Kultum (Kuliah Terserah Antum)
Jangan kejar Lailatul Qadr, kejarlah yang menciptakan Lailatul Qadr
Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd
( Ketua BAZNAS Kota Makassar )
Setiap Ramadhan, ada satu malam yang mendadak jadi selebritas. Namanya sering disebut, waktunya diperdebatkan, tandanya diburu, bahkan ciri-cirinya dianalisis seperti detektif spiritual. Malam itu disebut Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang membuat orang rela begadang, memaksa mata terbuka, dan menahan kantuk dengan kopi dan doa yang setengah sadar.
Tidak salah mengejar Lailatul Qadr. Ia memang malam istimewa. Al-Qur’an turun di malam itu. Para malaikat turun membawa rahmat. Ampunan dibuka selebar-lebarnya. Tapi ada satu hal yang sering luput: kita terlalu sibuk mengejar malamnya, sampai lupa mengejar Allah-nya.
Lailatul Qadr itu malam. Ia datang dan pergi. Ia tidak bisa ditahan, tidak bisa dipastikan, tidak bisa dipaksa. Bahkan Nabi pun tidak pernah menunjuk tanggal pasti. Yang ada hanya isyarat: carilah di sepuluh malam terakhir, di malam-malam ganjil. Selebihnya, Allah simpan sebagai rahasia.
Mengapa dirahasiakan? Bisa jadi agar yang dicari bukan malamnya, tapi ketundukan hati.
Masalahnya, sebagian dari kita memperlakukan Lailatul Qadr seperti target tahunan. Seolah-olah jika malam itu terlewat, maka habislah harapan. Kita kejar dengan semangat luar biasa, tapi anehnya semangat itu sering menguap bersama takbir Idul Fitri. Setelah Ramadhan berlalu, sajadah kembali dingin, Qur’an kembali sepi, doa kembali singkat, dan Allah kembali jauh.
Padahal yang memberi nilai “lebih baik dari seribu bulan” itu bukan malamnya. Malam tidak punya kuasa apa-apa. Yang memberi nilai adalah Allah. Yang melipatgandakan pahala adalah Allah. Yang mengampuni dosa adalah Allah. Tanpa Allah, Lailatul Qadr hanyalah malam gelap seperti malam lainnya.
Inilah ironi kita:
kita ingin hadiah, tapi enggan dekat dengan Pemberi hadiah.
Allah berfirman:
“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Perhatikan, Allah tidak mengatakan “carilah tanggalnya”, tapi Allah menjelaskan nilainya. Seakan ingin menegaskan: yang penting bukan kapan, tapi siapa yang engkau datangi di malam itu.
Jika yang dikejar hanya Lailatul Qadr, kita bisa rajin semalam tapi lalai sebelas bulan. Tapi jika yang dikejar adalah Allah, maka setiap malam bisa bernilai, setiap sujud bisa bermakna, dan setiap air mata bisa menjadi doa yang hidup.
Orang yang mengejar Allah tidak menunggu malam tertentu untuk taubat. Ia takut menunda, karena kematian tidak menunggu malam ganjil. Ia tidak menunggu Ramadhan untuk kembali, karena dosa tidak mengenal kalender hijriah. Ia sadar, bisa jadi Ramadhan ini adalah yang terakhir, dan Lailatul Qadr bukan lagi urusannya—karena kubur lebih dekat daripada malam seribu bulan.
Bukankah lebih mengerikan kehilangan Allah daripada kehilangan satu malam?
Kadang kita lupa, Allah tidak hanya “turun” di Lailatul Qadr. Allah dekat setiap saat. Kita saja yang sering menjauh. Kita yang naik-turun iman. Kita yang musiman ibadah. Kita yang rajin saat ramai, lalu lalai saat sepi.
Maka jangan hanya sibuk bertanya,
“Ini malam ke berapa?”
tapi tanyakan dengan jujur,
“Hatiku sudah sejauh apa dari Allah?”
Sebab bisa jadi, seseorang tidak tahu apakah ia bertemu Lailatul Qadr atau tidak, tapi ia wafat dalam keadaan dekat dengan Allah. Dan bisa jadi yang lain merasa “dapat Lailatul Qadr”, tapi hidupnya setelah itu kembali kosong, sombong, dan lupa diri.
Jika Allah sudah kita kejar, Lailatul Qadr bukan lagi tujuan utama—ia hanya bonus. Dan bonus dari Allah selalu datang tepat waktu, bahkan kadang datang tanpa kita sadari.
Maka Ramadhan ini, silakan cari Lailatul Qadr. Tapi jangan berhenti di sana. Kejar Allah sebelum Ramadhan pergi. Kejar Allah sebelum umur habis. Kejar Allah sebelum kesempatan taubat ditutup.
Karena kehilangan satu malam itu menyedihkan.
Tapi kehilangan Allah… itu bencana yang sesungguhnya.
Wallahu A’lam