dan kita harus turun ke jalan; mengabarkan duka
meneriakkan keresahan dan perih
meski keringat, bahkan darah harus mengalir
ditembus peluru-peluru serdadu yang siap menghadang.
Negeri ini, negeri gelap
negeri dimana ijazah dan kemiskinan diperjualbelikan
ilmu menjelma keculasan, daripada kemaslahatan
negeri dimana tanah dan air; hanya milik penguasa dan cukong
laut dipagar, langit dan udara sebentar lagi bukan milik kita.
Negeri ini, negeri gelap
negeri dimana orang-orang jujur adalah penjahatnya
kejujuran dimanipulasi dengan uang dan kekuasaan
kejahatan dengan mudah disulap jadi kebaikan.
Negeri ini, negeri gelap
negeri dimana burung-burung bangkai meliuk gembira
mencium aroma tubuh siapa yang akan terkapar, memilih korban mana yang akan dimangsa.
Negeri ini, negeri gelap
negeri dimana penguasa lahir dari ketiak oligarki, lalu memangsa rakyatnya sendiribandit-bandit berdasi berpesta; menghisap darah kaum miskin
Negeri ini, negeri gelap
negeri dimana Tuhan hanya ditakuti
tatkala menyembah di rumah-rumah ibadah
dan ketika keluar, keimanan dibuang di tong sampah
Di negeri ini, tak ada tongkat nabi Musa agar bisa lari dari kebiadaban Fir’aun.
Di negeri ini, tak ada burung-burung Ababil membakar kesombongan tirani penguasa angkuh dan korup
melelehkan keserakahan cukong-cukong.
Di negeri ini, tak ada To Manurung
pemimpin penyejuk bagi rakyat yang saling memangsa.
Lalu, kita berharap pada siapa?
Kitalah yang harus menjadi tongkat Nabi Musa merambah jalan keselamatan
membawa obor keadilan dan kemakmuran.
Kitalah yang harus mewujud burung-burung Ababil
pembakar keangkuhan dan kebiadaban penguasa
menghanguskan ketamakan cukong-cukong.
Kitalah yang harus menjelma To Manurung muncul di negeri gelap ini, ratusan juta To Manurung harus mewujud
rakyat berkuasa, bukan segelintir orang serakah dan rakus.
Negeri ini, negeri gelap
lalu sekali lagi, kita berharap pada siapa?
Makassar, 1 Februari 2024