Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan dengan I’tikaf
Oleh : Raisuljaiz
( Sekretaris DPD Baitul Muslimin Indonesia BAMUSI Sulsel )
Ramadhan tidak hanya menjadi bulan penuh ampunan, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada penghujung bulan suci ini adalah i’tikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
I’tikaf merupakan ibadah dengan cara berdiam diri di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amalan ini dicontohkan oleh Muhammad yang secara konsisten melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai upaya meraih malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah tersebut bagi umat Islam.
Melalui i’tikaf, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, memperbanyak istighfar, serta melakukan shalat malam. Suasana masjid yang tenang menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sekaligus memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Selain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, i’tikaf juga mengajarkan umat Islam untuk sejenak menjauh dari kesibukan dunia. Dalam keheningan malam Ramadhan, seorang hamba diajak untuk merenungi perjalanan hidupnya, memperkuat keimanan, serta menata kembali niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan diyakini menyimpan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah pada malam-malam tersebut.
Dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan melalui i’tikaf, diharapkan setiap Muslim dapat meraih keberkahan, ampunan, serta kesempatan meraih Lailatul Qadar. Ibadah ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan kehidupan, selalu ada ruang untuk kembali mendekat kepada Sang Pencipta dan memperbaiki diri.
Makassar, 20 Ramadhan 1447 H