“Beda Hari, Tetap Satu Hati: Siri’ na Pacce dalam Memaknai 1 Syawal”
Oleh : Raisuljaiz
( Sekretaris DPD BAMUSI Sulsel )
Suara Perjuangan Makassar – Di tanah Bugis Makassar, kita diajarkan sejak kecil tentang siri’ na pacce, tentang harga diri dan empati yang dijaga dengan penuh kehormatan. Nilai itu bukan hanya hidup dalam adat, tapi juga seharusnya tumbuh dalam cara kita beragama. Termasuk saat menyikapi perbedaan penetapan 1 Syawal yang hampir setiap tahun datang menyapa.
Perbedaan ini sebenarnya bukan barang baru. Ia seperti ombak di laut datang silih berganti, tapi tak pernah mengubah luasnya samudera. Ada yang berpegang pada rukyat, ada pula yang meyakini hisab. Keduanya bukan jalan yang saling meniadakan, melainkan dua ikhtiar yang lahir dari kesungguhan memahami ajaran.
Dalam kearifan Bugis Makassar, kita mengenal prinsip sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling menghargai). Nilai-nilai ini seharusnya menjadi penuntun ketika perbedaan itu hadir. Bukan malah memperuncing jarak, apalagi menjatuhkan satu sama lain.
Apa artinya kita berpuasa sebulan penuh, menahan lapar dan amarah, jika pada hari kemenangan justru kita mudah tersulut oleh perbedaan? Bukankah Idul Fitri adalah tentang kembali ke hati yang bersih, mappaccing ati dan menjahit kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang?
Perbedaan 1 Syawal seharusnya menjadi cermin kedewasaan. Bahwa kita tidak selalu harus sama untuk tetap bersama. Bahwa persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan merawat kebersamaan di tengah keberagaman.
Orang Bugis Makassar percaya, kehormatan bukan hanya soal mempertahankan pendapat, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Di situlah pacce bekerja, rasa peduli yang membuat kita enggan melukai, bahkan dalam perbedaan.
Maka, ketika sebagian saudara kita berlebaran lebih dulu, atau justru setelahnya, biarkan itu menjadi ruang untuk saling menghormati. Tidak perlu gaduh, tidak perlu saling menyalahkan. Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: meraih ridha Allah dan kembali ke fitrah.
Beda hari bukan berarti beda hati. Dalam perbedaan, justru kita diuji untuk menjadi manusia yang lebih bijak. Dan dalam kebijaksanaan itulah, kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya.
Masjid Al-Ikhlas Banta-bantaeng Makassar, 30 Ramadhan 1447 H.