Artikel

10 Hari Terakhir Ramadhan: Waktu Upgrade Diri 

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

10 Hari Terakhir Ramadhan: Waktu Upgrade Diri 

Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd

( Ketua BAZNAS Kota Makassar )

Ramadhan itu seperti bulan promo besar-besaran. Semua orang tahu ada diskon pahala. Sedekah dilipatgandakan. Ibadah diperbanyak. Bahkan tidur orang yang puasa saja bisa bernilai ibadah. Pokoknya Ramadhan itu seperti “festival pahala”.

Masalahnya, seperti kebiasaan kita juga, seringkali kita baru sadar promo itu ketika waktunya hampir habis.

Coba lihat kebiasaan kita saat belanja online. Kalau ada promo “Flash Sale 90%”, kita rela begadang. Alarm dipasang. Jam 11 malam sudah siap di depan HP. Begitu jam 12 tepat, langsung klik. Takut kehabisan.

Lucunya, Ramadhan punya “flash sale pahala” yang jauh lebih besar. Bahkan ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Tapi sering kali kita justru mulai “lelah” ketika memasuki 10 hari terakhir.

Masjid mulai longgar. Saf yang dulu rapat, sekarang mulai renggang. Jamaah yang dulu di depan, sekarang mulai pindah ke rumah.

Istilah jamaah tarawih juga berubah. Di awal Ramadhan disebut jamaah full team. Pertengahan jadi jamaah cadangan. Di 10 hari terakhir kadang berubah jadi jamaah hilang tanpa berita.

Padahal justru di sinilah puncak Ramadhan.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki 10 malam terakhir Ramadhan, Nabi Muhammad ﷺ justru semakin meningkatkan ibadahnya. Beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan lebih bersungguh-sungguh dari hari-hari sebelumnya.

Artinya apa?

Kalau Ramadhan itu seperti lomba lari, maka 10 hari terakhir adalah sprint terakhir menuju garis finish.

Masalahnya kita sering terbalik.

Di awal Ramadhan kita semangat luar biasa. Tarawih full. Tadarus rajin. Sedekah lancar.

Masuk pertengahan mulai biasa saja.

Masuk 10 hari terakhir… malah sibuk memikirkan kue lebaran, baju baru, dan tiket mudik.

Seolah-olah Ramadhan sudah selesai.

Padahal sebenarnya justru bagian paling berharga dari Ramadhan baru saja dimulai.

Karena di dalam 10 malam terakhir itu ada satu malam yang sangat istimewa: Lailatul Qadar.

Malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Seribu bulan itu kira-kira 83 tahun lebih. Bayangkan… satu malam ibadah bisa bernilai seperti ibadah selama puluhan tahun.

Kalau ada bank menawarkan investasi seperti ini, orang pasti antre dari subuh.

Tapi karena ini “investasi akhirat”, kadang kita santai.

Padahal Ramadhan sebenarnya seperti waktu upgrade diri.

Kalau HP kita sering update aplikasi, manusia juga perlu update iman.

Masalahnya, HP kalau tidak di-update biasanya akan muncul notifikasi.

“Update tersedia.”

Iman kita juga sebenarnya sering memberi notifikasi.

Kadang lewat rasa gelisah. Kadang lewat rasa kosong di hati. Kadang lewat rasa bersalah setelah melakukan kesalahan.

Itu tanda bahwa hati kita butuh upgrade.

Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukannya.

Apalagi di 10 hari terakhir.

Inilah saatnya memperbaiki hubungan dengan Allah.

Memperbanyak istighfar.

Memperbanyak doa.

Memperbanyak sedekah.

Memperbanyak shalat malam.

Karena bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita.

Kalimat ini sering kita dengar. Tapi jarang kita renungkan.

Setiap tahun ada orang yang Ramadhan tahun lalu masih bersama kita. Tarawih bersama kita. Tadarus bersama kita.

Tahun ini mereka sudah tidak ada.

Artinya suatu saat nanti akan tiba giliran kita.

Karena itu 10 hari terakhir Ramadhan sebenarnya bukan sekadar penutup.

Ini adalah kesempatan emas terakhir untuk memperbaiki diri sebelum Ramadhan pergi.

Kalau di dunia kita selalu ingin upgrade rumah, upgrade mobil, upgrade HP…

Maka 10 hari terakhir Ramadhan adalah waktunya upgrade iman.

Upgrade sabar.

Upgrade syukur.

Upgrade kepedulian.

Dan tentu saja upgrade amal.

Karena pada akhirnya yang akan menemani kita di kubur bukan saldo rekening, bukan jabatan, bukan gelar.

Yang menemani kita hanyalah amal.

Maka sebelum Ramadhan benar-benar pergi, jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal.

Karena Ramadhan sebenarnya bukan datang setiap tahun.

Ramadhan datang hanya untuk orang-orang yang masih diberi umur oleh Allah.

Jadi kalau kita masih sampai di 10 hari terakhir Ramadhan, itu artinya Allah masih memberi kesempatan.

Kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kesempatan untuk menambah pahala.

Kesempatan untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Karena itu jangan sampai kita sibuk menyiapkan hari raya, tapi lupa menyiapkan hari kembali kepada Allah.

Mari jadikan 10 hari terakhir Ramadhan ini benar-benar sebagai waktu upgrade diri.

Perbanyak ibadah.

Perbanyak doa.

Perbanyak sedekah.

Semoga kita semua termasuk orang yang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar.

Aamiin.

Makassar, 21 Ramadhan 1447 H/ 11 Maret 2026 M

Wallahu A’lam

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

To Top