Artikel

Tamu Agung Itu Sudah Siap Untuk Pergi

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

TAMU AGUNG ITU SUDAH BERSIAP PERGI

Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd

( Ketua BAZNAS Kota Makassar )

Suara Perjuangan Makassar – Ramadhan itu seperti tamu agung. Datangnya dinanti, kehadirannya dimuliakan, tapi anehnya… perginya sering kita biarkan tanpa rasa kehilangan.

Padahal baru kemarin rasanya kita berkata, “Marhaban ya Ramadhan.” Masjid ramai. Mushaf Al-Qur’an kembali dibuka. Doa-doa panjang kembali dipanjatkan.

Namun hari ini… tamu agung itu sudah mulai merapikan koper. Ramadhan seolah berdiri di depan pintu, menoleh kepada kita dan bertanya pelan: “Wahai hamba Allah… apa yang kau bawa dariku?”

Apakah kita membawa taqwa, atau hanya membawa kenangan buka puasa bersama? Apakah kita membawa air mata taubat, atau hanya membawa foto-foto Ramadhan?

Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Bukan sekadar sahur dan buka. Tujuan Ramadhan adalah lahirnya manusia yang lebih bertakwa.

Bayangkan… kalau Ramadhan bisa berbicara. Ia mungkin berkata:

“Aku sudah datang kepadamu sebulan penuh.”

“Aku bangunkan kamu di waktu sahur.”

“Aku ajak kamu berdiri di malam tarawih.”

“Aku bisikkan kepadamu untuk bersedekah.”

“Aku pertemukan kamu dengan malam Lailatul Qadr.”

Tapi… apakah kamu berubah setelah aku datang?

Saudaraku…

Ada orang yang menangis karena Ramadhan pergi..Bukan karena makan siangnya kembali, tapi karena takut amalnya tidak diterima. Para sahabat Nabi bahkan berdoa enam bulan setelah Ramadhan agar amal Ramadhan mereka diterima oleh Allah.

Karena mereka tahu…

Yang paling penting bukan Ramadhan kita jalani, tapi Ramadhan kita diterima.

Ada kisah yang sering diceritakan oleh para ulama.

Suatu hari seorang ulama melihat muridnya tertawa menjelang akhir Ramadhan. Ia bertanya, “Kenapa engkau tertawa?” Murid itu menjawab, “Sebentar lagi lebaran, guru.”

Ulama itu berkata pelan, “Kalau engkau tahu siapa yang amalnya diterima dan siapa yang ditolak, mungkin engkau tidak akan tertawa… tapi menangis.”

Saudaraku…

Ramadhan itu seperti sekolah ruhani. Sebulan kita dididik. Kita belajar: Menahan diri dari yang haram. Menundukkan hawa nafsu. Melembutkan hati dengan Al-Qur’an. Membuka tangan dengan sedekah

Pertanyaannya sekarang:

Apakah kita lulus… atau hanya ikut sekolahnya saja?

Ramadhan hampir pergi.

Tapi semoga ruh Ramadhan tidak ikut pergi. Kalau selama Ramadhan kita rajin shalat berjamaah… jangan berhenti. Kalau selama Ramadhan kita rajin membaca Al-Qur’an… jangan tutup mushafnya. Kalau selama Ramadhan kita ringan bersedekah… jangan tiba-tiba dompet kita sakit setelah lebaran.

Karena tanda Ramadhan diterima adalah kebaikan yang terus berlanjut setelahnya.

Para ulama berkata:

“Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan berikutnya.”

Saudaraku…

Ramadhan memang akan pergi. Tapi semoga ia pergi sambil membawa kabar baik ke langit. Seolah ia berkata kepada Allah: “Ya Allah… hamba-Mu ini memang tidak sempurna.”

“Tapi ia berusaha.” “Ia datang ke masjid.” “Ia membuka Al-Qur’an.” “Ia menahan dirinya dari dosa.”

Maka semoga Allah menjawab:

“Ampuni dia… dan masukkan dia ke dalam golongan orang yang bertakwa.” Dan semoga ketika Ramadhan benar-benar pergi… kita bukan termasuk orang yang berkata: “Andai saja aku memanfaatkan Ramadhan lebih baik.” Tapi kita termasuk orang yang berkata dengan tenang: “Ya Allah… aku sudah berusaha semampuku.”

Karena bisa jadi…

ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Wallahu A’lam

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

To Top