Iqra’, Spirit Membaca sebagai Fondasi Peradaban
Oleh : Raisuljaiz
( Sekretaris DPD Baitul Muslimin Indonesia BAMUSI Sulsel)
Suara Perjuangan Makassar – Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu saat berkhalwat di Gua Hira.
Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah salat, puasa, atau ibadah ritual lainnya, melainkan perintah untuk membaca. Dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Alaq ayat 1–5, Allah memerintahkan:
“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq…”(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan).
Perintah “Iqra’” ini memiliki makna yang sangat luas. Ia tidak hanya dimaknai sebagai membaca teks atau tulisan, tetapi juga membaca realitas kehidupan, membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta membaca perjalanan sejarah manusia.
Pilihan kata “membaca” sebagai wahyu pertama menunjukkan bahwa Islam sejak awal menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama peradaban. Tidak ada kebangkitan tanpa ilmu, dan tidak ada ilmu tanpa proses belajar dan membaca.
Menariknya, perintah membaca tersebut langsung diikuti dengan kalimat “bismi rabbik” (dengan nama Tuhanmu). Ini memberikan pesan penting bahwa aktivitas intelektual dalam Islam tidak boleh dilepaskan dari nilai spiritual dan moral. Ilmu pengetahuan tidak semata-mata untuk kepentingan kekuasaan atau dominasi, tetapi harus membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan “pena” (qalam). Ini adalah simbol penting dari tradisi literasi, pengetahuan, dan peradaban. Pena melambangkan proses pencatatan ilmu, pengembangan pemikiran, serta pewarisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika kita melihat sejarah, perintah membaca inilah yang kemudian melahirkan peradaban ilmu dalam dunia Islam. Pada masa klasik, umat Islam menjadi pelopor dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari filsafat, kedokteran, matematika, hingga astronomi. Perpustakaan, lembaga pendidikan, dan pusat-pusat penelitian berkembang pesat di berbagai wilayah dunia Islam.
Namun, pesan “Iqra’” hari ini sering kali hanya berhenti sebagai simbol atau slogan. Padahal, substansi dari perintah membaca adalah membangun budaya berpikir, budaya belajar, dan budaya ilmu dalam kehidupan masyarakat.
Momentum peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata. Ia harus menjadi refleksi untuk kembali meneguhkan spirit membaca, baik membaca Al-Qur’an, membaca ilmu pengetahuan, maupun membaca realitas sosial yang ada di sekitar kita.
Sebab pada akhirnya, kebangkitan suatu umat tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh sejauh mana umat tersebut menghargai ilmu pengetahuan.
Dan semuanya bermula dari satu kata yang sangat sederhana namun sangat mendasar: Iqra’ (Bacalah).
Makassar, 17 Ramadhan 1447 H