Site icon SUPERMAKSS.com

Hasto Kristianto Hadir di UNHAS Beri Kuliah Umum Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Keamanan

SUPERMAKSS.COM – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto hari ini Kamis 28 Juli 2022 memberikan kuliah umum dengan judul Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya Terhadap Pertahanan Keamanan Negara dihadapan Rektor dan civitas akademika Universitas Hasanuddin.

Mengawali pemaparannya Hasto menjelaskan bagaimana Geopolitik ini penting, di bulan Juni 2018 yang lalu ada pertemuan antara Presiden Amerika  Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un di Singapura, sebagai anak bangsa, saya sangat terusik dengan pertemuan ini, bukankah Singapur sebenarnya itu dulu disebut sebagai temasek, bukankah Gajahmada ketika mengambil Sumpah Palapa itu menjadi bagian dari wilayah Majapahit, bukankah sejarah Nusantara yang namanya Sriwijaya telah membangun kepeloporan peradaban dunia, sehingga disana  ada seorang namanya Dharmakitri seorang Budha dengan teorinya “Masa Lalu,  Sekarang dan masa depan itu linear”, kemudian di Nusantara ini dengan posisi Geopolitiknya strategis menjadi sintesa dari seluruh peradaban dunia, seluruh agama-agama besar masuk dan hebatnya, berbagai persoalan-persoalan agama diselesaikan dibumi Nusantara.

Konsolidasi Partai di Sulsel, Sekjen PDIP Minta Kader Jalankan Api Semangat 27 Juli

Rapim DPD PDI Perjuangan Sulsel, Hasto : Banyak Negara Merdeka Karena Pancasila

Lebih lanjut Doktor Ilmu Pertahanan, Hasto Kristiyanto, menyatakan Sulawesi Selatan (Sulsel) harus dibangun dengan berdasar pemahaman geopolitik, khususnya menyangkut strategisnya Selat Makassar.

Dijelaskan Hasto, posisi Selat Makassar sangatlah strategis dan penting. Dengan akan dibangunnya ibukota negara Indonesia di Kalimantan Timur, maka Selat Makassar berada dalam koridor segaris. Selat ini menjadi pintu yang menghubungkan ke Utara sampai ke Samudera Pasifik.

Seandainya terjadi perang di Laut Tiongkok Selatan, maka Selat Makassar berperan sangat penting. Maka Universitas Hasanuddin harus membangun kesadaran terhadap masa depan, apa titik titik strategis yang harus dikembangkan dalam konteks konektografi, yang harus kita bangun dalam konteks geopolitik Soekarno.

Hasto lalu mengingatkan bahwa orang-orang Sulawesi adalah bangsa pelaut. Penelitian menemukan, selain Kapten James Cook, sekitar tahun 1700-an, sekelompok pelaut dan saudagar dari suku-suku maritim Nusantara yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, menggunakan kapal Pinisi, mendarat di Arnhem Land, pantai utara Australia.

“Jejak sejarah pelaut Makassar ini terlihat dalam karya seni suku Yolngu hingga saat ini. Suku Bugis dan Suku Makasar dikenal sebagai pelaut asli Nusantara yang sangat tangguh,” kata Hasto.

Hasto lalu menyinggung peran Perguruan Tinggi di Sulsel dan mahasiswanya agar bisa merespons keadaan itu. Yang pertama adalah akademisi harus memperkuat penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, lewat perbanyakan riset dan inovasi.

Kampus juga harus bisa melakukan kaderisasi kepemimpinan mahasiswa.

“Universitas mempersiapkan seluruh aspek kepemimpinan nasional dengan membangun kesadaran cara pandang geopolitik dalam mendayagunakan seluruh potensi instrument of national power bagi ketahanan nasional, kemajuan pembangunan, dan pertahanan negara Indonesia,” kata Hasto.

Menurutnya “Perguruan Tinggi harus menjadi salah satu motor penggerak kemajuan. Perguruan Tinggi menjadi pelopor tindakan yang bersifat progresif revolusioner dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi melalui riset dan inovasi yang berpihak pada kemajuan bangsa,” beber Hasto.

Kepada para mahasiswa, Hasto mengajak agar memperkuat dirinya dan berimajinasi tentang masa depan dirinya dan Indonesia.

“Tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa membaca buku, tiada hari tanpa diskusi, tiada hari tanpa melakukan riset dan inovasi,” tegas Hasto.

Sementara itu, Rektor Unhas Prof.Dr. Jamaluddin Jompa mengatakan bicara geopolitik sangat relevan. Apalagi semua tahu bahwa beberapa bulan terakhir, dunia menghadapi sesuatu yang mencemaskan terkait perang Rusia-Ukraina.

“Maka sebagai bangsa kita harus lebih kuat,” kata Jamaluddin dalam pidatonya saat pembukaan kuliah umum itu.

“Geopolitik harus jadi pemahaman bersama, sehingga ilmu-ilmu lain juga setidaknya harus belajar geopolitik. Sehingga bisa ikut menentukan arah bangsa kita,” tambahnya.

Menurutnya, belajar geopolitik bukan hanya belajar soal sejarah bangsa atau pertahanan negara semata. Namun juga soal kesejahteraan rakyat, hingga berbagai hal terkait lainnya.

Di acara itu, ratusan mahasiswa dan civitas akademika Unhas hadir. Selain itu, hadir juga civitas akademika dari Universitas Negeri Makassar, Politeknik Negeri Makassar, dan Universitas Pertahanan RI. Turut hadir sejumlah kepala daerah dan anggota DPR/DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP). Tampak hadir juga Ketua DPD PDIP Sulsel Ridwan Andi Wittiri dan Sekretarisnya Rudi Pieter Goni dan Ketua DPP PDIP Rokhmin Dahuri. (*)

 

Exit mobile version