Kultum (Kuliah Terserah Antum)
Zakat: Dibenci Tapi Dirindu
Oleh : Dr. HM. Azhar Tamanggong, M.Pd
( Ketua BAZNAS Kota Makassar )
Ada satu ibadah yang nasibnya agak unik.
Kalau datang waktunya, sebagian orang agak gelisah. Tapi kalau tidak ada, banyak yang merasa hidupnya kurang berkah. Ibadah itu bernama zakat.
Ketika harta kita sudah mencapai nisab, hati kadang mulai berbisik: “Waduh… ini sudah kena zakat nih.” Padahal kalau gaji naik, kita tidak pernah bilang: “Waduh… gaji saya naik lagi.” Kalau bonus cair, kita juga tidak pernah protes:
“Ya Allah, kenapa Engkau beri bonus sebesar ini?” Tidak pernah. Yang sering muncul justru kalimat seperti ini:
“Zakatnya nanti dulu lah… dihitung lagi… mungkin belum nisab.”
Padahal kalkulator sudah berkali-kali bilang: “Ini sudah wajib.”
Jadi kadang memang terasa begitu: zakat itu seperti dibenci saat dikeluarkan.
Tetapi anehnya…
Kalau hidup mulai terasa sempit, usaha seret, hati tidak tenang, justru yang kita cari lagi adalah… zakat dan sedekah.
Zakat Itu “Dibenci” Karena Mengurangi
Secara matematika sederhana, zakat memang terlihat seperti mengurangi. Misalnya kita punya 100 juta. Keluar zakat 2,5 juta. Kelihatannya berkurang. Makanya sebagian orang menganggap zakat seperti “potongan”.
Padahal dalam logika langit, zakat itu bukan potongan. Zakat itu pembersihan. Seperti orang mandi. Air yang dipakai mandi itu tidak membuat tubuh berkurang. Justru membuat tubuh bersih.
Begitu juga harta. Tanpa zakat, harta bisa jadi kotor secara spiritual. Kotor oleh hak orang lain yang belum kita keluarkan.
Tapi Zakat Juga “Dirindu
Yang menarik, banyak orang yang sudah rutin berzakat justru merasa aneh kalau belum mengeluarkannya. Hatinya tidak tenang. Ada pengusaha pernah berkata: “Kalau belum zakat, saya seperti makan tapi belum cuci tangan.” Tidak nyaman.
Ada juga yang bilang: “Kalau belum sedekah, rasanya rezeki seperti tersendat.”
Ini bukan mitos. Karena zakat memang punya efek spiritual yang luar biasa. Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka.”
Jadi zakat itu bukan hanya membersihkan harta.
Tapi juga membersihkan hati.
Harta Itu Sebenarnya “Minta Dizakati” Coba bayangkan kalau harta bisa bicara. Mungkin dia akan berkata begini: “Wahai tuanku… tolong keluarkan zakatku.” “Kalau tidak, aku bisa berubah jadi bebanmu di akhirat.”
Harta yang dizakati akan menjadi penolong. Tapi harta yang tidak dizakati bisa menjadi penuntut. Makanya dalam banyak kisah, orang yang rajin zakat sering justru merasa rezekinya semakin lapang.
Secara logika manusia mungkin sulit dipahami. Tapi secara logika iman, sangat masuk akal. Karena janji Allah jelas:
Sedekah dan zakat tidak akan membuat miskin. Justru sering membuka pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.
Zakat: Ibadah Sosial yang Menguatkan Umat
Zakat juga punya kekuatan sosial yang luar biasa. Bayangkan jika setiap Muslim yang mampu menunaikan zakat dengan benar. Berapa banyak orang miskin yang terbantu. Berapa banyak anak yatim yang bisa sekolah. Berapa banyak usaha kecil yang bisa bangkit.
Zakat itu bukan sekadar ibadah pribadi. Zakat adalah sistem ekonomi umat. Itulah sebabnya dalam sejarah Islam, pernah ada masa ketika orang kesulitan mencari penerima zakat. Karena masyarakatnya sudah makmur.
Semua itu dimulai dari satu hal sederhana:
orang kaya yang taat menunaikan zakat.
Dibenci Saat Keluar, Dirindu Saat Berkah Datang
Jadi sebenarnya zakat itu seperti obat. Saat diminum, mungkin terasa pahit. Tapi setelah itu badan menjadi sehat.
Begitu juga zakat. Saat uang keluar dari rekening, hati mungkin sedikit bergetar. Tetapi setelah itu sering muncul rasa lega. Rasa ringan. Rasa berkah. Karena kita sadar:
di dalam harta kita ada hak orang lain yang sudah kita tunaikan.
Maka jangan heran kalau zakat sering terasa seperti dibenci tapi dirindu. Dibenci oleh nafsu, tapi dirindu oleh iman. Dibenci saat dikeluarkan, tapi dirindu saat keberkahan datang.
Karena sejatinya zakat bukan sekadar memberi. Zakat adalah cara Allah menjaga harta kita tetap berkah.
Dan di zaman sekarang, agar zakat lebih aman, tepat sasaran, dan bermanfaat luas, menunaikannya melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah langkah yang sangat baik. Supaya zakat kita tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga menjadi kekuatan besar untuk membantu umat.
Jadi kalau tahun ini harta sudah mencapai nisab… Jangan tunggu sampai hati terlalu berat. Karena bisa jadi, yang sedang menunggu zakat itu bukan hanya para mustahik. Tapi juga keberkahan yang sedang mengetuk pintu rezeki kita.
Wallahu A’lam