BM Bergerak

PDI Perjuangan Sulsel Gelar Dialog Publik Hadirkan Rektor UIN Alauddin dan Ketua NU Makassar

Makassar – Kegiatan Bulan Bung Karno yang dilaksanakan oleh DPD PDI Perjuangan Sulsel Gelar Dialog Publik dengan tema “Pancasila Tak Lekang Oleh Waktu” dan Sub Tema “Tantangan Pancasila” bertempat di Warunk Upnormal Jl. A. Djemma Makassar.

H. Ridwan A. Wittiri Ketua DPD PDI Perjuangan Sulsel dalam sambutannya menjelaskan bahwa peringatan Bulan Bung Karno kira laksanakan ditengah wabah Covid 19, yang menguji daya juang kita sebagai bangsa, menguji pengorbanan kita, menguji kesabaran kita, menguji ketenangan kita dalam mengambil langkah kebijakan strategis dengan cepat.

Dalam menghadapi semua ujian tersebut, kita bersyukur bahwa Pancasila sebagai warisan luhur Bung Karno, tetap menjadi penjuru untuk menggerakkan persatuan kita, persaudaraan kita dan kegotongroyongan kita didalam mengatasi semua tantangan yang ada, ungkap ARW.

Didalam kegiatan dialog ini, tiga narasumber dihadirkan dengan latar belakang profesi yang berbeda.

Iqbal Arifin sebagai narasumber pertama, menjelaskan secara detail bagaimana proses lahirnya Pancasila sebagai ideologi negara, falsafah hidup berbangsa dan bernegara.

Prinsip dasar dan nilai-nilai Pancasila dan tantangan kedepan adalah adanya proses globalisasi bisa mempengaruhi nilai dan prinsip tersebu, oleh karena itu bagaimana Pancasila ini tetap eksis di tengah perkembangan zaman, ujarnya.

Terkait dengan tantangan Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, Ikbal yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan sekaligus sebagai guru kader partai, menekankan bahwa ideologi Pancasila akan akan tetap kuat dan kokoh karena sejalan dan senafas dengan kultur budaya bangsa.

Sementara itu, Dr. KH. Kaswad Sartono Ketua NU Kota Makassar mengutarakan bahwa Pancasila diajarkan di seluruh pesantren NU, bahkan selain menghafal Pancasila dengan teks Indonesia, kita juga menghafalnya dengan memakai bahasa Arab.

Ia mengungkapkan, NU menerima Pancasila sebagai dasar NKRI. Menurutnya, dalam NU, negara bagian dari Islam.

“Cinta tanah air itu sebagian dari iman. Kalau ada orang yang tidak cinta tanah airnya itu keimanannya belum sempurna,” ungkapnya.

Ia memaparkan, terkait dengan Indonesia dalam kehidupan berbangsa, harus dibedakan antara beragama dan berbangsa.

“Ada pikiran yang sering muncul dipermukaan, pilih mana Alqur’an atau Pancasila. Itu pikiran yang menyesatkan, tidak mungkin Al-Qur’an disejajarkan dengan pancasila.

Karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah, sedangkan pancasila adalah aset pemikiran kader-kader terbaik bangsa yang mengambil dari intisari kehidupan dari Sabang sampai Merauke.

Dr. Kaswad juga menjelaskan proses lahirnya Pancasila yang tidak bisa dipisahkan dengan ulama terkhusus ulama dari NU dengah tokohnya KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasyim Asy’ari.

“Jangan pernah ragu, selama ada NU maka Pancasila akan tetap menjadi ideologi negara, ucapnya.

Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. Hamdan Juhanis menjelaskan bahwa Pancasila tak lekang oleh waktu karena dia sebagai dogma atau nilai hidup ditengah masyarakat. Pancasila bersifat universal dan juga bisa berfungsi sebagai alat kompromi ditengah kemelut persoalan yang ada.

Sementara tantangan Pancasila itu antara lain terjadinya pendangkalan Pancasila.

Untuk mengawasi persoalan tersebut, keberadaan BPIP harus sampai ke daerah, dan juga ormas seperti NU dan Muhammadiyah diberi ruang untuk terus bergerak dalam mensosialisasikan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, dan yang terpenting bagaimana tokoh Pancasila dihidupkan kembali ke ruang-ruang publik.

Tampil sebagai moderator pads kegiatan dialog ini Sekretaris DPD BMI Sulsel Raisuljaiz. (*)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Most Popular

To Top