BM Bergerak

Nuzulul Qur’an: Ketika Langit Mengirim Pesan, Tapi Kita Sibuk Membaca Notifikasi

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

Nuzulul Qur’an: Ketika Langit Mengirim Pesan, Tapi Kita Sibuk Membaca Notifikasi

Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd

Suara Perjuangan Makassar – Setiap tanggal 17 Ramadhan, kita memperingati Nuzulul Qur’an—peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril di Gua Hira, dekat Mekkah.

Kalau dipikir-pikir, ini peristiwa besar sekali. Langit benar-benar mengirim “pesan resmi” kepada bumi. Bukan broadcast biasa, tapi wahyu langsung dari Allah. Bukan sekadar motivasi, tapi pedoman hidup manusia sampai kiamat.

Masalahnya, pesan itu masih ada sampai hari ini. Kitabnya masih utuh. Ayatnya masih lengkap. Bahkan aplikasinya sudah ada di HP.

Tapi ironisnya, yang sering kita baca justru notifikasi.

Begitu HP berbunyi: ting!

Langsung refleks dibuka.

Begitu mushaf Al-Qur’an di meja:

Refleks juga… ditutup lagi.

Beginilah kadang cara kita memperingati Nuzulul Qur’an. Diperingati dengan meriah, tapi pesannya sering lewat begitu saja.

Wahyu Pertama: Perintah Membaca

Ketika wahyu pertama turun, kata yang muncul bukan “kumpulkan harta”, bukan “perbanyak jabatan”, bahkan bukan “bangun kerajaan”.

Yang turun justru satu kata yang sangat sederhana: Iqra’ — Bacalah.

Ayat itu terdapat dalam Surah Al-‘Alaq.

Artinya jelas. Islam dibangun di atas ilmu.

Tapi kita kadang unik. Kita membaca banyak hal setiap hari, *kecuali yang paling penting*.

Kita membaca status orang.

Membaca komentar netizen.

Membaca gosip artis.

Membaca diskon marketplace.

Yang tidak sempat dibaca justru kitab yang turun dari langit.

Padahal Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah manual kehidupan.

Kalau beli kulkas ada buku panduannya.

Kalau beli motor ada manualnya.

Masa manusia—makhluk paling kompleks—tidak punya panduan?

Allah menurunkan Al-Qur’an agar manusia tidak tersesat dalam hidup.

Kitab yang Sering Dimuliakan… Tapi Dijauhkan

Ada fenomena menarik di rumah-rumah Muslim.

Al-Qur’an sering ditempatkan di tempat paling tinggi. Disampul rapi. Kadang dibungkus kain yang indah.

Saking dimuliakannya… sampai jarang disentuh.

Seperti tamu agung yang datang ke rumah, tapi kita suruh duduk di ruang tamu, lalu kita tinggal nonton TV di ruang keluarga.

Padahal Al-Qur’an turun bukan untuk dipajang. Ia turun untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan.

Ironisnya lagi, kadang kita lebih hafal lirik lagu daripada ayat Al-Qur’an.

Kalau lagu diputar dua kali, langsung hafal.

Tapi kalau ayat dibaca dua kali, kita berkata:

“Wah, susah sekali menghafalnya.”

Padahal yang sulit bukan ayatnya.

Yang sulit adalah meluangkan hati untuknya.

Al-Qur’an dan Kehidupan Modern

Di zaman modern ini, manusia punya banyak sekali teknologi.

HP pintar.

Internet cepat.

Artificial intelligence.

Tapi anehnya, semakin canggih teknologi, semakin banyak orang kehilangan arah hidup.

Stress meningkat.

Depresi meningkat.

Konflik meningkat.

Kenapa?

Karena manusia punya alat yang canggih, tapi kehilangan kompas kehidupan.

Al-Qur’an sebenarnya adalah kompas itu.

Ia berbicara tentang keadilan ketika dunia penuh ketimpangan.

Ia berbicara tentang kesabaran ketika manusia mudah marah.

Ia berbicara tentang syukur ketika manusia selalu merasa kurang.

Bahkan Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa harta bukan tujuan hidup.

Kalau harta segalanya, orang kaya pasti paling bahagia.

Tapi kenyataannya tidak selalu begitu.

Karena yang menenangkan hati bukan saldo rekening, tapi kedekatan dengan Allah.

Ramadhan: Bulan Kembali ke Al-Qur’an

Allah menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.

Artinya Ramadhan bukan hanya bulan lapar dan haus.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.

Itulah sebabnya para ulama dulu sangat dekat dengan Al-Qur’an di bulan ini.

Ada yang mengkhatamkan setiap tiga hari.

Ada yang setiap tujuh hari.

Ada yang setiap malam.

Sementara kita?

Target Ramadhan kadang hanya satu:

“Yang penting kuat sampai maghrib.”

Padahal Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tapi memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Setiap Nuzulul Qur’an sebenarnya ada satu pertanyaan sederhana yang harus kita jawab dengan jujur:

Apakah Al-Qur’an sudah menjadi petunjuk hidup kita, atau hanya menjadi hiasan lemari kita?

Karena Al-Qur’an tidak akan mengubah hidup seseorang yang hanya menjadikannya pajangan.

Ia baru mengubah hidup ketika dibaca, dipahami, dan diamalkan.

Bayangkan kalau setiap Muslim membaca Al-Qur’an 10 menit saja setiap hari.

Tidak perlu langsung jadi ulama.

Cukup satu ayat dipahami.

Satu pesan diamalkan.

Dunia ini mungkin akan sedikit lebih damai.

Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa Allah pernah “mengirim pesan” kepada manusia.

Pesan itu masih ada sampai hari ini.

Tidak berubah.

Tidak berkurang.

Tidak rusak.

Yang sering berubah justru perhatian kita.

Kita sibuk membaca segala hal, kecuali yang paling penting.

Maka Ramadhan ini, mungkin kita perlu membuat resolusi sederhana:

Kurangi sedikit membaca notifikasi.

Tambahkan sedikit membaca Al-Qur’an.

Karena ketika manusia kembali kepada Al-Qur’an, sebenarnya ia sedang kembali menemukan arah hidupnya.

Dan siapa tahu, dari satu ayat yang kita baca malam ini…

Allah memperbaiki seluruh perjalanan hidup kita.

Wallahu A’lam

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

To Top