Oleh: Dr. H.M. Azhar Tamanggong, M.Ag.
(Ketua BAZNAS Kota Makassar)
Setiap tahun, menjelang Ramadhan, ada satu pertanyaan sakral yang lebih viral dari promo sirup dan diskon kurma: “Mulai kapan puasanya?”
Sebagian sudah tarawih tadi malam. Sebagian lagi masih santai sambil berkata, “Tunggu pengumuman resmi.” Ada yang sudah pasang status “Marhaban ya Ramadhan,” ada pula yang masih bercanda, “Besok masih makan siang, ya.”
Begitulah kita. Umat yang besar. Saking besarnya, masuk bulan yang sama saja kadang beda pintu.
Padahal Ramadhan itu satu. Bulannya satu. Qur’annya satu. Tuhannya satu. Tapi cara masuknya… bisa dua bahkan tiga.
Lucunya, yang belum tentu rutin shalat Subuh berjamaah, mendadak jadi pakar rukyat dan hisab. Yang biasanya tidak pernah ke masjid kecuali Idul Fitri, tiba-tiba menjadi analis hilal dadakan. Linimasa penuh perdebatan astronomi, seolah-olah badan antariksa dunia perlu konfirmasi ke grup WhatsApp keluarga.
Di sinilah kita sering lupa: Ramadhan bukan lomba siapa paling cepat masuk. Juga bukan kompetisi siapa paling benar memulai.
Ramadhan bukan soal tanggal. Ramadhan adalah soal hati.
Kalau hati belum siap, mau mulai hari ini atau besok, tetap saja kosong.
Kalau hati masih penuh dengki, beda sehari pun tidak akan membuatnya bersih.
Kalau hati masih pelit, beda metode tidak otomatis membuatnya dermawan.
Kita kadang begitu bersemangat memperdebatkan awal bulan, tapi tidak terlalu bersemangat memperbaiki akhlak. Untuk beda satu hari kita bisa panjang diskusi. Untuk beda karakter, kita sering tak peduli.
Padahal yang lebih berbahaya bukan beda mulai puasanya. Yang lebih berbahaya adalah sama-sama masuk Ramadhan, tapi tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam jiwa.
Ada yang mulai hari ini, tapi niatnya masih setengah.
Ada yang mulai besok, tapi hatinya masih menyimpan iri.
Allah tidak akan bertanya, “Kamu mulai tanggal berapa?”
Yang ditanya nanti adalah, “Apa yang kamu lakukan selama Ramadhan?”
Jika jujur, problem kita bukan beda awal. Problem kita adalah beda niat.
Sebagian masuk Ramadhan dengan niat kurus.
Sebagian lagi niat balas dendam makan saat buka.
Sebagian niat konten.
Sebagian niat pamer ibadah.
Jarang sekali yang masuk dengan kesadaran, “Ya Allah, ini mungkin Ramadhan terakhirku.”
Setiap tahun kita sibuk melihat hilal di langit, tapi jarang melihat umur yang terus menipis. Jangan-jangan ini Ramadhan terakhir, namun kita malah sibuk memperdebatkan pintu masuknya.
Bayangkan nanti di kubur, malaikat tidak akan bertanya, “Kamu ikut yang mana?”
Yang ditanya adalah, “Puasa kamu bagaimana? Shalat kamu bagaimana? Zakat kamu bagaimana?”
Beda awal tidak pernah membatalkan pahala. Tapi hati yang sombong bisa menghapusnya.
Yang mulai duluan jangan merasa lebih suci.
Yang mulai belakangan jangan merasa paling benar.
Karena Ramadhan bukan tentang siapa paling cepat. Ramadhan tentang siapa paling taat.
Ramadhan itu sekolah. Dan sekolah tidak pernah bertanya, “Kamu masuk lewat gerbang mana?” Yang ditanya adalah, “Nilaimu berapa?”
Nilai sabar.
Nilai ikhlas.
Nilai sedekah.
Nilai menahan marah.
Kalau perbedaan awal membuat kita saling mencela, berarti kita belum memahami tujuan puasa. Puasa adalah latihan menahan diri. Termasuk menahan diri untuk tidak merasa paling benar.
Mungkin Allah melihat hamba-hamba-Nya dengan cara yang lebih dalam daripada sekadar kalender. Ada yang sudah sahur. Ada yang masih tidur nyenyak. Tapi Allah tahu siapa yang benar-benar rindu.
Karena yang paling penting bukan tanggal di kalender, melainkan getar di dada.
Mau mulai hari ini atau besok, pertanyaannya hanya satu:
Apakah kita benar-benar ingin berubah?
Atau Ramadhan hanya menjadi ritual tahunan—datang, ramai, lalu pergi tanpa bekas?
Jangan sampai kita seperti orang yang ribut memilih pintu masuk masjid, tetapi setelah masuk justru tertidur.
Kalau kita berbeda memulainya, jangan berbeda dalam persaudaraan.
Kalau kita berbeda metodenya, jangan berbeda dalam doa.
Sebab di malam pertama itu, di antara takbir dan doa, semua hati sejatinya sama: berharap ampunan.
Barangkali justru perbedaan ini mengajarkan satu hal penting:
Persatuan tidak selalu berarti seragam.
Persatuan adalah kemampuan untuk tetap saling menghormati walau tidak sama.
Akhirnya, beda awal Ramadhan itu biasa.
Yang luar biasa adalah jika kita bisa keluar dari Ramadhan dalam keadaan berbeda—lebih baik, lebih lembut, lebih dermawan, lebih dekat kepada Allah.
Kalau setelah sebulan kita masih sama saja, itulah masalah yang sesungguhnya.
Jadi, mau mulai hari ini atau besok, pastikan kita mulai dengan hati yang bersih. Karena bisa jadi… ini Ramadhan terakhir kita. Dan alangkah ruginya jika Ramadhan terakhir dihabiskan untuk memperdebatkan tanggal, bukan memperbaiki akhlak.
Selamat memasuki Ramadhan—kapan pun kita memulainya.
Yang penting, jangan hanya berbeda di awal.
Berbedalah dalam kualitas takwa.
Wallahu a’lam.
Graha Anisa Permai,1 Ramadhan 1447 H