Artikel

Dahsyatnya Energi 20 Ribu

Kultum (Kuliah Terserah Antum)

Dahsyatnya Energi 20 Ribu

Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd

( Ketua BAZNAS Kota Makassar )

Hari raya Idul Fitri itu unik. Ada orang yang dari subuh sudah sibuk menyetrika baju. Ada yang sibuk mencari peci yang kemarin entah ditaruh di mana. Ada juga yang sibuk memastikan posisi sandal nanti tidak terlalu jauh dari pintu masjid. Pengalaman mengajarkan, kalau salah parkir sandal, pulangnya bisa pakai sandal yang “lebih modern”.

Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu momen yang sering lewat begitu saja: kotak infak Idul Fitri.
Kotaknya biasanya lewat dengan tenang. Tidak teriak. Tidak memaksa. Tidak pakai pengeras suara. Dia hanya lewat… pelan… sambil berharap ada tangan-tangan yang tergerak.
Kadang yang masuk recehan. Kadang uang yang sudah agak kusut karena lama di dompet. Kadang juga ada yang pura-pura sibuk merapikan sajadah ketika kotaknya lewat.

Padahal kalau dipikir-pikir, Idul Fitri itu hari paling “kaya” bagi banyak orang. Baju baru ada. Sepatu baru ada. Amplop lebaran untuk anak-anak juga sudah disiapkan. Tapi sering kali kotak infak hanya dapat “sisa perhatian”.

Padahal, bayangkan sejenak kalau kita membuat satu gerakan sederhana. Setiap jamaah yang shalat Idul Fitri memasukkan infak 20 ribu rupiah. Tidak besar. Bahkan mungkin lebih kecil dari harga parkir di beberapa tempat wisata.

Tapi coba kita hitung dengan logika sederhana. Kalau satu masjid dihadiri 1.000 jamaah, dan masing-masing memasukkan 20 ribu, maka terkumpul 20 juta rupiah. Masjid yang lebih besar, dengan 3.000 jamaah, bisa mengumpulkan 60 juta rupiah.

Kalau dalam satu kota seperti Makassar ada lebih1000 masjid melakukan hal yang sama? Bayangkan energinya.
Dana umat yang terkumpul bisa mencapai miliaran rupiah hanya dari satu pagi: pagi Idul Fitri.
Dan semuanya dari angka yang kelihatannya kecil: 20 ribu.
Inilah yang sering kita lupakan.

Umat ini sebenarnya bukan miskin energi kebaikan.
Kadang kita hanya belum menyatukan gerak.
Kalau umat ini bergerak bersama, angka kecil bisa berubah menjadi kekuatan besar.

Seperti air hujan. Satu tetes tidak terasa. Tapi jutaan tetes bisa memenuhi waduk. Begitu juga infak. Dua puluh ribu dari satu orang mungkin kecil. Tapi dua puluh ribu dari ribuan orang adalah energi umat.

Energi untuk: membantu fakir miskin, membiayai pendidikan anak yatim, memperbaiki masjid, mendukung dakwah, dan menolong yang sedang kesulitan

Dan yang menarik, semua itu bisa terjadi tanpa membebani siapa pun. Karena 20 ribu itu ringan. Ringan di dompet. Tapi berat di timbangan pahala.

Kadang kita lupa satu hal sederhana, Allah tidak menilai besar kecilnya angka, tapi keikhlasan dan kebersamaan umat.

Bayangkan kalau setiap Idul Fitri ada satu tradisi baru. Bukan hanya tradisi memakai baju baru. Tapi juga tradisi.“Infak 20 ribu saat shalat Id.”

Sederhana, tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu spanduk yang rumit. Cukup satu kalimat pengingat sebelum shalat:
“Bapak ibu, mari kita hidupkan energi umat. Hari ini kita infak minimal 20 ribu.” Selesai. Tidak memaksa. Tidak menekan.
Tapi kalau umat bergerak bersama, dampaknya luar biasa.

Kadang umat ini tidak kekurangan orang baik.
Yang kurang hanya gerakan kecil yang menyatukan kebaikan itu. Karena sering kali yang besar itu bukan berasal dari sesuatu yang besar. Tapi dari kebaikan kecil yang dilakukan bersama-sama.

Jadi kalau nanti kotak infak lewat saat shalat Idul Fitri, jangan buru-buru merapikan sajadah. Masukkan saja 20 ribu.
Anggap saja itu tanda syukur setelah sebulan puasa.

Karena boleh jadi, dua puluh ribu yang kita masukkan hari itu bukan sekadar uang..Tapi bagian dari energi besar umat yang sedang dibangun bersama.

Dan siapa tahu, dari kotak infak sederhana di pagi Idul Fitri itu, lahir banyak kebaikan yang terus mengalir… bahkan setelah gema takbir selesai berkumandang.

Wallahu A’lam

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

To Top