Makassar – Ada yang berbeda di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, Jalan Muhammad Tahir No. 60. Sejak memasuki halaman kantor, perhatian masyarakat langsung tertuju pada suasana yang dipenuhi ornamen perjuangan. Spanduk bertuliskan “Diam Itu Emas, Bukan Berarti Takut”, “Mega Yes… Congres No…”, hingga dekorasi bertema #KamiTidakLupa memenuhi setiap sudut kantor, memunculkan pertanyaan besar: Ada apa dengan Kantor PDI Perjuangan Makassar?
Ternyata, kantor tersebut sengaja disulap menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus simbol perjuangan untuk memperingati Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, salah satu peristiwa yang dianggap menjadi tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Mengusung tema “Mengenang Peristiwa Kudatuli, Meneguhkan Semangat Perjuangan untuk Demokrasi dan Keadilan bagi Rakyat”, DPC PDI Perjuangan Kota Makassar akan menggelar lima rangkaian kegiatan sekaligus pada Senin, 27 Juli 2026, pukul 19.00 WITA di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Makassar.
Kelima agenda tersebut meliputi Diskusi Publik yang membahas makna dan pelajaran dari Peristiwa Kudatuli, Pameran Foto yang menampilkan dokumentasi sejarah perjuangan, Pentas Teatrikal yang menghidupkan kembali semangat kader PDI pada masa itu, Malam Renungan sebagai penghormatan kepada para pejuang demokrasi, serta instalasi dekorasi bertema perjuangan yang mengubah wajah kantor menjadi ruang refleksi sejarah bagi masyarakat.
Ketua Panitia, Marthen, yang juga menjabat Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPC PDI Perjuangan Kota Makassar, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya merawat ingatan kolektif bangsa terhadap sejarah demokrasi Indonesia.
“Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan bagian penting dari perjalanan demokrasi bangsa. Melalui rangkaian kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh kader, simpatisan, dan masyarakat untuk memahami kembali nilai perjuangan, keberanian mempertahankan demokrasi, serta pentingnya menjaga persatuan. Sejarah harus menjadi pelajaran agar semangat memperjuangkan keadilan dan keberpihakan kepada rakyat tetap hidup di setiap generasi,” ujar Marthen.
Ia menjelaskan, dekorasi yang memenuhi area kantor bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bahwa perjuangan tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.
“Kami ingin menghadirkan suasana yang membawa setiap orang kembali mengingat semangat perjuangan saat itu. Pesan-pesan yang terpampang di kantor merupakan bagian dari narasi sejarah yang mengingatkan bahwa perjuangan demokrasi dibangun melalui keberanian, pengorbanan, dan keteguhan sikap,” tambahnya.
Melalui lima kegiatan tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Makassar berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal Peristiwa Kudatuli sebagai catatan sejarah, tetapi juga memahami nilai-nilai perjuangan, demokrasi, keadilan, serta keberanian menjaga kebenaran sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.